Selasa, 23 April 2024

Diskop UKM Jatim Beri Pelatihan Strategi Modern Meraih Sukses di Bisnis Kopi

Diunggah pada : 8 Februari 2024 17:15:02 24
Pelatihan Strategi Modern Meraih Sukses di Bisnis Kopi. Sumber Foto: Diskop UKM Jatim

Jatim Newsroom – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Timur (Diskop UKM Jatim) menggelar webinar bertajuk “KOPIPRENEURSHIP: Strategi Modern Meraih Sukses di Bisnis Kopi”. 

Mengutip laman Diskop UKM Jatim (8/2/2024), kegiatan tersebut diadakan di Malang Creative Center (MCC) dengan dipandu oleh Pustakawan UPT KUKM Jatim, Dwi Wijatiningsih dengan narasumber Co-founder Wonosantri Abadi, M. Ali Machrus. 

Ali menjelaskan, mengenai strategi modern dalam mengembangkan bisnisnya yaitu bisnis kopi, dengan andalan salah satu produknya yaitu kopi lemar. 

“Dengan adanya Kopipreneurship ini saya berharap dapat menghubungkan bisnis dengan minat dan passion para pelaku usaha kopi yana melibatkan seluruh rantai nilai yang dapat dimulai dari proses pengolahan kopi sehingga dapat menjadi pengalaman konsumen yang autentik,” ujarnya.

Ali menceritakan dirinya baru belajar kopi sekitar 3 tahun ini. Ia juga menjelaskan mengapa dinamakan Wonosantri, “Secara bahasa Wono berarti hutan sedangkan santri adalah seseorang yang memiliki jiwa tentang santri yang diterapkan di Wonosantri itu sendiri,” terang Ali.

Wonosantri pernah mendapatkan penghargaan dari Bupati Malang, dan sebelumnya pada tahun 2022 Wonosantri juga mendapat penghargaan dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. 

“Hal tersebut menjadikan Ibu Gubernur dekat dan kenal dengan Wonosantri karena mempunyai ciri khas yang berbicara mengenai kopi, kelompok tani, dan juga orang-orang bicara mengenai sarung. Ketika kami mengikuti workshop maka kami upayakan dresscodenya menggunakan sarung dan memakai peci ketika menjaga stand, sehingga hal tersebut yang pada akhirnya menjadi ciri khas dari wonosantri. Pada tahun 2022 kami pernah dipanggil ke istana oleh Presiden Jokowi untuk membicarakan mengenai kehutanan sosial,” kisah Ali.

Ali pun mengatakan bahwa alasan bisnis kopi dianggap menjanjikan. “Karena kopi sekarang ini sangat diminati oleh banyak kalangan. Kopi juga bisa menjadi suatu pengekspresian dari budaya, kami mendirikan sebuah komunitas ngopi sak ngajine yang tujuannnya tidak hanya ngopi saja melainkan juga terdapat materi tentang ngaji yang dikupas dengan santai. Kami juga sering mendatangkan pemateri dari BPBD, komisi 4 DPR Provinsi, materinya ngaji tetapi dengan ngopi. Kami juga memperbanyak variasi produk sehingga membuat orang lebih tertarik pada produk kopi,” imbuh Ali.

Tak lupa Ali memberikan tips bagaimana membangun merek kopi yang kuat. Menurutnya hal yang paling utama ditekankan adalah pada kualitas biji, proses pemanggangan serta membangun reputasi yang solid di pasar. Kemudian membangun suatu hubungan emosional dengan konsumen melalui brand story yang autentik. Selanjutnya adalah melakukan suatu kolaborasi strategi untuk memperkuat pasar, jaringan, dan bergerak jauh bersama. 

“Kemitraan kami yang paling awal bernama Amsterdam Coffee and Rostery, ownernya adalah Sak Sitaraj dan beliau mempunyai juri kopi internasional. Tempat tersebut juga menjadi quality control kopi Wonosantri. Di samping itu kami juga bermitra dengan beberapa gerakan kepemudaan Islam dan berkolaborasi juga dengan beberapa kampus,” urai Ali. 

Wonosantri meiliki 3 hak paten yaitu logo kopi lemar, logo Wonosantri, dan logo edukopi. Ali mengklasifikasikan ketika akan melakukan budidaya kopi kita harus bisa membedakan jika kopi ada di bawah 800 mdpl itu disebut dengan kopi robusta, kemudian jika di atas 800 mdpl disebut dengan kopi arabika. 

“Jadi kita harus bisa membedakan karena jika terbalik maka rasanya akan berbeda, hambar, dan kurang kuat. Dapat dikatakan bahwa setiap pembelian bibit itu dari pusat penelitian kopi dan kakao di Jember, yang merupakan pusat penelitian nasional, jenis yang arabika memiliki varietas jenis yaitu adong sari, linies, tipika, komasti, dan lain-lain, sedangkan kopi tersebut akan berbuah maksimal 3 s.d. 4 tahun,” lanjut Ali. 

Di sisi lain banyak sekali strategi yang bisa dilakukan untuk membantu pemasaran kopi seperti melalui media sosial, festival dan kemitraan digital. “Harus bekerja keras, cerdas dan ikhlas. Tidak hanya berwirausaha saja, tetapi juga berdedikasi kepada semua orang agar ilmu yang kita dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain,” tutup Ali. (idc/s)

#Diskop UKM Jatim #bisnis kopi