Mendung Sedikit
24-34
MAJALAH POTENSI
Majalah Potensi terbit tiap 2 minggu
Edisi Januari 2012
Kamis, 9 Agustus 2012 | 09:00
Masih ingat ‘kantin kejujuran’? kantin ini berada di sekolah dengan misi membentuk generasi berkarakter.
Kantin kejujuran dibuat untuk menanamkan kejujuran kepada siswa dan pembelajaran antikorupsi. Orang tidak mau korupsi kalau dia jujur. Harapannya, kantin kejujuran akan memberi pembelajaran kepada siswa untuk bersikap jujur sejak dini. Dengan menabur benih budaya jujur tersebut pada pelajar sebagai penerus bangsa, di masa depan tak ada lagi korupsi.
Sudah lebih dari tiga tahun kantin kejujuran dikenalkan kepada masyarakat. Hampir semua sekolah di semua daerah ikut serta mendirikan kantin yang konon menjadi semacam laboratorium kejujuran bagi semua warga sekolah.
Lantas bagaimana sekarang nasib kantin kejujuran ini. Bertahan? Atau malah bangkrut karena lebih banyak nombok daripada memperoleh keuntungan dari kantin yang sepenuhnya mengandalkan kesadaran dan kejujuran pembelinya. Kabar baiknya, di SDN Bartajaya Surabaya, sejak dibuka hingga kini kantin kejujuran di sekolah itu masih berjalan.
"Iya di sekolah kami sudah dua tahun. Tapi alhamdulillah sampai sekarang masih bertahan," kata Ela, siswi kelas 6 SD Baratajaya Surabaya.
Dalam kantin kejujuran tidak terdapat penjaga, yang ada hanyalah makanan dan minuman yang diperjual belikan beserta harganya dan sebuah kotak tempat menaruh uang pembelian dan mengambil kembalian.
Pembeli mengambil sendiri makanan atau minuman dan kemudian membayar sendiri dengan nominal yang ada pada bandrol yang tertulis di pembungkus kue, roti, mie dan nasi. Demikian pula jika mengambil uang kembalian, tinggal ambil sendiri sesuai nominal kembalianya, tidak lebih atau kurang.
Kantin yang terletak di setiap pintu masuk dalam ruang kelas mulai kelas 1 hingga kelas 6 itu tampak terasa nyaman karena siswanya menikmati jajanan meskipun tanpa pengawalan.
Menurut Komang, guru kelas III SDN Baratajaya sekaligus penanggungjawab kantin kejujuran, kantin ini beroperasi mulai tahun 2011 dan hingga kini sudah sangat membantu anak-anak yang tidak sempat makan sebelum berangkat sekolah dan tidak membawa bekal makanan.
Makanan yang dijual pun kebersihannya terjamin dan kualitasnya ditanggung tanpa borak, pengawet, pewarna dan bebas formalin. Harga kue basah dan roti misalnya, rata-rata Rp 1.000/biji, mie goreng hanya dibayar Rp 1.500/ bungkus, dan nasi goreng ayam bisa diambil cukup meninggalkan uang Rp 3.000/kotak.
“Meski tidak pernah dijaga, ternyata kantin ini tidak pernah merugi alias kebobolan siswa yang tidak mau bayar. Buktinya hingga kini kantin malah berkembang semakin besar,” katanya.
Komang berharap keberadaan kantin kejujuran bisa menjadi sebuah gerakan moral dan menjadikan kejujuran sebagai budaya, identitas sekolah, dan masyarakat luas. "Kantin kejujuran ini bisa menjadi simbol ketahanan yang tangguh terhadap korupsi. Perjuangan ini masih harus terus didorong," tuturnya. (ryo)
