Kamis, 6 Oktober 2022

Hari Kesiapsiagaan Bencana, BPBD Gelar Latihan Evakuasi Mandiri

Diunggah pada : 25 April 2022 15:47:41 45
Kepala Pelaksana BPBD Prov Jatim, Budi Santosa saat membuka kegiatan pelatihan evakuasi mandiri, Senin (25/4/2022)

Jatim Newsroom - Menjelang hari kesiapsiaagaan bencana yang jatuh pada tanggal 26 April, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov Jatim mengadakan pelatihan evakuasi madiri, Senin (25/4/2022).

Kepala Pelaksana BPBD Prov Jatim, Budi Santosa, mengatakan, pelatihan tersebut juga untuk menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya evakuasi mandiri. “Harapannya menciptakan masyarakat menjadi tangguh, keluarga menjadi tangguh serta personal-personal yang tangguh,” katanya.

Dikatakannya, di Jatim terdapat 14 daerah risiko bencana seperti benjir, banjir bandang, maupun likuefaksi atau tanah gerak. Ada tiga daerah yang yang rawan likuefaksi, yakni Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Ketiga daerah tersebut memiliki kerentanan tinggi bencana likuefaksi. Kerentanan tinggi yang dimaksud, yakni zona yang dapat mengalami likuefaksi secara merata yang mengakibatkan struktur tanah rusak parah dan hancur.

“Dari pantauan serta kejadian, pada tahun 2021 ada 301 kejadian bencana, dan paling banyak adalah bencana banjir, banjir bandang termasuk Semeru,” ujarnya.

Menurutnya, dari kejadian tersebut bisa dilihat bagaimana kesiapsiagaan serta mitigasinya saat terjadi bencana, untuk itu diadakan pelatihan tersebut, sebagai tindak lanjut. “Sesuai dengan arahan Presiden RI Jokowi yaitu agar dilaksanakan melalui vegetasi yaitu tandur, tandur, tandur,” tambahnya.

Dikatakan Budi, gerakan tandur, tandur, tandur telah dilakukan di Magetan dengan menanam 600 lebih tanaman, Madiun, Nganjuk juga telah dilakukan. Masyarakat tinggal memilih tanaman apa yang sesuai dengan daerah masing-masing, BPBD menyiapkan bibit tanaman dengan ketinggian lebih dari satu meter, yang siap tanam.

Lebih lanjut dikatakannya, selain vegetasi tersebut, BPBD telah melakukan orientasi pada panen air hujan di daerah Ngawi, yakni gerakan jangan sampai air hujan itu mengalir terbuang dengan sia-sia ke sungai Bengawan solo. “Kita pantau, kita saring dan masyarakat kita beri edukasi supaya melakukan gerakan panen air hujan,” kata Budi.(ern/s)

#Jawa Timur #BPBD