Senin, 15 April 2024

Jatim Buka Jalan Menuju Kemakmuran

Diunggah pada : 24 Agustus 2009 11:08:11 3

Itulah pengembangan Visi Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Strategi yang diterapkan yaitu agro industri dan agro bisnis. “Ada beberapa indikator kemiskinan yang terbagai dalam 14 variabel. Di antaranya rumah yang terbuat dari papan, dinding dari gedek, lantai dari tanah, tidak punya jamban dan tidak ada air bersih,” kata Gubernur Soekarwo, saat menghadiri acara Musrenbang Provinsi Jawa Timur. Menurut Soekarwo, kemiskinan seakan-akan selalu menggelayuti wajah Jawa Timur. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, dari 37 juta jiwa jumlah penduduk Jatim, analisa makro penduduk sangat miskin 1.251.816 jiwa, sedangkan penduduk miskin 5.079.481 jiwa.Saat ini ada 684 ribu rumah di Jawa Timur yang tidak layak huni. Jika tiap rumah dibantu Rp 6 juta untuk pengembangan air bersih, maka biaya yang dikeluarkan Rp 5,2 triliun. Untuk perbaikan rumah kumuh dan tidak layak huni, kalau Jatim mengambil separohnya dari kab/kota, maka tiap tahun provinsi mengeluarkan dana Rp 225 miliar. Selain lima hal tersebut, ada beberapa permasalahan, yakni sumber penerangan listrik, kebutuhan makan tiga kali sehari, kesehatan, kekurangan gizi, serta pakaian layak. Untuk kekurangan gizi, ada kebijakan dari Provinsi yaitu ada 200 ton beras di kab/ko yang sewaktu -waktu bisa didistribusikan bagi mereka yang tidak bisa makan. Begitu pula untuk berobat di puskesmas. Kerjasama yang sudah dijalin antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota, untuk semua pelayanan di puskesmas yang terdiri enam jenis layanan dasar harus dibebaskan dari berbagai pungutan. Jadi, jika ingin menurunkan kemiskinan, maka 14 variabel harus diambil dan harus mulai dilakukan. Perekonomian MakroDijelaskan, pada triwulan pertama, Januari hingga Maret 2009, pertumbuhan ekonomi di Jatim sangat membanggakan karena mampu melampaui pertumbuhan rata-rata nasional, yakni pada posisi 4,48. Pertumbuhan ekspor impor juga membaggakan. Hingga Mei 2009 total ekspor mencapai 3,6 juta dolar AS, sementara impor mencapai 2,9 juta dolar AS. Ini artinya, ada surplus 679 juta dolar AS lebih ekspor Jatim. ”Ini sangat bagus, dan saya optimistis dapat terus dikembangkan,” ujarnya. Masih kata Soekarwo, untuk percepatan investasi, ada tiga hal yang harus segera dilakukan: menyelesaikan tol/infrastruktur tahun 2012, bahkan pada 2011 diharapkan sudah selesai 70%. Tol yang harus selesai di antaranya, Kertosono-Surabaya, Surabaya-Malang, Surabaya-Probolinggo”Pada 2010 khusus tol Porong-Gempol dan tol Gresik-Tuban harus sudah selesai. Dengan selesainya kedua tol tersebut, investor tidak usah diundang, mereka akan datang sendiri. Tinggal meningkatkan kualitas SDM,” tambahnya.Gubernur juga menyinggung tentang pupuk kimia yang harus diputus mata rantainya, dan pelan-pelan diganti dengan pupuk organik. Oktober 2009 pemprov akan melakukan hibah 627 alat mesin untuk pengolahan pupuk organik, agar kita tidak tergantung pada pupuk kimia. Semua ini dimaksudkan agar kondisi pertanian menjadi membaik dan kemiskinan terkurangi.Tahun 2009 Jatim memiliki kelebihan beras 4 juta ton, sehingga mampu mengatasi stok beras di Jatim. Semua itu dilakukan agar harga beras tidak jatuh pada saat musim panen. Dalam Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) Jatim Tahun 2010, pemprov berupaya mensinkronkan arahan kebijakan pemerintah pusat dalam pemulihan perekonomian Jatim. Ini merupakan penjabaran awal dari RPJMD 2009-2014 dengan visi terwujudnya Jawa Timur yang makmur dan berakhlak dalam kerangka NKRI serta mewujudkan kemakmuran bersama wong cilik melalui APBD pro rakyat.Dengan visi dan misi itu, Jatim menerapkan beberapa strategi yang digunakan sebagai pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada rakyat serta mengedepankan partisipasi rakyat.Dengan tetap konsisten terhadap perkembangan agro industri dan agrobisnis, maka Pemprov Jatim optimistis pengurangan angka pengangguran dan kemiskinan serta percepatan investasi dapat dilakukan dengan baik.

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait