Selasa, 21 Mei 2024

PJ. Gubernur Jatim Ingtkan Pentingnya Program Pemberdayaan Sosial bagi Disabilitas

Diunggah pada : 22 April 2024 21:01:14 99
Pj. Gubernur Jatim, Adhy Karyono saat memberikan sambutannya pada agenda Peluncuran Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT (GADISku) di Jalan Jemur Andayani, Siwalankerto, Surabaya, Senin (22/4/2024). Foto : Haenry / JNR

Jatim Newsroom – Penjabat (Pj.) Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, secara langsung meluncurkan Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT (GADISku), yang berada di Jalan Jemur Andayani, Siwalankerto, Surabaya, Senin (22/4/2024). Pada momen itu, Adhy menyoroti pembangunan sosial berkelanjutan terhadap disabilitas yang perlu diperhatikan, yaitu pemberdayaan sosial. 

“Dengan diluncurkannya GADISku ini, kita melaksanakan suatu sistem pembangunan untuk disabilitas. Kalau programnya jelas ada rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, dan pemberdayaan sosial. Nah, kita sering hanya sekedar melakukan santunan dan bantuan sosial, tetapi yang paling penting adalah, mereka yang kita bantu itu betul-betul bisa mandiri sejahtera, dan bisa berkehidupan yang layak. Sentuhan yang masih kurang, yaitu memberikan aksesbilitas bagi mereka untuk semua layanan publik dan juga akses untuk pemberdayaan ekonomi,” tutur Adhy dalam sambutannya. 

Adhy menilai, layanan publik di Jawa Timur ini sebetulnya sudah terlihat mudah dan aman diakses bagi para disabilitas. “Layanan publik Alhamdulillah, di kantor-kantor pemerintah akses disabilitas sudah dilakukan. Terbukti, kemarin kantor Dinas ESDM dan Perpustakaan Daerah kita mendapatkan penghargaan dari MenPAN RB sebagai kantor yang ramah disabilitas,” tukasnya. 

Gebrakan di Provinsi Jawa Timur bagi para disabilitas yang ingin Adhy tekankan ialah, memberi layanan publik yang bukan hanya untuk masyarakat umum, melainkan harus memperhatikan kebutuhan para disabilitas. 

“Bagaimana mengedukasi masyarakat dan lingkungan supaya bisa menerima keberadaaan eksistensi dari penyandang disabilitas. Karena selama ini, hal itulah yang membuat mereka (para disabilitas) tidak bisa menerima akses untuk mendapatkan pekerjaan, layanan, pendidikan, dan sebagainya,” jelas Adhy. 

Adhy memaparkan, contoh yang paling mudah adalah saat menyebut para tunanetra, saat ini istilah yang digunakan ialah disabilitas sensorik. “Disabilitas sensorik, dulu disebut tunanetra sekarang disabilitas sensorik. Istilah ini saja sebetulnya banyak yang belum tahu, karena istilah ini digunakan untuk menyapa mereka dengan lebih manusiawi, dan lebih terhormat,” paparnya.  

Terkait dengan inklusi atau penyetaraan para disabilitas, Adhy menilai, banyak hal yang masih harus perlu dilakukan dalam pembangunan pemerintahan. 

“Pemerintah memang mengalokasikan anggaran, misalnya, alat bantu disabilitas, alat bantu dengar itu tidak mungkin cukup. Maka saya berterima kasih kepada Konjen Australia yang sering memberikan bantuan hampir 200 kursi roda dan alat bantu dengar. Sehingga paling penting adalah jangan sampai terlambat, no one leave behind, seperti jargonnya. ‘Aku, kami, kita adalah setara’ itu jangan sampai hanya sekedar jargon,” ujar Adhy. 

Dengan GADISku, Adhy menerangkan, maka implementasi dari inklusi pemberdayaan sosial dan ekonomi penyandang disabilitas menjadi lebih terlihat. "Galeri GADISku ini merupakan inovasi luar biasa bagi disabilitas untuk memperoleh hak dan kesempatan setara, sehingga mereka bisa memperkenalkan karya-karya, mandiri secara ekonomi, dan ikut terjun ke masyarakat," terangnya. 

Mengingat GADISku ini adalah, program berkelanjutan milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur (Dinsos Jatim) dan Yayasan Rumah Kinasih, Adhy berharap, dukungan terhadap kebijakan program dan kebutuhan anggaran untuk Dinsos Jatim dapat meningkat. 

“Insyaallah anggaran yang diberikan kepada Dinas Sosial semuanya bermanfaat, dua tahun ini memang kami memberikan yang terbaik penguatan untuk Dinas Sosial, karena bersentuhan langsung dengan kemiskinan, disabilitas, kelompok rentan dan sebagainya,” ungkap Adhy. 

“Kami memberikan penguatan seluruh UPT yang ada Dinas Sosial ada 30 UPT, kita buat standar sama sesuai dengan konsep rehabilitasi sosial dan pelayanan sosial yang ada di internasional. Bentuk dari layanannya, sarana pra sarananya,” sambung Adhy. 

Oleh karena itu, Adhy pun menyampaikan keinginannya, supaya Provinsi Jawa Timur tetap mempertahankan desain konsep rehabilitas sosial untuk UPT, supaya sama dengan internasional. 

“Itu bagian pentingnya dan bisa dikatakan Jawa Timur mampu menjadi piloting pusat percontohan seluruh provinsi di Indonesia. Maka, dengan adanya layanan ini saya berharap masyarakat tahu yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Yayasan Rumah Kinasih menghadirkan suatu galeri supaya bisa orang melakukan layanan seperti halnya masyarakat pada umumnya,” pungkasnya. (vin/s) 

#pemprov jatim #dinsos jatim #disabilitas #Pj. Gubernur Jawa Timur