Kamis, 18 Juli 2024

Puncak HKN ke-59, Gubernur Khofifah Dorong Produksi Alkes Agar Lebih Andal Digunakan

Diunggah pada : 16 November 2023 22:58:14 83
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memberikan sambutannya pada acara puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-59 Tahun 2023, di Kota Batu, Kamis (16/11/2023). Foto : Rafly / JNR

Jatim Newsroom – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mendorong produksi Alat Kesehatan (Alkes) dalam negeri agar lebih andal dan berkualitas. Pernyataan tersebut disampaikannya saat menghadiri acara Puncak Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-59 Tahun 2023 bertajuk ‘Transformasi Kesehatan untuk Indonesia Maju’, di Kota Batu, Kamis (16/11/2023). 

“Enam pilar transformasi kesehatan itu bagian dari program nasional, ini menjadi bagian yang secara programatik ada di dalam setiap institusi pemerintah daerah dan institusi layanan kesehatan. Lebih strategis lagi apabila kita dapat menyiapkan alkes dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang lebih besar dan andal presentasinya, sehingga para dokter juga confident menggunakannya,” jelas Khofifah. 

Lebih lanjut, Khofifah menerangkan, pihaknya memahami apabila sebuah layanan kesehatan khususnya bagi para tenaga kesehatan yang menggunakan alkes itu tidak confident. Bahwa, ternyata ada beberapa spare part alkes yang tidak cukup proper sebelum digunakan, padahal alat ini sangat sensitif dan bisa memberikan efek pada fungsi-fungsi organ tubuh yang lain. 

“Ini PR kita, berarti memang ada kebutuhan untuk melahirkan expert-expert atau para ahli yang bisa menyiapkan dan memproduksi alkes yang andal. Mungkin tidak sekelas MRI, tapi ada hal-hal tertentu yang memang kalau alkes digunakan, dan yang menggunakannya confident, sehingga kita sudah harus menyiapkan SDM untuk industri kesehatan itu,” terangnya. 

Kepada perguruan tinggi berbasis teknologi yang sudah keluar izinnya pada fakultas kedokteran, Khofifah menilai, akan bagus apabila ada spesifikasi tertentu untuk menciptakan teknologi kedokteran khususnya alkes. 

“Dimulai dari perguruan tinggi yang punya basic teknologi cukup kuat, jaringan internasionalnya juga cukup kuat, sehingga apa yang menjadi pra syarat TKDN berapa persen itu bisa terpenuhi oleh SDM yang memang sudah disiapkan untuk itu,” terang Khofifah. 

Khofifah menjelaskan, satu dari enam pilar transformasi kesehatan itu adalah transformasi SDM kesehatan, tapi bagi Khofifah, SDM kesehatan tidak serta merta para Tenaga Kesahatan (Nakes) saja, melainkan lebih luas lagi. “Termasuk mereka yang memproduksi alkes-alkes, dan mereka yang mempersiapkan industri farmasinya,” ujarnya. 

Kalau melihat pakar-pakar farmasi dan laboratorium, menurut Khofifah hal tersebut sudah luar biasa, namun obat-obatan atau dunia farmasi tidak berkembang. 

“Obat-obatan kita tidak bertambah, yang kita impor  sama dengan keadaan di tahun 1992. Kalau waktu itu 94-95% obat-obatan kita diimpor sekarang juga seperti itu. Jadi kalau kita mau cerita proses low material-nya yang digunakan industri farmasi dunia itu ya banyak dari Indonesia. Proses farmakologinya, sampai bisa menjadi produksi obat yang bisa dikonsumsi dan yang membuat resep confident dengan obat itu,” kata Khofifah. 

Maka, untuk menyiapkan alkes dan produk farmasi dalam negeri yang lebih dapat diandalkan, Khofifah merekomendasikan, industri substitusi impor dalam bidang kesehatan yakni pengembangan farmasi dan alat kesehatan. 

“Dari industri substitusi impor ini farmasi bagian apanya yang kita bisa mensubstitusi, dan alkes bagian apanya bisa kita melakukan industri substitusi impor. Jadi industri substitusi impor untuk farmasi dan alkes di saat Hari Kesehatan Nasional seperti ini, mungkin bisa kita jadikan rekomendasi bersama sehingga pada saat yang sama kebijakan-kebijakan mana yang memang sudah diproduksi ini tidak diimpor dan mana yang haru diimpor dapat diketahui,” papar Khofifah. 

Khofifah menuturkan, kalau TKDN-nya harus 40%, maka harus tahu tahu manakah yang bukan komponen dalam negeri. “Sehingga kita bisa menyiapkan industri substitusi impor dari industri kesehatan yang itu juga satu dari enam pilar transformasi kesehatan,” tuturnya. 

Kepala Dinkes Jatim, dr. Erwin Astha Triyono, mengungkapkan, terkait dengan TKDN, semua masih harus dikaitkan dengan upaya untuk menyeimbangkan antara kendali terhadap TKDN dengan kendali mutu

"Sehingga nanti kita berhasil untuk menyiapkan yang komponen dalam negerinya. Dengan begitu, baik para Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) juga percaya diri untuk menggunakan alkes, karena diharapkan penggunaan TKDN yang 40% itu, juga memberikan kenyamanan kepada pasien jangan sampai menurunkan mutu layanan," kata dr. Erwin. 

Sebagai informasi, pada momen puncak HKN ke-59 ini Gubernur Khofifah juga menyerahkan 38 penghargaan di bidang kesehatan dalam lingkup Pemprov Jatim. Penghargaan diberikan mulai dari pimpinan daerah (bupati/wali kota), perangkat daerah, rumah sakit, Posyandu, tenaga kesehatan, dan pihak swasta yang turut mendukung sektor kesehatan dengan berbagai inovasi dan layanan kesehatan bagi masyarakat yang telah dilakukan. (vin/s) 

#Khofifah Indar Parawansa #gubernur khofifah #gubernur jatim #Dinkes Jatim #HKN #HKN ke-59 #alkes #transformasi kesehatan