Minggu, 25 September 2022

Pemkab Mojokerto Gencar Turunkan Angka Stunting

Diunggah pada : 8 Juli 2022 21:20:38 88
Foto: dok. Humas Diskominfo Kab. Mojokerto.

Jatim Newsroom - Pemerintah Kabupaten Mojokerto terus berupaya menurunkan angka stunting di wilayahnya. Hal ini dilakukan guna mewujudkan lahirnya generasi emas menuju Indonesia Emas tahun 2045.

Salah satu caranya, Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menekankan, kepada seluruh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesehjateraan Keluarga (TP PKK) pada lingkup desa yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kecamatan Sooko untuk menekan angka stunting di wilayah Kabupaten Mojokerto. 

"Program penurunan stunting ini bukan hanya program Pemkab Mojokerto, tetapi ini adalah prognas (program nasional), jadi ini dari pemerintah pusat, turun ke daerah-daerah, kita hanya ada waktu tiga tahun untuk mengatasi masalah stunting di Kabupaten Mojokerto," terangnya saat menyampaikan materi di ruang rapat Kecamatan Sooko, Jumat (8/7).

Dalam melaksanakan program penurunan stunting di wilayah Kabupaten Mojokerto, Ia menjelaskan, dasar pengertian stunting pada balita kepada seluruh TP PKK desa se-Kecamatan Sooko. 

"Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Stunting jangka kedepannya adalah berhubungan dengan kecerdasan," jelasnya.

Ikfina juga menjelaskan, dalam melaksanakan program penurunan stunting, terdapat empat indikator dalam menilai keluarga yang beresiko stunting. 

Pertama, yaitu prasejahtera atau bisa dikatakan keluarga yang tidak punya sumber penghasilan tetap. Kedua, fasilitas lingkungan tidak sehat. Ketiga, Pendidikan ibu di bawah SLTP, dan keempat, indikator Pasangan Usia Subur (PUS) empat terlalu. Yaitu terlalu muda, terlalu tua, punya anak jaraknya kurang dari dua tahun, dan anak lebih dari tiga.

Selain itu, terkait data fasilitas lingkungan tidak sehat di Kecamatan Sooko, Ikfina menyampaikan, bahwa terdapat 800 keluarga tidak mempunyai jamban yang layak. Oleh karenanya, Ia meminta kepada TPPS Kecamatan Sooko untuk mendahulukan keluarga berisiko stunting ikut dalam progam pembangunan jamban.

"Kita akan melaksanakan pembangunan jamban 7000 hingga 8000 pembangunan jamban, prioritaskan penurunan stunting siapa saja dan mana saja yang didahulukan," tuturnya. 

Ikfina juga menekankan, pentingnya penerapan jenis Intervensi gizi terpadu. Salah satunya intervensi gizi spesifik, yang menurutnya, hal tersebut berkaitan langsung dengan ibu hamil dan balita.

"Kemudian kedua yaitu intervensi gizi sensitif berkaitan dengan masyarakat umum seperti air minum layak, sanitasi layak, penerima bantuan iuaran JKN, bantuan tunai bersyarat, bantuan sosial pangan, layanan KB pasca persalinan, menekan kehamilan yang tidak diinginkan, pemberian informasi mengenai stunting," pungkasnya. 

Sebagai informasi, menurut data yang dihimpun, keluarga yang berpotensi risiko stunting di Kecamatan Sooko tahun 2021, sebanyak 9.091 keluarga, dari total 20.483 keluarga yang tersebar di 15 desa. (sti)

#jatim #mojokerto #stunting