Jumat, 2 Desember 2022

Panggilan Haji Bagi Mantan Anak Punk Ke Tanah Suci

Diunggah pada : 6 Juni 2022 14:46:10 85
Jamaah Haji, Fatchul Supriyanto, Kloter III saat berada di Asrama Haji Embarkasi Surabaya

Jatim Newsroom - Adalah Fatchul Supriyanto, jamaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 3 tak pernah menyangka dirinya akan menunaikan rukun Islam kelima di usia yang relatif muda. Sulung dari dua bersaudara ini diputuskan menjadi ahli waris pengganti haji bapaknya yang telah wafat setahun lalu.

Kisahnya dituturkan kepada tim liputan Humas PPIH Embarkasi Surabaya, Senin (6/6/2022). Berangkat haji, tutur mantan anak punk ini menjadi cambukan besar bagi dirinya untuk bisa berubah menjadi lebih baik lagi baik dalam hal ibadah maupun muamalah lainnya.

Sejak dirinya dinyatakan sebagai ahli waris pengganti haji, Fatchul pun mulai mencari kyai dan gus dari pesantren di daerah Kediri untuk memberinya semangat. 

Gus Rofik Kediri, salah satu Gus yang menjadi rujukan Fatchul memotivasinya dengan kata "Lebih baik menjadi mantan preman, daripada menjadi mantan ustad"

Sempat terbersit ketakutan dalam dirinya akan dosa-dosanya di masa muda. "Ya, sempat takut katanya ada balasan pas di Mekkah, tapi ya kalau niat kita ingin berubah menjadi baik, kenapa tidak," ujarnya.

Pria kelahiran Lamongan 33 tahun silam ini pun lantas menceritakan kehidupan di masa lalunya. Selepas menamatkan pendidikan SLTA, pria yang kini berprofesi sebagai anggota TNI AD ini bergabung dengan anak-anak punk yang ada diwilayahnya. 

"Namanya juga usia muda, saya ingin mencari jati diri. Saya ikut bergabung dengan anak punk. Jadi salah pergaulan," ungkap lelaki yang baru 2 tahun lalu melepas masa lajangnya.

Meskipun bergabung dengan kelompok anak jalanan, Fatchul bersyukur dirinya dulu tidak sampai menindik, mentato bagian dari tubuhnya, atapun mencicipi narkoba.

Kehidupannya bersama anak punk, tentu diluar sepengetahun kedua orang tuanya. Baginya, pantang membuat bapak ibu yang ia sayangi merasa sedih dengan kehidupan yang ia jalani saat itu.

"Waktu itu, bapak ibu saya tidak tahu dengan kehidupan yang saya jalani. Apalagi bapak saya pas jadi TKI di Malaysia," ungkap anggota TNI yang berdinas di Kabupaten Kediri ini.

Menghabiskan masa mudanya bersama teman punk, akhirnya berdampak pada kehidupan ritualnya. "Kalau minum minuman keras sudah biasa, ninggalin sholat ya sudah biasa, namanya juga ikut pergaulan yang ada," ungkapnya.

Meski demikian, jamaah haji yang berangkat bersama ibu tercintanya ini pantang meninggalkan sholat Jum'at.

"Satu kali pun saya ga pernah meninggalkan sholat Jum'at, karena itu harga diri seorang laki-laki," ujarnya.

Merasakan kehampaan dalam dunia punk, setahun berikutnya ia ikut pamannya berjualan tahu campur Lamongan di Kota Surabaya. Di kota pahlawan inilah, Fatchul bertemu dengan seorang TNI yang akhirnya mengantarkan ia menjadi seorang abdi negara.

Suami dari Nia Maf'ulah ini berharap, melalui perjalanan ritualnya ini ia bisa makin memantapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

"Sebelum terdaftar ahli waris pengganti haji, sholat saya masih sering bolong. Kalau sudah capek, ya sudah sering lewat sholatnya. Sekarang saya berusaha sholat lima waktu tepat waktu," harap Fatchul.

Di tempat mustajabah Makkah Madinah nanti, Fatchul ingin mendoakan sang bapak yang telah meninggal dunia mendahuluinya, diberikan kehidupan yang berkah, serta dikarunia putra yang belum ia dapatkan di dua tahun pernikahannya ini. (pno/n)

#Haji 2022 #Kloter III