MAJALAH POTENSI

Majalah Potensi terbit tiap 2 minggu

Edisi Januari 2012

PAKDE LARANG PUSPA AGRO JUAL BUAH IMPOR

Jumat, 27 Mei 2011 | 14:21



Pasar Induk Puspa Agro di Jemundo Sidoarjo dihajatkan untuk memberdayakan buah lokal. Karena itu terasa tidak elok bila pasar itu dibanjiri buah impor. Apalagi Jawa Timur memiliki aneka ragam buah-buahan seperti jeruk, anggur, mangga, manggis, pisang, nanas, apukat, jambu biji, jambu air, rambutan, salak, durian, sirsat, dan apel. Gubernur Jawa Timur, Dr. Soekarwo menaruh perhatian serius pada realitas ini.
Buah lokal tentu saja memiliki kelebihan. Kualitasnya bagus, banyak mengandung vitamin, tidak diberi pengawet, dan masih segar karena baru dipetik dari kebun. Sedangkan buah impor impor ditengarai mengandung bahan pengawet sejenis merkuri yang sangat merugikan dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Selain itu diduga juga mengandung obat anti hama dan dilapisi lilin. Untuk memastikannya memang masih diperlukan penelitian dan uji labolatorium.
Itulah sebabnya banyak kalangan menyayangkan banyaknya buah impor dari China dan Thailan membanjiri pasar tradisional dan modern di Jawa Timur, termasuk Pasar Induk Puspa Agro. Apalagi buah-buahan impor itu sudah begitu memasyarakat, sedangkan buah-buahan tropis asal negeri sendiri justru terlupakan. Kini hampir semua pedagang buah di pasar Puspa Agro menjual buah-buahan impor seperti jeruk dan apel asal China.
Gubernur Soekarwo meminta pedagang di Puspa Agro dan pasar tradisional lainnya tidak menjual buah jeruk impor yang berwarna kuning. "Buah jeruk asal China ini sangat berbahaya karena mengandung merkuri yang menyebabkan gangguan kesehatan seperti bayi lahir cacat, kemandulan, dan impotensi bagi laki-laki yang mengomsumsinya," kata Pakde Karwo pada pedagang buah saat mengunjungi stan buah Puspa Agro.
Dalam kunjungi itu Pakde didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan beberapa pejabat lainnya serta Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri, La Nyalla Mahmud Mattalitti dan Direktur Utama Puspa Agro, Erlangga Satriagung.
Di hadapan para pedagang dan pembeli, Pakde Karwo meminta para pedagang menjual jeruk lokal yang dari segi kualitas bisa bersaing dengan jeruk China. "Jeruk maupun buah lokal pasti lebih sehat dibanding buah asal luar negeri, karena tidak bermerkuri dan segar karena baru dipetik dari kebun," katanya.
            Pemilik stan buah di Puspa Agro, Slamet Riyadi mengaku kesulitan mendapatkan jeruk lokal yang kualitas dan harganya bisa menyaingi jeruk asal China. Saat ini harga 1kg jeruk China hanya Rp13 ribu. Itu sama dengan harga jeruk keprok siam asal Banyuwangi. Namun banyak pembeli memilih jeruk China karena warnanya kuning mencolok dan lebih manis dibanding jeruk keprok siam.
Slamet mengaku tidak tahu kalau jeruk asal China yang dijualnya mengandung bahan pengawet yang dalam jangka panjang membahayakan kesehatan manusia. "Wah, saya hanya pedagang Pak. Saya baru tahu setelah diberitahu Pakde Karwo," katanya. "Kalau ada jeruk lokal yang kualitas dan harganya lebih murah dari jeruk Cina, saya akan menjualnya dan pasti akan dicari pembeli," tambahnya.
           Direktur Puspa Agro, Erlangga Satriagung mengakui, masuknya buah impor sangat merugikan petani buah Jawa Timur. Apalagi jeruk keprok siam Banyuwangi sebenarnya tidak kalah kualitasnya. "Kita akan mengimbau pedangan untuk tidak menjual buah impor di Puspa Agro. Kami juga akan memberikan kemudahan kepada petani lokal untuk memasukkan hasil panen buahnya ke Puspa Agro," katanya.
          Ia mengakui, tujuan utama dibangunnya pasar Induk Puspa Agro untuk memberikan kesempatan kepada para petani menjual panennya kepada pembeli tanpa melalui tengkulak atau perantara. "Kita akan terus melakukan sosialisasi tentang keberadaan pasar Puspa Agro kepada seluruh petani di Jawa Timur," katanya.
            Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan I Tahun 2011 ini, impor buah-buahan, terutama jeruk mandarin. Apel, dan pir dari China, memang meningkat tajam. Impor jeruk mandarin pada Januari-Maret 2011 senilai 85.352.866 dolar AS. Padahal pada periode yang sama tahun lalu masih berkisar 68.103.952 dolar AS. Itu berarti melonjak 25,32 persen.
Kondisi yang sama terjadi pada impor buah pir. Bahkan, kenaikan nilai impor pir jauh lebih tinggi. Masih merujuk data BPS, impor pir pada Januari-Maret 2011 mencapai 30.392.987 dolar AS. Melonjak 168,56 persen dibanding Januari-Maret 2010 yang hanya 11.317.116 dolar AS.
Ketua Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia (AESBI), Hasan Widjaja mengaku tidak terlalu kaget dengan naiknya angka impor buah dari China yang memiliki banyak keunggulan, seperti harga yang lebih rendah dan ketersediaan pasokan yang melimpah.
Ia menunjuk contoh jeruk mandarin yang bisa dijual ke konsumen Rp 17.000 per kilogram. Bandingkan dengan jeruk medan atau jeruk pontianak yang dijual Rp 20.000 per kilogram. "Para pedagang otomatis memilih jeruk impor,” ujarnya.
Ketersediaan pasokan China karena negeri itu memiliki kawasan produksi buah-buahan dan sayuran yang memadai, baik luas maupun teknologi penanamannya. Mereka bisa memproduksi buah-buahan dan sayuran terus-menerus sepanjang tahun tanpa harus terhambat masalah cuaca.
Sebaliknya, produksi buah-buahan lokal dari beberapa daerah sering mandeg akibat cuaca buruk. Indonesia juga tidak memiliki kawasan khusus yang dijadikan lumbung produksi buah. Akibatnya produksi buah-buahan lokal timbul tenggelam. "Pedagang jelas tidak mau kalau pasokannya tidak menentu," katanya.
Hasan mengakui, ada beberapa jenis buah yang memang harus diimpor karena Indonesia tidak memproduksi, seperti pir. Di sisi lain, permintaan pir dari masyarakat terus meningkat yang untuk memenuhinya, impor merupakan jalan satu-satunya.
            Masyarakat perlu tahu, pengiriman buah-buahan impor biasanya memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan dari waktu panen sampai tiba di tangan konsumen. Oleh karena itu biasanya buah impor setelah dipanen disemprot dengan zat antihama dan juga dilapisi dengan sejenis lilin, agar kulitnya tidak kering dan tetap kilap hingga terkesan segar.
Karena itu buah-buahan impor dicuci air saja tidak cukup. Disarankan untuk mengupas kulitnya sebelum dikonsumsi. Inilah kelemahan buah impor dibanding buah lokal. Selain sudah lama, sudah tak segar lagi, kemungkinan gizinya juga sudah jauh berkurang. Pada beberapa buah yang memiliki nutrisi terbanyak di kulit, seperti apel, justru terbuang ketika dikupas. (Naryo)
 
