MAJALAH POTENSI

Majalah Potensi terbit tiap 2 minggu

Edisi Januari 2012

JATIM BERUPAYA MENEKAN KUSTA

Selasa, 21 Februari 2012 | 09:00



Meski hingga kini Jawa Timur masih tercatat sebagai penyumbang jumlah penderita kusta terbanyak di Indonesia, namun provinsi yang memiliki jumlah penduduk terbesar ini optimistis mampu menurunkan angka penderita pada anak-anak dan cacat hingga 5%.


Jawa Timur termasuk wilayah endemis penyakit kusta atau lepra (morbus hansen) di Indonesia. Setidaknya 30 persen penderita kusta di Indonesia berasal dari Jawa Timur. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Budi Rahayu MPH, endemi penyakit kusta menyebar di Sumenep, Probolinggo, Jember, Pamekasan, Bangkalan, Tuban, Lumajang, Pasuruan, Sampang, dan Situbondo.
Besarnya penderita kusta ini disebabkan keterlambatan untuk melakukan pengobatan secara dini yang disebabkan rasa malu yang berlebihan para penderita dan keluarganya. “Keluarga penderita dan masyarakat masih banyak yang malu memeriksakan diri karena masih menganggap penyakit ini kutukan. Itu yang sekarang kami sosialisasikan agar penanganan sejak dini bisa dilakukan,” katanya.
Dinkes Jatim melakukan gerakan Rapid Village Survey (RVS) guna menemukan sedini mungkin penderita. Juga melakukan inovasi untuk memutus mata rantai penyakit ini dengan pemeriksaan serologis dan pengobatan pada kontak (orang) di sekeliling penderita. "Di Jawa Timur ditemukan 14 persen penderita yang terlanjur cacat," terangnya.
Upaya-upaya pencegahan dari masyarakat sendiri sangat penting. Di antaranya adalah membiasakan diri berprilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu memberikan kesadaran kepada masyarakat agar terbuka untuk memudahkan pendataan dan memberikan penanganan lebih lanjut.
Pada tahun 2010, sepertiga penderita kusta di Indonesia ada di Jawa Timur, atau setara dengan 4.653 penderita (14% diderita anak-anak dan cacat permanen). Sedangkan hingga September 2011 ditemukan penderita baru sebanyak 4.142 penderita.
Angka itu menempatkan Indonesia di urutan ketiga terbesar dunia untuk jumlah penderita setelah India dengan angka 126.800 penderita dan Brazil di angka 34.894 penderita. Jumlah itu merupakan 30 persen dari jumlah penderita Kusta di Indonesia yang jumlahnya mencapai 17 ribu orang. Dengan demikian, jika jumlah di Jatim menurun maka jumlah nasional juga akan turun drastis.
"Kemungkinan jumlahnya masih bisa bertambah. Karena banyak kendala di lapangan yang kami hadapi. Seperti, ada yang enggan melaporkan keluarganya terkena kusta. Bahkan, saat petugas mendatangi, penderita disembunyikan dan katanya nggak ada," tuturnya.


SDM dan Kemiskinan
Budi Rahaju menyatakan, tingginya angka penderita disebabkan rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan faktor kemiskinan. Penderita kebanyakan dari masyarakat ekonomi bawah yang kurang atau belum memahami arti penting kebersihan lingkungan. “Selain kuman, kebersihan lingkungan juga menjadi faktor lain penyebab kusta,” tuturnya.
Daerah endemi penyakit kusta rata-rata menyebar di kawasan Pantai Utara Jawa dan Madura. Seperti Gresik, Pasuruan, Situbondo, dan Probolinggo. Termasuk Surabaya sebagai kawasan perkotaan meski perbandinganya jauh di bawah 10 kabupaten lainnya. “Bila tidak segera tangani akan terus mewabah. Memang, bisa disembuhkan, namun terus ada dan mewabah karena faktor lingkungan dan SDM,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyakit kusta dapat menyebabkan cacat tubuh secara permanen, apabila tidak segera ditangani sejak dini dan diobati secara rutin. Cacat primer dan cacat sekunder. Cacat primer disebabkan kerusakan akibat respon jaringan terhadap kuman Kusta. Sedangkan cacat sekunder terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kerusakan saraf (sensorik, motorik, otonom).
“Saya mengimbau kepada warga yang menderita kusta untuk segera berobat ke puskesmas, dan pengobatan diberikan secara gratis,” terangnya.

