MAJALAH POTENSI

Majalah Potensi terbit tiap 2 minggu

Edisi Januari 2012

PENDIDIKAN KARAKTER MEMPERTARUHKAN NASIB BANGSA

Kamis, 9 Agustus 2012 | 08:55


Kasus korupsi, tindak asusila, dan kriminalitas yang terjadi akhir–akhir ini di Indonesia membuat banyak orangtua miris dan khawatir pada perkembangan mental dan perilaku anak mereka. Padahal jika ladasan mental dan berpikir kuat, hal itu bisa dihindari. Pendidikan karakter sesungguhnya mempertaruhkan nasib bangsa Indonesia, kata M Nuh.
 
Kepala Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kesehatan Inteligensia Kementrian Kesehatan RI, dr Bagus Satriya MKes saat berkunjung di Surabaya menuturkan, karakter anak bisa dibentuk saat anak masih dalam kandungan, khususnya ketika usia kandungan lima bulan.
Waktu di kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang. Emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu, makanan yang dikonsumsi Ibu akan sangat memengaruhi perkembangan otak anak di dalam kandungan.
Ibu hamil yang stres biasanya akan melahirkan anak-anak yang bermasalah. Demikian juga asupan gizi ibu hamil yang tidak memadai akan berpengaruh terhadap perkembangan otak janin.
Salah satu cara yang biasa digunakan adalah sering memperdengarkan suara tertentu (musik klasik) akan berpengaruh terhadap kecerdasan anak sejak dalam kandungan.  Hal ini dapat dimengerti karena musik dengan irama tertentu dapat menstimulasi otak anak.
 “Peran orang tua khususnya ibu, di usia kandungan lima bulan sangat besar untuk membentuk karakter anak. Mau dijadikan apa anaknya kelak semua tergantung pendidikan awalnya,” ungkapnya.
Kedekatan antara sang anak dan ibu terus berlangsung hingga memasuki usia emas anak yakni 2-4 tahun. Pada usia ini lingkaran otak anak berkembang dan serabut otak mulai bekerja.”Pada usia emas jika anak kita melakukan kesalahan atau sesuatu yang menurut kita tidak sesuai, jangan dimarahi atau dipukul, cukup dinasihati dan dialihkan ke kegiatan lainnya,” tuturnya.  
Meski banyak yang menganggap tugas mendidik anak adalah hak ibu, ayah mencari nafkah, namun saat usia anak menginjak tujuh tahun keatas, logika anak mulai bekembang. Di sini peran sorang ayah dibutuhkan, karena anak mulai memakai logika saat melakukan sesuatu. “Jika kita salah menyampaikan logika yang benar, maka selamanya kesalahan itu akan diingat anak,” katanya.  
Jika pola pendidikan dasar tidak tepat, maka itu akan berpengaruh pada karakter anak saat dia besar termasuk membentuk sifat temperamen. Ini menurut dr Bagus merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan yang berasal dari lingkungan dan dari dalam diri sendiri. Temperamen berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang.
Oleh karena itu sulit untuk diubah dan netral terhadap penilaian baik buruk. "Untuk membangun karakter melalui akhlak sangatlah penting. Mengingat kondisi negara kita sarat dengan tindakan kekerasan atau anarkisme menggambarkan pikiran mereka terlalu sempit," katanya.
Selanjutnya dia menambahkan, kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alamnya, tetapi oleh kecerdasan dan keuletan. Jepang yang tidak memiliki kekayaan alam bisa menjadi negara maju menyaingi Amerika yang dulu meluluh lantakkannya dengan bom atom. "Membudayakan fanatisme Nasional harus terus dijaga meskipun tetap berkomitmen kepada problem global," urainya.
 
