Kamis, 1 Juni 2023

Indonesia Negara Penghasil Singkong Terbanyak Keempat Dunia

Diunggah pada : 18 Agustus 2021 19:50:43 5416

Jatim Newsroom- Singkong selama ini dianggap sebagai pangan inferior. Padahal jika melihat potensi singkong sebagai sumber karbohidrat substitusi nasi, peluangnya bagaikan kingkong (sangat besar). Bukan hanya dari jumlahnya, tapi juga kaya kandungan gizi.

Saat ini Indonesia merupakan negara penghasil singkong terbanyak keempat dunia. Berturut-turut adalah Nigeria sebanyak 57 juta ton, Thailand 30 juta ton, Brasil 23 juta ton dan Indonesia 19-20 juta ton.

Di Indonesia sentra produksi singkong tersebar di 13 provinsi. Lima besar provinsi penghasil singkong ada Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan DI Yogyakarta. Data Ditjen Tanaman Pangan, luas areal penanaman singkong tahun 2019 sebesar 628.305 ha dan produksi sebanyak 16,35 juta ton. Program pengembangan tahun 2020 seluas 11.175 ha.

“Kita punya potensi singkong cukup besar. Saat ini penghasil singkong berada di Lampung , Jawa Timur, Jawa Tengah dam Jawa Barat. Bahkan Indonesia adalah empat negara terbesar dunia penghasil singkong. Jadi Sayang tidak jika dimanfaatkan,” kata Ahli Gizi, dr. Dian Kusuma Dewi saat FGD Singkong yang diselanggarakan Tabloid SinarTani, Rabu (18/8).

Kaya Nutrisi

Singkong juga merupakan pangan yang kaya nutrisi. Kandungan indeks glikemik singkong jauh lebih rendah dibandingkan kentang dan nasi. Singkong juga kaya serat. Dalam 100 gram singkong mengandung 121 kalori, air 62,5 gram, fosfor 40 gram, karbohidrat 34 gram, kalsium 33 miligram, vitamin c 30 miligram, protein 1,20 gram dan besi 0,70 miligram.

Menurut Dian, tiap 100 gram, kadar kalori sebanyak 154, kandungan gizinya 1,2 gram proteiun, serat, vitamin dan mineral. Sedangkan kadar indeks glikemiknya hanya 55. Sementara nasi putih tiap 100 gram, kadar kalorinya 190, kandungan gizi 3 gram protein, tiaminm niasin dan kalium. Kadar glikemiknya 80-90.

Sementara kentang dengan 100 gram mengandung kalori 62, kandungan gizinya terdiri dari vitamin B, zat beasi, kalium, kalsium dan pati. Sedangkan kadar glikemiknya 55-70. “Dengan kandungan indek glikemik lebih rendah dari nasi, singkong baik untuk orang yang mempunyai penyakit diabetes,” kata dr. Dian.

Begitu juga bagi yang mempunyai gangguan ginjal, menurut dr. Dian lebih baik sebagai sumber pangan, karena proteinnya rendah, tetap kenyang dan tidak melewati batas protein. Jadi cukup baik sebagai sumber karbohidrat.

Manfaat kesehatan lainnya dari singkong adalah sebagai sumber energi, tiap 100 gram ada 100-150 kalori, lebih tinggai dari umbi lain. Singkong juga sumber serat dan karbohidrat kompleks, sehingga baik untuk kesehatan saluran pencernaan dan mengurangi peradagangan dan mengurangi kadar gula darah. “Singkong juga sebagai sumber antioksidan,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Darmono Taniwiryono, Co Founder Singkong Cyber juga mengakui, potensi singkong sangat besar sebagai produk pangan. Terlihat dari tren produksi singkong dunia yang selalu naik. Hal ini mengindikasikan bahwa tanaman singkong bisa menjadi harapan bangsa dunia.

Produksi singkong Indonesia juga beradasarkan data terus mengalami kenaikkan cukup siginifikan. Karena itu Darmono berharap, pemerintah bisa mengupayakan potensi singkong yang sangat besar itu. “Saat ini kita masih kalah dari Thailand, bahkan dari Nigeria,” katanya.

Mengapa singkong potensial untuk dikembangkan? Ternyata singkong memiliki potensi besar sebagai tanaman penyokong keamanan pangan paling menjanjikan. Singkong dapat tumbuh sepanjang tahun, bahkan di lahan ketersediaan nutrisi rendah dan tahan kekeringan. “Kita tahu negara-negara iklim kering seperti Nigeria bisa tumbuh dengan nbaik,” ujar Darmono.

Kelebihan lain dari tanaman singkong adalah memiliki kemampuan konversi terbesar dalam mengubah energi matahari menjadi karbohidrat terlarut per satuan luas. Singkong menghasilkan karbohidrat sekitar 40 persen lebih tinggi dari beras dan 25 persen lebih banyak dari jagung

Ketika sebagian masyarakat menganggap singkong sebagai pangan inferior, ternyata masyarakat di Cirendeu sejak lama mengonsumsi singkong sebagai bahan pangan pokok. “Singkong menjadi pilihan masyarakat adat Cireundeu. Singkong yang telah diolah sedemikian rupa menjadi makanan pokok berupa nasi. Dahulu dikenalkan dengan nama lokal sangu sampeu,” kata Kang Yana, Humas Kampung Adat Cirendeu.

Untuk memperkenalkan tradisi pangan Cireundeu kekhalayak luas, Yana mengatakan, pihaknya ikut terlibat program penganekaragaman pangan melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) dengan label Rasi (Beras Singkong). Budaya tuang sampeu atau makan singkong juga bentuk adaptasi dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial,” tambahnya.

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait