Minggu, 29 Januari 2023

Sosialisasi KIE 1000 HPK di Malang, Penyanyi Krisdayanti Ingatkan Remaja Harus Melek Stunting

Diunggah pada : 17 Oktober 2022 18:23:55 34
Krisdayanti menjadi narasumber bersama Waluyo Ajeng Lukitowati, Koordinator Bidang KB-KR

Jatim Newsroom- Masyarakat Kelurahan Sedayu, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang antusias menyambut kehadiran Penyanyi Krisdayanti pada giat Promosi dan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana serta Percepatan Penurunan Stunting. Kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kantor Perwakilan Jawa Timur dan Komisi IX DPR RI ini dalam rangka mengedukasi masyarakat akan pentingnya Program Pembangunan Keluarga, khususnya melalui penurunan stunting. 

Dalam sosialisasi yang mengangkat tema Peningkatan Kesehatan Reproduksi dan Gizi remaja untuk Mencegah Stunting ini, Krisdayanti menjelaskan, penanganan stunting harus dimulai dari hulu, sebagaimana upaya mencegah lebih mudah dibanding mengobati. 

“Remaja juga menjadi sasaran strategis program percepatan penurunan stunting. Mau tidak mau entah dengan cara apa remaja kita harus melek stunting, karena ini berkaitan dengan masa depan bangsa ini terutama dalam hal kualitas SDM,” ungkap Krisdayanti.

“Percepatan penurunan stunting bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi membutuhkan dukungan dari masyarakat bagaimana agar para remaja ini memahami kesehatan reproduksi dan terpenuhi kebutuhan gizinya” sambungnya.

Waluyo Ajeng Lukitowati, Koordinator Bidang KB-KR yang hadir mewakili Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, menyampaikan beberapa hal yang harus dihindari remaja agar kelak tidak memiliki anak stunting. Antara lain dengan menghindari perkawinan di usia muda; menghindari seks pra nikah, dan menghindari diet yang berlebihan yang bisa berakibat kebutuhan gizi remaja tidak tercukupi.

Ajeng melanjutkan bahwa usia ideal menikah untuk perempuan adalah 21 tahun dan untuk laki-laki adalah 25 tahun. “Semua harus direncanakan dengan baik dalam hal pernikahan maupun kehamilan dan jumlah anak agar benar-benar  siap secara fisik, mental, ekonomi maupun sosial, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang dilahirkan stunting,” tutur Ajeng.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Malang, Aniswati Azis, menyampaikan, strategi yang dilakukan Kabupaten malang dalam percepatan penurunan stunting adalah dengan melakukan pendampingan calon pengantin dan ibu hamil agar kebutuhan gizi tercukupi dan kehamilannya sehat.

“Ibu pasca persalinan juga didampingi dan dipastikan mendapat layanan KB agar tidak terjadi kehamilan yang terlalu dekat jaraknya. Keluarga yang memiliki anak di bawah dua tahun (baduta) juga diberikan pendampingan karena masa ini merupakan masa emas yang memerlukan perhatian khusus” lanjut Aniswati.

Stunting merupakan salah satu tantangan besar dalam upaya pembangunan sumber daya manusia guna mewujudkan generasi unggul berkualitas. Tidak main-main, selain mengakibatkan pertumbuhan fisik tidak optimal, stunting berdampak panjang pada kecerdasan dan imunitas anak. Anak yang menderita stunting cenderung tertinggal secara akademis, mudah sakit dan berisiko lebih tinggi mengidap penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, dan obesitas. 

Hasil Studi Kasus Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021 menunjukkan, terjadi penurunan angka prevalensi stunting dari 27,7% pada 2019 menjadi 24,4% pada 2021. Angka tersebut masih cukup tinggi mengingat WHO menetapkan standar angka stunting di sebuah negara setidaknya berada di bawah angka 20%. Dengan angka prevalensi stunting 24,4%, 6 juta dari 23 juta anak Indonesia masih mengalami gangguan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan kesalahan pola pengasuhan sehingga perkembangan fisik dan otaknya tidak sempurna.

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka prevalensi stunting Jawa Timur adalah 23,5 persen. Terdapat penurunan dari tahun 2019 dimana prevalensi balita stunting masih berada pada angka 27,67 persen. Sedangkan di Kabupaten Malang, menurut hasil SSGI tercatat prevalensi balita stunting sebesar 25,7 persen. (Her/s) 

#bkkbn