Bukan Kutukan
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan masalah Kesehatan Dinkes Jatim, Dr Achmad Djaeli MPPM mengakui, masih ada stigma di masyarakat bahwa penyakit kusta adalah penyakit kutukan dan aib keluarga. "Stigma ini harus dihapus. Kusta bisa disembuhkan. Kalau tidak ada yang melaporkan, risikonya cacat permanen," jelasnya.
Penyakit kusta bukanlah kutukan yang tidak bisa disembuhkan sebagaimana diyakini sejumlah orang. Persepsi tersebut hanya membuat penderita terisolir dari komunitasnya. “Kusta bisa disembuhkan dengan bantuan medis,” tegasnya.
Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium Leprae bisa menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya. “Jadi jelas ini bukanlah penyakit keturunan,” ujar dr Djaeli.
Penularan kusta juga tidak mudah, tidak seperti penularan pada HIV AIDS. Kusta bisa menular akibat kontak erat dalam waktu lama, baik melalui kulit maupun saluran pernafasan. Penderita mengalami marjinalisasi karena stigma negatif. Dia mencontohkan penjual telur yang kena penyakit kusta sehingga orang tidak suka membeli.
Dari seluruh kabupaten di Jawa Timur, Sumenep merupakan kabupaten terbanyak kedua setelah Sampang dalam persebaran penyakit kusta. Di Sumenep pada 2011 yang paling banyak penderitanya di Kecamatan Pragaan dan Talango, 87 dan 70 orang.

Tanda-Tanda Kusta
Penyakit kusta sebenarnya bisa dicegah jika dideteksi sejak dini. Asal masyarakat “terbuka” dengan penyakit berusia ratusan tahun ini. “Bila mendapati tubuhnya terdapat bercak merah tanpa rasa sakit, bisa jadi itu kusta. Deteksi dini yang dilanjutkan dengan pengobatan bisa mencegah penyebarannya,” terang Achmad Djaeli
Tanda-tanda dini kusta mirip dengan penyakit kulit lainnya, seperti panu, kadas kurap dll. Yang membedakan penyakit kusta dengan penyakit kulit lain adalah sensitivitasnya. Karena itu orang yang mempunyai tanda-tanda dini kusta cenderung mengabaikan pengobatan.
Dengan adanya stigma akan menyebabkan keterbatasan bagi penderita kusta dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) untuk menerima hak asasinya secara penuh sebagai seorang manusia. Dibutuhkan komitmen untuk membantu dan memberdayakan penderita kusta atau OYPMK agar tetap sehat dan mampu menjaga kesehatan secara mandiri.
Kecacatan akibat kusta akan dibawa seumur hidup, dan jika tidak dilakukan perawatan diri secara rutin, akan menyebabkan kecacatan lebih serius. Untuk itu penderita atau OYPMK perlu diberikan bekal cara perawatan diri sesuai dengan masing-masing, kecacatannya agar tidak tergantung pada petugas kesehatan.
Penyakit kusta umumnya menyerang kalangan bawah sehingga kehidupannya akan tergantung uluran tangan pemerintah. Untuk itu diperlukan peran aktif dari masyarakat, LSM maupun pemerintah untuk memberikan bekal keterampilan kerja serta memperlakukan penderita kusta atau OYPMK seperti anggota masyarakat yang lain.
 
Kusta Bisa Sembuh
Sebenarnya sejak tahun 1981 sudah ditemukan obatnya, yaitu MDT (multi drug therapy) yang terdiri dari 3 macam obat. Untuk tipe PB masa pengobatannya 6 bulan dan tipe MB 12 bulan. Dengan pengobatan secara dini dan teratur dapat disembuhkan tanpa bekas (cacat) serta tidak menjadi sumber penularan.
Sejak target Eliminasi Kusta dicanangkan oleh WHO pada tahun 1991, telah banyak kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan maupun Provinsi Jawa Timur. Namun hambatannya cukup banyak dan kompleks, sehingga tujuan belum tercapai.

