Sabtu, 20 Juli 2024

Kepala Museum Mpu Tantular Cerita Sejarah Batik Jatim

Diunggah pada : 24 November 2023 11:42:56 245
Pameran Temporer Koleksi Museum bertajuk Wastra Tradisional Jawa Timur dalam Konstelasi Perkembangan Batik Nusantara di UPT Museum Negeri Mpu Tantular Provinsi Jawa Timur, Sidoarjo tanggal 24-26 November 2023

Jatim Newsroom - Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Museum Negeri Mpu Tantular yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Edi Supaji, mengenalkan batik Jawa Timur. Ia menerangkan, Pulau Jawa menjadi sentra penghasil batik terbesar di Indonesia. Tak terkecuali dengan Jawa Timur yang dikenal memiliki sederet motif batik yang khas.

Dikatakannya, motif batik Jawa Timur memiliki keunikan dan berbeda dengan motif batik dari daerah lainnya. Keunikan ini menjadikan Jatim dijuluki The United Color of Java.

"Berbeda dengan Batik Yogyakarta ataupun Surakarta yang memiliki aturan atau pakem tertentu pada motif batiknya, motif batik Jawa Timur cenderung lebih bebas dengan motif yang lebih variatif," ujarnya ketika menyampaikan sambutan dalam pembukaan Pameran Temporer Koleksi Museum, Jumat (24/11/2023).

Kegiatan bertajuk Wastra Tradisional Jawa Timur dalam Konstelasi Perkembangan Batik Nusantara ini dilaksanakan selama tiga hari tanggal 24-26 November 2023, di UPT Museum Negeri Mpu Tantular Provinsi Jawa Timur, Sidoarjo.

Dari segi pewarnaan, lanjut Edi, batik Jawa Timur lebih berwarna dan banyak menggunakan warna-warna yang terang seperti merah dan biru muda. Beberapa daerah di Jawa Timur yang terkenal sebagai pusat penciptaan batik di antaranya Tuban dengan batik Gedog, Banyuwangi dengan motif Gajah Oling, Magetan Batik motif Pring Sedapur, Sidoarjo motif Merak, dan sebagainya.

Ia pun menerangkan, kata batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang artinya tulis dan “nitik” atau membuat titik. Proses membatik dilakukan di atas kain menggunakan alat canting yang ujungnya berukuran kecil.

Batik Indonesia, lanjutnya, dikagumi bukan hanya prosesnya yang rumit tapi juga proses kreatif dan waktu pembuatannya yang panjang.

Adapun cikal bakal tradisi batuk di Jawa Timur, kata Edi, setidaknya pada zaman Kediri Abad 12 M. Meskipun menurut J.L. Brandes disebutkan batik telah ada sejak zaman perundagian atau prasejarah. G.P Rouffaer dalam laporannya menyebutkan istilah "Hambatik" pada manuscrip babad sangkala (1663) dan serat panji jayalengkara (1770) dikaitkan dengan cerita panji dari masa Kerajaan Kediri.

"Pada masa Majapahit menurut Kitab Pararaton, konon Raden Wijaya pernah di suatu waktu membagikan lancingan gringsing sebelum berperang. Batik selanjutnya berkembang pasa era zaman islam dengan motif yang berusaha menghindarkan diri dari penggambaran motif makhluk hidup," terangnya.

Maka, kata Edi, museum adalah rumah sekaligus etalase bagi budaya Indonesia. Khususnya Museum Mpu Tantular hadir untuk masyarakat yang berkeinginan untuk mendalami sejarah dan perkembangan batik terutama batik lokal Jawa Timur.

"Saya berharap ke depan museum bisa turut serta mengedukasi masyarakat tentang pelestarian budaya. Masyarakat perlu mengetahui jika setiap orang dan masyarakat hukum adat bisa berperan aktif melakukan kampanye dan pelestarian budaya," pungkasnya. (idc/s)

#Batik #Disbudpar Jatim #Museum Mpu Tantular #wastra