Sabtu, 15 Juni 2024

OPOP Jatim, Ponpes Salafiyah Abu Zairi Bondowoso Sulap Bungkus Semen Jadi Tas

Diunggah pada : 8 November 2023 18:21:21 139
Sumber foto : Dok. Pengurus Ponpes Salafiyah Abu Zairi, Rabu (8/11/2023).

Jatim Newsroom – Berawal dari banyaknya limbah bungkus semen yang berserakan, Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Abu Zairi, Kabupaten Bondowoso kemudian menyulapnya menjadi produk unggulan berupa tas batik eco-print. Ponpes Salafiyah Abu Zairi merupakan peserta program Pengembangan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pesantren- One Peasntren One Product (EKO-Tren OPOP) milik Pemprov Jatim.  

Pengurus Ponpes Salafiyah Abu Zairi, Noer Laili, kepada Jatim Newsroom, Rabu (8/11/2023) menyampaikan, produk tas dengan batik eco-print dari bungkus atau kemasan semen yang dikelolanya ini berasal dari sekitar pesantren, tidak ada yang beli semuanya daur ulang. Dikatakannya, bahan dasar yang diperoleh dari membeli hanyalah aksesoris pelengkap tas, seperti tali kulit, dan resleting.  

“Dari pada menjadi limbah, kami recycle ulang bungkus Semen Gresik menjadi tas yang memiliki motif eco print. Motif batiknnya juga dari bahan-bahan alami, seperti dedaunan dan bunga-bunga yang ada di sekitar pondok. Intinya semua bahan baku itu ada di sekitar pesantren,” jelas Pengurus Ponpes Salafiyah Abu Zairi yang biasa dipanggil Nyai Noer Laili ini. 

Bisnis dengan produk unggulan tas batik eco-print tersebut, Nyai Noer Laili menjelaskan, proses pembuatannya cukup panjang, yakni satu produk tas batik eco-print, satu orang bisa memakan waktu selama dua hari. 

“Prosesnya cukup panjang sih, bungkus semen gresik itu kita bersihkan dengan sangat hati-hati karena bukan kain kan, tapi kertas. Kami bersihkan dengan air setelah itu kami bersihkan dengan air kapur, lalu kami kukus bungkus semennya. Sebelum dikukus kami hiasi dengan daun-daun yang ada di sekitar kita dan pewarnaannya juga tidak memakai pewarna kimia, kita memakai secang, kunyit, daun jati, tidak ada pewarna kimia apapun,” jelas Nyai Noer Laili. 

Nyai Noer Laili menyebutkan, karena tas batik eco-print terbuat dari bungkus semen yang notabene dari kertas, pasti banyak muncul pemikiran kerapuhan tas akan bocor, ataupun robek. 

“Produk tas kami tidak mudah bocor, dan robek, karena kami lapisi dengan kain keras di dalamnya, dan proses pembuatannya melalui proses yang bermacam-macam, proses olah industri ini semuanya dilakukan oleh santri,” sebutnya. 

Untuk merek produk tas batik eco-print yang diolahnya itu, Nyai Noer laili mengatakan, merek produknya bernama ‘Sekar’. Menurutnya, keunikan produk tas batik eco-print yang diolahnya ialah tiap produk tidak bisa dibuat dua kali sama, artinya tidak ada yang kembar, karena batiknya dibuat dari bahan-bahan alam, sekalipun caranya sama, bahannya sama, hasilnya tidak akan sama.

“Tas kita bandrol dengan harga Rp. 75.000 sampai Rp. 150.000, tergantung kesulitannya. Kalau tas kecil ya harganya Rp. 75.000 kalau besar seperti totebag itu Rp.150.000 sampai Rp.200.000,” ucap Nyai Noer Laili. 

Nyai Noer Laili menerangkan, motivasi produksi tas batik eco-print yang dikelolanya ini berasal dari para santri Ponpes Salafiyah Abu Zairi agar ke depannya setelah mereka lulus dari pesantren tetap ada ikatan dengan pesantren. “Saya ingin para santri tidak hanya menjadi ilmuwan, tapi juga bisa menjadi pengusaha sehingga bisa membantu agama islam, karena saya percaya haqqul yaqin mereka ke depannya adalah penerus kita,” terangnya. 

Terkait pemasaran produk, Nyai Noer Laili mengatakan, pemasaran dilakukan oleh tim marketing Ponpes Salafiyah Abu Zairi, selain itu, ada Tim Az Zairi media yang membantu dalam mempromosikan produknya. 

“Strategi pemasaran produk, untuk sementara saya aktif di media sosial, bergabung dengan OPOP ini juga strategi kami, produk kami juga dipasarkan antar pesantren, karena banyak pesantren yang tertarik untuk memproduksi produk tas sama seperti kami, sehingga kami menjadi pendamping untuk mereka berproses,” ujar Nyai Noer Laili. 

Dari hasil produksi unggulan tas batik eco-print berbahan baku bungkus semen ini, Nyai Noer Laili mengungkapkan, banyak sekali manfaat dan keuntungan yang dapat diambil pesantren. 

“Dengan produksi tas ini, santri lebih kreatif, lebih semangat, kegiatan mereka tidak diisi full pelajaran tapi juga diisi dengan ilmu entrepreneur. Dengan begitu, saya harap nanti produksi ini semakin diperhatikan pemerintah, karena pesantren menurut saya adalah pendidikan yang bisa dibilang murah, tapi kami membuat santri berkualitas, dengan jiwa entrepreneur mereka itu adalah sebuah perjuangan saya rasa,” tutur Nyai Noer Laili. 

Nyai Noer Laili membeberkan, motivasi Ponpes Salafiyah Abu Zairi bergabung menjadi peserta OPOP adalah karena OPOP merupakan teman yang membimbing dan mendampingi bisnisnya menjadi lebih maju. “Saya merasa diterima OPOP padahal hanya pesantren saya ini kecil,” bebernya. 

Program EKO-Tren OPOP sendiri, adalah salah satu program Pemprov Jatim yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis pondok pesantren melalui pemberdayaan santri, pesantren, dan alumni pondok pesantren.

Kepada program EKO-Tren OPOP Jatim, Nyai Noer Laili berharap, agar bisnis yang dikelolanya lebih khusus diperhatikan. “Bagi kami yang merupakan pesantren kecil, kami tertatih-tatih berjuang mengembangkan bisnis demi santri. Jadi memang yang saya harapkan kepada OPOP karena langsung ini Bu Khofifah tolong perhatikan pesantren-pesantren yang benar-benar berjuang untuk santrinya,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Ponpes Salafiyah Abu Zairi ini tidak hanya memproduksi tas batik eco-print dari bungkus semen, tapi juga memproduksi produk-produk unggulan lain seperti sabun, tape kriuk, kopi kawah ijen dan lain sebagainya. Jadi apabila masyarakat penasaran dengan produknya, dan ingin memesan maupun membeli produk unggulan tersebut, masyarakat bisa langsung menghubungi Pengurus Ponpes Salafiyah Abu Zairi, Nyai Noer Laili di nomor 085234227888 . (vin/s) 

#Pesantren #OPOP #pondok pesantren #Ponpes #OPOP Jatim #pemberdayaan pesantren #Kabupaten Bondowoso