------------------------------
Memutus Mata Rantai

Berdasarkan data tahun 2011 masih ada 17 Kabupaten/Kota yang angka prevalensinya di atas 1/10.000 penduduk  atau prevalensi tinggi. Prevalensi rate penderita sebenarnya menurun tajam dibandingkan 1989 sebesar 9,51 per 10.000 penduduk menjadi 1.34 per 10.000 penduduk pada tahun 2000, akan tetapi sejak tahun 2000 s/d sekarang prevalensi rate masih belum berhasil diturunkan menjadi < 1 per 10.000 penduduk walaupun rata-rata penemuan penderita baru setiap tahunnya sekitar 4.000 - 5.000 orang.
Penemuan penderita baru di Jawa Timur sebanyak 4.653 pada tahun 2010 yang merupakan 1/3 dari jumlah penderita Kusta di Indonesia. Penderita kusta tersebar terutama di Pulau Madura dan pantai utara Pulau Jawa. Penemuan penderita baru tahun 2011 sampai dengan bulan September sebanyak 4.142 orang (75% dari penemuan penderita baru tahun 2010) dan 1.690 penderita baru berjenis kelamin perempuan (41%).
Guna mengatasi masalah medis maupun sosial penderita maupun orang yang pernah mengalami penyakit kusta (OYPMK) maka pelayanan yang dapat diberikan adalah:
1. Pengobatan profilaksis untuk semua kontak penderita penderita baru di Kabupaten Sampang untuk mencegah penularan dan kecacatan.
2. Penelitian untuk memutus mata rantai penularan penyakit kusta dilakukan dengan pemeriksaan serologis dan pengobatan pada kontak penderita kusta maupun OYPMK di Kabupaten Sumenep dan Pasuruan oleh RSK Sumberglagah Mojokerto bekerjasama dengan ITD (Institute of Tropical Desease) Universitas Airlangga Surabaya.
3. Penemuan penderita baru, pengobatan kusta, pengobatan reaksi kusta, pencegahan kecacatan dapat dilakukan di seluruh Puskesmas di Jawa Timur. Obat tersedia GRATIS di semua Puskesmas (951 Puskesmas) dan 80% petugas kusta sudah terlatih untuk menangani kusta. Untuk tahun ini penemuan penderita baru dilakukan di Kabupaten Sampang dengan kegiatan Rapid Village Survey (RVS) di seluruh desa yang ada (186 desa). Kegiatan serupa juga dilakukan di Sumenep, Bangkalan, Situbondo dan Pasuruan, tetapi tidak dilakukan secara total di semua desa.
4. Pengobatan kusta, pengobatan reaksi kusta, rehabilitasi medis, komplikasi dengan kusta dengan penyakit lain, dll dapat dilakukan secara GRATIS di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya, Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Mojokerto dan Rumah Sakit Kusta Kediri.
5. Rehabilitasi sosial untuk penderita kusta maupun orang yang pernah mengalami penyakit kusta dilakukan di Liponsos Babat Jerawat Benowo Kota Surabaya dan Liponsos Nganget Kabupaten Tuban.
6. Selain itu di Jawa Timur juga ada LSM peduli kusta yaitu : Yayasan kusta Indonesia (YKI) dan Perkumpulan Mandiri Kusta (PERMATA) yang berpusat di Kota Surabaya. Kegiatan dari kedua LSM ini adalah memberikan bantuan pelatihan ketrampilan kerja, bantuan modal kerja, beasiswa bagi anak penderita atau OYPMK, perbaikan rumah penderita atau OYPMK, dll. Untuk dukungan pendanaan program P2 Kusta dibantu oleh Netherlands Leprosy Relief.

--------------------------------


RSK Sumberglagah Menekan Stigma

Pemprov Jatim memiliki Rumah Sakit Kusta (RSK) di Sumberglagah, Kecamatan pacet, Mojokerto. Selain sebagai pusat pengobatan penderita, juga berusaha terus menerus mengikis stigma buruk pada penderita.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) RSK Sumberglagah Pacet, dr Nanang Koesnartedjo, mengatakan, permasalahan dalam upaya penyembuhan dan pemberantasan penularan kusta tidak semata dari sisi medis, sehingga pelayanan terhadap pasien harus dijalani dengan sabar dan kasih sayang.
Dokter Nanang mengatakan, stigma itu terjadi karena berbagai hal, sehingga kusta dianggap sebagai penyakit kutukan Tuhan. Juga karena kecacatan yang diderita para penderita. Banyak yang salah kaprah bahwa penyakit kusta tetap menular dan tidak bisa disembuhkan.
Stigma pula yang membuat penyandang kusta bersembunyi, rendah diri, dan mengucilkan diri. “Untuk mengatasi itu, RSK Sumberglagah, sebelum menerima pasien, membuat perjanjian dengan pengantar agar seusai penyembuhan, bersedia kembali menerima pasien,” kata  dokter lulusan Univesitas Airlangga yang telah dua puluh tahun bergelut dengan kusta.
Untuk memberikan pelayanan maksimal pada penderita dari daerah-daerah lain di Jatim, RSK Sumberglagah menyediakan angkutan khusus dan gratis. Angkutan bus mini ini dikhususkan bagi penderita kusta. Angkutan ini siaga di Terminal Mojosari setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 17.00.
“Agar penderita merasa diwongke dan terayomi, RSK selalu menerapkan komitmen Jujur, Ramah dan Tepercaya. Ini dilakukan supaya para pasien setelah sembuh dan keluar RS, mempunyai semangat hidup kembali dan tidak menyembunyikan diri dari masyarakat.
Agar masyarakat bisa menerima penderita kusta, saat HUT RSK Sumberglagah, digelar lomba catur, jalan sehat, dan gelar seni bersama masyarakat. Tahun 2011, lomba diikuti 70 peserta dari Blitar, Kediri, dan Mojokerto. Pemenang 1 mendapat hadiah uang pembinaan Rp. 500.000, kedua Rp. 350.000, ketiga Rp. 150.000 beserta tropi dan piagam
Selain itu juga digelar jalan sehat yang dihadiri Asisten III Sekdaprov Jatim, Dr Edy Purwinarto, Wakil Bupati Mojokerto, Sekretaris Dinkes Jatim, unsur Muspida Kecamatan Pacet dan masyarakat sekitar 5.000 orang. Jalan Sehat ini berhadiah kurang lebih 350 item barang, di antaranya kulkas, TV, kipas angin dan lain-lain. Hadiah utama memperebutkan satu buah sepeda motor.