 
Budaya Sekolah
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Dr Ir KH Muhammad Nuh, DEA ketika berkunjung di Politeknik Elektronika Surabaya (PENS) dalam rangka Sosialisasi Rancangan Undang-Undang Pedidikan Tinggi (RUU PT) Sabtu (28/4) lalu mengungkapkan, model pendidikan karakter harus dimulai dengan menciptakan budaya sekolah yang baik, mulai dari guru kemudian ditularkan kepada siswa.
Budaya sekolah yang dimaksud Mendiknas adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan kasar, disiplin, dan membiasakan kejujuran. "Budaya sekolah yang baik adalah  hilangkan budaya nyontek dan kekerasan. Ungkapan yang kasar juga bagian dari kekerasan," kata M Nuh.
Karena itu juga, ia meminta pelaksanaan masa orientasi siswa (MOS) dihilangkan dari segala bentuk yang berbau kekerasan. Bukan cuma lingkungan sekolah yang berperan dalam pendidikan karakter, tetapi juga aksi bakar ban yang kerap dilakukan mahasiswa saat berunjuk rasa dinilai berpengaruh negatif pada karakter anak sekolah.
Lebih lanjut dikatakannya, pendidikan karakter sangat dibutuhkan penduduk Indonesia guna membentuk moral dan akhlak yang baik. Pendidikan karakter tidak hanya diperlukan di rumah dan sekolah, tetapi juga di lingkungan sosial. Bahkan, banyaknya kekerasan yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa pendidikan berkarakter tidak hanya ditujukan kepada anak usia dini  namun orang dewasapun butuh pendidikan ini.
“Pernahkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi 10 tahun mendatang di Indonesia jika generasi penerus bangsa masih tidak berkarakter. Bagaimana kondisi Indonesia nantinya? Hal ini tidak boleh terus dibiarkan. Pendidikan karakter harus diberikan kepada semua orang atau penduduk di Indonesia,” tegasnya.
Namun, mengapa harus pendidikan berkarakter? “Pertanyaan ini mungkin akan terlintas dalam benak semua orang,” kata M Nuh.
Karakter adalah salah satu jalan untuk individu mencapai atau memperoleh keberhasilan dalam hidupnya. Pendidikan karakter lebih banyak berpusat pada pendidikan jiwa dan mental. Sedangkan, pendidikan yang sistematis atau matematis lebih berpusat pada pendidikan otak. Jika jiwa atau mental seseorang terganggu, maka ia tidak akan dapat menyerap pendidikan sistematis atau matematis. Namun, jika jiwanya telah terisi dengan karakter – karakter yang baik, maka dengan sendirinya akan timbul dalam diri seorang anak untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Kesalahan pendidikan pada anak memang bukanlah sepenuhnya ada pada orang tua. Namun, jika dari kecil seseorang sudah dibekali dengan pendidikan ini, maka kecil kemungkinan akan terjadi penyimpangan dan pelanggaran hukum seperti yang terjadi sekarang ini. “Setiap anak memiliki karakter sendiri sejak kecil. Namun, karakter yang dimiliki seseorang sewaktu masih kanak-kanak sangatlah rentan,” tutur Mantan Rektor ITS ini.
Meski dalam kesehariannya anak-anak hanya menginginkan kesenangan, namun pendidikan juga penting. Di sinilah peran orangtua atau orang terdekat dalam membentuk atau mengarahkan karakter menjadi lebih baik.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, begitu juga dengan membentuk karakter seseorang, terlebih jika masih dalam masa kanak-kanak. Anak-anak cenderung akan meniru apa yang ia lihat dan ketahui. Untuk itu, pemberian contoh nyata dalam memberikan pendidikan ini juga sangat penting. (tim)
 

