Mahasiswa Universitas Airlangga Kibarkan Merah Putih di Puncak Denali

UMUM | 19 Jun 2017 01:57:12 PM

Mahasiswa Universitas Airlangga Kibarkan Merah Putih di Puncak Denali

foto; humas unair

Jatim Newsroom - Setelah melewati perjalanan selama hampir 12 jam, tim atlet Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Wanala Universitas Airlangga berhasil menggapai puncak tertinggi di belahan bumi utara Gunung Denali.

Puncak Mc Kinley Gunung Denali di Amerika Utara itu setinggi 6.164 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan telah digapai pada pukul 14.05 waktu Indonesia.Pernyataan tersebut disampaikan oleh manajer atlet AIDeX, Wahyu Nur Wahid.

“Alhamdulillah tim Wanala UNAIR telah mencapai puncak Denali. Keberhasilan merupakan buah manis persiapan yang dirintis sejak Oktober 2015. Tidak sedikit permasalahan yang dilalui, bahkan para tim mengorbankan kuliah, keluarga, waktu dan tenaga untuk menggapai puncak Denali. Ini juga merupakan upaya kami untuk mewujudkan UNAIR sebagai world class university,” ujar Wahyu.
    
Ketiga atlet yang beranggotakan Muhammad Faishal Tamimi (mahasiswa Fakultas Vokasi/2011), Mochammad Roby Yahya (mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan/2011), dan Yasak (alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) tersebut telah menggenapi misi kelima dari pencapaian puncak gunung-gunung tertinggi di dunia.
    
Wakil Rektor I UNAIR, Prof Djoko Santoso, mewakili rektor memberikan apresiasinya kepada tim atlet dan manajemen yang sudah berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya dalam menggapai salah satu gunung tertinggi di dunia itu, Senin (19/6)
.
Menurut Djoko, hasil perjuangan yang membanggakan tersebut tak lepas dari keberanian para mahasiswa UNAIR, khususnya tim AIDeX untuk memasang target yang tinggi.
    
“Kami memberikan apresiasi yang luar biasa atas daya juangnya dalam mengharumkan nama Universitas Airlangga sekaligus Indonesia. Perjuangan mereka selama mempersiapkan hingga pendakian membuat mereka layak menjadi contoh bagi generasi yang akan datang,” ungkap Djoko.


Perjalanan
Perjalanan menuju puncak Mc Kinley dari kamp lima dimulai pada pukul tiga dini hari Kamis (15/6) waktu Indonesia. Untuk mencapai puncak, mereka menempuh jarak sejauh 2,5 mil.  Sebelumnya, pendakian dari kamp lima menuju puncak Denali diperkirakan akan berlangsung selama tujuh jam. Namun, sejumlah faktor internal maupun eksternal mengakibatkan perjalanan para atlet sedikit terhambat.
    
Wahyu mengatakan, saat melakukan pendakian menuju puncak, cuaca Denali cukup bersahabat. Para tim dihadapkan pada keadaan snow showers (anomali cuaca cerah dan hujan salju) dengan ketebalan salju mencapai 27 sentimeter. Selain itu, temperatur di puncak Denali mencapai minus 47 derajat Celcius.

Selain suhu, soal pernapasan dan kendali diri menjadi salah satu penentu keberhasilan para atlet. “Para atlet harus membiasakan diri dalam hal pernapasan di dataran tinggi karena kadar oksigen yang tipis,” tutur manajer ekspedisi.

Selama pendakian di Denali termasuk puncak, mereka menggunakan teknik moving together. Teknik moving together adalah mendaki bersama-sama yang dihubungkan dengan tali.

Selain itu, ketika melakukan summit attack para atlet juga membawa beban seberat sepuluh kilogram.
Beban barang bawaan itu terdiri dari peralatan keamanan, obat P3K, logistik, bendera, alat dokumentasi, dan perlengkapan pribadi.

Wahyu yang juga mahasiswa Ilmu Administrasi Negara mengatakan, keberhasilan dalam pendakian Gunung Denali merupakan kebanggaan tersendiri baginya  dan tim ekspedisi. Pasalnya, Denali merupakan salah satu gunung tersulit dalam rangkaian seven summit dunia.

“Trek di Denali cukup panjang. Tim harus menempuh perjalanan sejauh 79 kilometer dari base camp untuk menuju puncak. Bila ditotal mereka harus menghabiskan waktu selama 19 hari dari perjalanan base camp menuju puncak,” imbuh Wahyu.

Para atlet mendaki Denali tepat pada musim panas waktu setempat. Musim tersebut diyakini paling tepat untuk melakukan pendakian di Denali. Meski demikian, sejak awal pendakian suhu di Denali tak lepas dari temperatur ekstrem. Suhu di Denali berkisar antara minus 2 derajat Celcius hingga minus 67 derajat Celcius.
    
Selain suhu, sejak hari pertama pendakian mereka kerap kali dihadapkan pada ketebalan salju. Ketebalan salju mencapai setinggi lutut orang dewasa. Hal itu terjadi bahkan ketika mereka belum sampai di kamp pertama di ketinggian 7.600 kaki.

Selama pendakian, mereka melakukan aklimatisasi (penyesuaian suhu tubuh di ketinggian) dengan naik turun ketinggian. Selama itu, ketiga atlet melakukan perjalanan dan menimbun bahan logistik (makanan dan bahan bakar) di timbunan salju. Tujuannya, untuk menyimpan makanan dalam keadaan darurat ataupun cadangan makanan ketika sudah turun.

Mereka juga dihadapkan pada keadaan geografis Denali yang dipenuhi jurang es, khususnya di titik Below Kahiltna Pass atau 9.350 kaki.
    
Sebelum mereka dihadapkan pada kondisi-kondisi anomali di Denali, para atlet melatih teknik pendakian, ketahanan fisik, mental, dan psikologis selama 18 bulan di berbagai medan, termasuk di kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru.
    
Faishal yang juga ketua ekspedisi menuturkan bahwa seven summits adalah wujud kecintaan organisasi Wanala kepada alam dan tanah air.

“Sebagai organisasi mahasiswa pecinta alam, maka ini adalah cara kami menunjukkan harga diri kami sebagai sebuah organisasi,” ujar Faishal.
    
Selama persiapan, tim AIDeX banyak dibantu oleh PT. PP Properti dan PT. Pegadaian Persero.
Denali bukanlah puncak pertama yang didaki oleh anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM Wanala). Empat dari tujuh puncak tertinggi yang telah digapai tim adalah Puncak Carztenz Pyramid (Indonesia/1994), Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus (Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013).
    
Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits anggota UKM Wanala.(her)

Views 854
Web Statistic