MAJALAH POTENSI

Majalah Potensi terbit tiap 2 minggu

Edisi Januari 2012

MADURA JADI SENTRA SAPI

Senin, 24 Agustus 2009 | 12:08


Pulau Madura ditargetkan Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo menjadi sentra ternak sapi. Upaya apa saja yang telah dilakukan untuk merealisasikan program yang digulirkan gubernur sejak Mei? Dalam rangka meningkatkan perekonomian di Madura dan pemerataan ekonomi di Jatim setelah diresmikannya Jembatan Suramadu, Gubernur Jatim yang akrab disapa Pakdhe Karwo menyampaikan kebijakannya untuk menjadikan Pulau Madura sebagai sentra ternak sapi. Untuk merealisasikan itu, dilakukan pemetaan wilayah yang akan dijadikan sentra ternak, kultur masyarakat, hingga kemampuan ekonomi di empat kabupaten di Madura. Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Jatim kini tengah membuat pemetaan wilayah yang potensial untuk pengembangan peternakan sapi. Kepala Balitbang Jatim, Drs Chusnul Arifin Damuri MM MSi saat dikonfirmasi menjelaskan, peternakan sapi di Madura perlu dipetakan karena tidak semua daerah cocok untuk pengembangan ternak sapi. Balitbang juga meneliti sasaran pasar sapi yang potensial, tentunya yang dekat dengan lokasi sehingga potensi lokal dapat dikembangkan. “Idealnya dengan dibukanya jalur Surabaya Madura lewat Suramadu dapat menjadikan perekonomian Madura juga meningkat. Untuk itu perlu riset agar pengembangannya tepat, efektif, dan efisien. Sehingga masyarakat Madura lebih makmur karena menjadi masyarakat peternak,” ungkapnya. Ikon dan Potensi Sapi Madura sebagai salah satu sapi lokal Indonesia mempunyai potensi sangat besar untuk dikembangkan. Beberapa keunggulannya, daya tahan tinggi terhadap stres dan penyakit, tingkat kesuburan tinggi, kemampuan adaptasi tinggi terhadap kualitas pakan yang rendah, serta kebutuhan pakan yang lebih sedikit dibanding sapi impor. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang, Prof Dr Ir Hartutuik MP menjelaskan, sapi Madura memang berpotensi baik dan sangat memungkinkan dikembangkan. Namun beberapa hasil penelitian disimpulkan bahwa ada kecenderungan terjadi penurunan genetik sapi lokal Indonesia. Selain itu, populasi pertumbuhan sapi juga mengalami penurunan (populasi negatif) kurang lebih 12,3 persen. Penurunan kualitas bibit yang meliputi penurunan sifat produksi dan reproduksi itu juga terjadi pada sapi Madura. “Penyebab dasarnya bisa akibat rendahnya mutu bibit, adanya tren penurunan pertumbuhan yang dapat mengakibatkan kepunahan apabila terus berlangsung,” ungkapnya. Menurutnya, atas kebijakan gubernur untuk menetapkan Pulau Madura sebagai sentra ternak sapi, diharapkan mampu menyentuh persoalan mutu bibit sapi Madura dan untuk menjaga kemurnian plasma nutfah Indonesia. Dari data Dinas Peternakan Jatim pada 2008 diketahui, populasi sapi Madura di empat kabupaten di Madura sebanyak 601.795 ekor yang tersebar di empat kabupaten. Seperti d Bangkalan terdapat 142.567 ekor, Sampang 123.438 ekor, Pamekasan 97.899 ekor, dan Sumenep 237.891 ekor. Dari total tersebut, sapi Madura memberikan kontribusi sebesar 20 persen pada terhadap sapi potong di Jatim. Ketua Dewan pakar Jatim, Daniel Rosyid menambahkan, pengembangan peternakan sapi di Madura cukup potensial. “Sapi Madura merupakan aset plasma nutfah asli yang harus tetap dilestarikan. Untuk itu jangan sampai nanti jika peternakannya dikembangkan melalui persilangan dengan sapi impor dapat menghilangkan identitas sapi Madura,” ujarnya. Ia menuturkan, jika saat ini populasi sapi Madura berkurang, maka memang perlu dibudidayakan lebih intensif. Sehingga bentuk sapi Madura bentuk dan ukuran yang khas dapat menjadi ikon tersendiri. Bentuknya yang tidak terlalu gemuk jangan dipaksakan untuk digemukkan, karena itu adalah bentuk asli yang harusnya dipertahankan. ”Melalui ikon sapi Madura, pengembangan pada sektor pariwisata juga dapat dilakukan, misalnya melalui pertunjukan tradisi karapan sapi, hingga sajian kuliner khas daging sapi Madura yang dapat dinikmati wisatawan,” katanya. Ia memprediksi, proses pengembangan kawasan peternakan sapi dengan mempertahankan genetik asli sapi Madura, dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan dapat menjadi aset baru untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Madura. Aspek Dana Hingga kini belum ada kejelasan dana yang akan dikucurkan untuk menunjang program. Namun, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Diskop dan UMKM) Jatim mencoba memberikan alternatif melalui pemberdayaan koperasi dan UMKM. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jatim, Drs Braman Setyo MSi mengungkapkan, pihaknya kini telah menginventarisasi koperasi yang ada di Madura. Walau perkembangan koperasi kurang baik, namun melalui proses pembinaan akan mampu ditingkatkan. Di tiap kabupaten terdapat rata-rata 4-6 koperasi yang masih aktif. Koperasi itu akan dibina dan diarahkan pada sektor koperasi agribisnis untuk menunjang UMKM yang mengembangakan ternak sapi. “Kebijakan itu harus diimbangi dengan kebijakan anggaran khusus. Penyediaan sapi dapat difasilitasi Dinas Peternakan dan untuk pengembangan pendanaan dapat memberdayakan koperasi,” ungkapnya. Untuk pembiayaan, Pemprov Jatim akan bekerjasama dengan kalangan perbankan yang akan diambil dari pos Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu BUMN bank nasional.

Advanced Search

   Produk SKPD