Orangtua Jadi Contoh

"Di samping temperamen, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang berkarakter. Jadi mereka bisa mengatur pola berpikirnya, asal dasar yang ditanamkan sudah kuat," kata Drs Andarus Darahim MPA.
Menurut Dosen Universitas Negeri Jakarta itu, pendidikan karakter dapat dibentuk sejak usia dini, khususnya saat anak belum bersekolah. Karena lingkungan rumah mempunyai pengaruh sangat besar pada pembentukan dasar perilaku dan mental.
”Orangtua harus memberi contoh yang baik pada anak, sehingga ia punya dasar untuk perkembangan prilakunya,” katanya saat Workshop Lembaga Masyarakat dalam Pelaksanaan Tumbuh Kembang Anak Bidang Lingkungan dan Penanaman Nilai-nilai Luhur di Surabaya, Rabu (25/4) lalu.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini disebutnya bak pisau bermata dua. Di satu sisi bermanfaat menambah pengetahuan dan intelektualitas, di sisi lainnya membawa banyak implikasi negatif. Salah satunya maraknya pornografi, kejahatan dunia maya, hingga membentuk generasi yang kurang sosialisasi dan agresif karena kecanduan yang amat tinggi terhadap piranti teknologi informasi.
Karena itu dampak negatif itu harus diperkecil. Salah satunya dengan mengenalkan pendidikan karakter pada anak sejak ini. Cara yang paling konkret adalah menanamkan kembali keingintahuan generasi muda Indonesia pada Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara.    
Salah satu perangkat yang paling memengaruhi anak di antaranya komputer, handphone hingga games.   "Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari produk teknologi ini tentu saja tergantung dari pemanfaatannya," katanya.
Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak.
Demikian halnya dengan pengaruh games.  Salah satu contoh pengaruh buruk, tanpa sepengetahuan orangtua, anak mengonsumsi games yang menonjolkan unsur-unsur kekerasan dan agresivitas. "Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak. Selain itu mereka kurang sosialisasi," katanya.
Ia berharap, setiap orangtua terus memonitor anak dalam berinteraksi dengan perkembangan teknologi informasi khususnya saat ada di rumah. "Kenalkan pendidikan agama sebagai tameng, dan dampingi anak dalam tumbuh kembang dengan mengenalkan sisi positif dan negatif atas segala hal khususnya tayangan televisi dan internet," tuturnya.
Selain itu yang perlu ditumbuhkan kembali adalah nilai kepahlawanan seperti rela berkorban, cinta tanah air, kerja keras, keteladanan, kejujuran, demokratis, mandiri, dan bertanggung jawab harus diintegrasikan dalam pendidikan karakter.
Setiap mata pelajaran di sekolah bisa menjadi sarana penanaman nilai-nilai kepahlawanan terutama mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn), sejarah, ilmu sosial, dan bahasa Indonesia. Melalui proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran itu, katanya, nilai-nilai itu bisa ditanamkan.
''Penanaman nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi model pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter melalui nilai-nilai itu seharusnya menjadi tujuan dari proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Selama ini, pendidikan karakter seolah-olah hanya menjadi jargon semu pemerintah,'' ujarnya.
Kenyataannya, pemerintah justru lebih memrioritaskan pencapaian aspek kognitif. Akibatnya, nilai-nilai kepahlawanan mengalami erosi dalam kehidupan masyarakat.
''Seharusnya pendidikan karakter menjadi intisari sistem pendidikan nasional, sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,'' ujarnya. (tim)
 