Terima Nonkusta
Pada tahun 1996, RSK Sumberglagah membuat sebuah perubahan orientasi drastis. Rumah sakit yang tadinya hanya menerima dan mengurusi para penderita, kini membuka diri terhadap pasien nonkusta. Perubahan itu dilakukan dengan berbagai pertimbangan yang pada ujungnya guna mengintensifkan perawatan penderita kusta.
Dr Nanang menuturkan, pertimbangannya, jika hanya merawat penderita kusta secara monoton, tenaga paramedics setelah beberapa tahun satu per satu akan mengajukan pindah. Alasan lainnyayakni untuk mengoptimalisasikan prasarana dan sarana yang dimiliki rumah sakit.
“Dan hal terpenting adalah sebagai upaya pengikisan leprophobia. Prinsip isolasi tersebut justru sangat merugikan pasien dan juga masyarakat,” ungkap dr Nanang.
Para penderita kusta yang menyembunyikan diri menjadi penular yang potensial. Dengan menyatukan penderita kusta dan pasien umum, diharapkan ketakutan masyarakat akan terkikis. Namun pelayanan untuk umum tersebut tidak akan menggeser prioritas RSK Sumberglagah untuk mengobati para penderita kusta.
Justru, menurut dr Nanang yang pernah belajar bedah rekonstruksi penyakit kusta di  Etiopia (2001) ini,  rumah sakit dapat mencari dana dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk memperbaiki kualitas pelayanan bagi para penderita kusta. Jadi, label sebagai rumah sakit kusta tidak berubah.
Awalnya, ketika mengajukan kepada pemerintah untuk membuka layanan bagi pasien nonkusta, banyak yang tidak yakin apakah dapat dijalankan. Sebab selama ini RSK telah identik dengan penyakit kusta. “Dulu, orang yang lewat rumah sakit ini pasti lari,” tutur dr Nanang.
Letak rumah sakit yang tidak strategis dan terpencil juga menjadi kendala. Sejak tahun 1996, pelayanan untuk umum dibuka dengan 42 tempat tidur untuk pasien nonkusta. Dokter-dokter ahli pun didatangkan. Agar pelayanan penderita kusta juga membaik, para dokter yang bekerja sebagai dokter umum di Sumberglagah berkewajiban memberikan pelayanan pemeriksaan dan bedah gratis kepada penderita kusta serta keluarganya.
Masih kata Nanang, perlahan-lahan warga masyarakat sekitar Sumberglagah, bahkan dari daerah yang cukup jauh, mulai berdatangan berobat. Para pasien nonkusta yang berobat, menurut perawat Suwoto, bahkan tidak berkeberatan tempat pendaftaran pasien disatukan. Tidak ada tembok tinggi atau pagar yang memisahkan.

Tidak Takut
Ponidi (52), warga Pacet yang tengah mengantarkan anaknya berobat, mengaku tidak takut tertular kusta. Sebab menurut Ponidi, mereka sudah ditangani dokter yang ahli. “Kalau tidak, masak mereka berani buka untuk umum,” ujarnya.
Alhasil, tempat tidur yang disediakan selalu penuh. Bukan mensyukuri bahwa semakin banyak orang yang sakit, namun hal itu setidaknya menunjukkan bahwa RSK masih menjadi pilihan. Selain itu, harga pun masih jauh lebih murah dibandingkan rumah sakit swasta. Menurut data pendapatan RSK pada tahun 2001 sekitar Rp 1,5 miliar, tahun 2002 sebesar Rp 2,1 miliar dan 2011 Rp 12 miliar
Sebagian penghasilan rumah sakit digunakan untuk menyubsidi silang penderita kusta. Selain itu beberapa fasilitas ditambahkan guna meningkatkan pelayanan, seperti gedung rehabilitasi medik dan pengolah limbah. Gedung dan pengolah limbah diresmikan Asisten III Sekdaprov Jatim November 2011.(Jok, Hjr)

Advanced Search

   Produk SKPD