 -----------------------------

JAWA TIMUR PUNYA 11 JENIS PRODUK UNGGULAN BUAH

Propinsi Jawa Timur saat ini mempunyai 11 jenis buah-buahan produk unggulan yang sebagaian telah di ekspor ke Jepang dan Eropa. Buah unggulan tersebut  diantaranya mangga, manggis, pisang, nanas, apukat, jambu biji, rambutan, salak, durian, sirsat dan apel. Ujar Ketua Asosiasi Pemasar Hortikultura Indonesia (Asperti) Jawa Timur Ir Djoko Sudibyo beberapa waktu yang lalu di kantornya.
Buah Jawa Timur yang di ekspor ke Jepang dan negara-negara Eropa diantaranya Mangga berbagai jenis dengan ekspor pada 2007 menpai 69,22 ton dan 2008 sekitara 62,50 ton. Buah mangga hampir merata di daerah Jawa Timur tetapi paling banyak berasal dari Probolinggo dan sekitarnya.
            Kemudian buah pepaya pada 2007 ekspsornya mencapai 21,28 ton dan pada 2008 turun menjadi 19,40 ton, setiap daerah di Jawa Timur merupakan penghasil buah pepaya tetapi paling banyak berasal dari Blitar, Kediri dan sekitarnya.
            Pisang Jawa Timur juga banyak yang di ekspor ke negara-negara Eropa dan Jepang serta Hongkong. Pada 2007 ekspor pisang mencapai 89.82 ton dan pada 2008 meningkat menjadi 96,24 ton. Buah pisang ini hampir ada di setiap daerah di Jawa Timur tetapi paling banyak khususnya pisang mas kirana terdapat di daerah Lumajang.
            Selanjutnya buah rambutan pada 2007 Jawa Timur mampu ,mengekspor sekitar 94,48 ton kemudian pada 2009 mingkat menjadi 113,09 ton. Buah rambutan hampir setiap daerah kabupaten/kota mempunyai tetapi yang paling banyak terdapat di Blitar, Malang, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Malang, Nganjuk serta Jombang.
            Buah-buahan Jawa Timur yang di ekspor tersebut sebagaian besar masih merupakan buah-buah segar dan hanya sebagaian ada yang di ekspor dalam bentuk olahan. Kelemahan/kekurangan buah-buahan asal Jatim belum bisa diproduksi secara kontinyu atau teurs-menerus sehingga banyak saingannya. 
            Buah-buahan asal Jawa Timur di luar negeri banyak saingannya yakni dari negera-negara tetangga seperti dari Cina, Malaysia, Thailand dan pendatang baru Australia.
            Petani buah-buahan asal Jawa Timur sebagaian masih belum bisa menjaga agar hasil panennya tetap baik dan tidak rusak. Jika hasil panen buah di jaga kualitasnya  agar jangan sampai rusak atau cepat busuk harganya akan tetap baik di luar negeri. Jika buah tampak lecet lulitnya atau busuk dipastikan harganya akan turun.
            Dicontohnyannya cara pemanen pisang di Kostarika Afrika dengan di Jawa Timur berbeda. Di Negara Kostarika para petani memanen pisang buahnya dijaga betul agar jangan sampai jatuh menyentuh tanah dan tidak sampai lecet. Tetapi di negara kita cara memanen pisang masih menggunakan cara-cara  tradisional, buah pisang yang siap panen di potong begitu saja batangnya sampai jatuh ke tanah, akibatnya buah lecet dan cepat busuk. Hal ini yang membuat harga pisang turun dratis.  (ryo)
              
 

Advanced Search

   Produk SKPD