Mulai Sejak Usia Dini
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr Harun MSi MM menuturkan pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) karena merupakan masa persiapan anak-anak untuk menghadapi masa depannya, atau dalam lingkup yang lebih kecil adalah masa sekolah dasar.
Saat ini, banyak sekolah dasar yang meminta murid-muridnya untuk sudah bisa membaca dan berhitung ketika mereka mendaftar. Saat TK, kebanyakan dari mereka sudah diajari kemampuan-kemampuan itu meskipun kurang mendalam.
“Anak-anak memang masih belum bisa berpikir dengan sempurna, berbeda dengan orang dewasa. Mereka masih butuh bimbingan dan panduan dalam mengolah setiap hal yang mereka terima,” kata Harun
Pada masa TK, anak-anak juga sedikit banyak belajar tentang cara bersosialisasi, bahkan problem solving (pemecahan masalah). Mereka mempelajari semua kemampuan tersebut melalui permainan karena ketika sedang bermain, kondisi anak dalam keadaan tenang, sehingga pelajaran yang diberikan dapat lebih mudah diserap oleh mereka.
Seiring dengan perkembangan zaman, dunia semakin maju dan tentu saja sebagai orang tua,tidak ingin putra-putri anda menjadi pribadi yang tidak mandiri, bahkan lamban dalam menerima sesuatu. Oleh karena itu, pendidikan usia dini sangatlah penting. Ibarat sebuah mobil, seorang anak yang pernah menerima pendidikan usia dini sama dengan sebuah mobil dengan bensin penuh yang siap melaju di segala medan dimanapun ia berada, ia akan mudah untuk beradaptasi.
Sedangkan, seorang anak yang belum pernah menerima pendidikan usia dini akan lamban dalam berfikir dan menerima sesuatu. Mereka juga akan lamban dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ibarat sebuah mobil, anak ini adalah sebuah mobil dengan bensin tipis (tidak penuh). Mobil tidak akan dapat berjalan leluasa di segala medan jika tidak memiliki bensin yang cukup.
Selain berguna untuk mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi masa depan, pentingnya pendidikan pada usia dini juga memberikan pengalaman- pengalaman yang dapat dijadikan guru yang bijak bagi mereka. Pengalaman yang dimaksud tidak hanya mencakup tentang bagaimana mereka berhitung dengan menggunakan mainan, namun lebih dari itu, pengalaman mengajarkan mereka untuk lebih mengenal diri mereka sendiri, kemampuan dan kekurangan mereka, serta orang lain. Sehingga, akan timbul suatu keinginan untuk berpikir dan belajar, meskipun masih dalam taraf yang rendah.
Anak-anak memang masih belum bisa berfikir dengan sempurna, berbeda dengan orang dewasa. Mereka masih butuh bimbingan dan panduan dalam mengolah setiap hal yang mereka terima. Namun, mereka memiliki kemampuan mengingat yang luar biasa. Mereka akan mengingat hal -hal yang mereka pikir penting dan yang pasti menyenangkan dalam ingatan mereka. Hal-hal yang dianggap kecil ini bisa menjadi hal yang nantinya akan sangat berpengaruh pada proses mereka berfikir dan berkembang.
Berdasarkan data rekapitulasi 2011 Dinas Pendidikan Jawa Timur, terdapat sekitar 13.695 lembaga PAUD. Dimana rinciannya, taman penitipan anak (TPA) sebanyak 234 lembaga, kelompok bermain sebanyak 9.698 unit dan POS PAUD yang mencapai 3.763 lembaga.  Sementara jumlah pendidiknya mencapai 47.805 orang.
Standarisasi kualitas penyelenggara pendidikan ini sangat penting mengukur kualitas penyelenggaraan pendidikan agar makin baik.Ini karena sebagian besar penyelenggaraan PAUD adalah pihak swasta. Kalau tidak ada standarisasi kualitas, maka yayasan akan mengelola dengan semaunya sendiri sehingga merugikan masyarakat.
Salanjutnya, Dinas Pendidikan Jatim melakukan fasilitasi saja. Karena selebihnya, kabupaten/kota memiliki wewenang lebih besar. Termasuk dalam hal pemberian perizinan pendirian PAUD.  “Untuk pengawasan dan izin operasional akan ada di tangan kabupaten/kota,” jelasnya.
Dari sekitar 4.022.338 anak usia 0-6 tahun, sebanyak 2.744.132 anak yang ada di Jawa Timur belum bisa mendapat layanan PAUD. “Untuk itu, Pemprov dan kabupaten/kota berupaya memperluas layanan PAUD untuk masyarakat,” tandasnya.
 
Lebih lanjut dikatakannya, sudah saatnya pemerintah, kalangan swasta dan masyarakat bersama-sama dalam memajukan lembaga PAUD yang ada di kabupaten/kota. dengan memajukan lembaga PAUD maka pendidikan di Jatim akan semakin baik. “Kita semua tahu PAUD adalah pendidikan dasar bagi anak, apabila dalam pendidikan dasar anak sudah terbentuk baik maka ke depannya akan mudah diarahkan,”katanya. (tim)

Advanced Search

   Produk SKPD