Mendung Sedikit
24-34
MAJALAH POTENSI
Majalah Potensi terbit tiap 2 minggu
Edisi Januari 2012
Senin, 24 Agustus 2009 | 13:08
Jember berupaya menjadikan daerahnya berswasembada pangan. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Jember berupaya meningkatkan produksi pangan lewat kelompok tani (Poktan) Poktan sebagai wadah petani, tidak hanya untuk membagi-bagikan pupuk, tetapi untuk menumbuhkan kreativitas dan meningkatkan produktivitas pertanian. Menurut Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan (Disperta) Jember, Ir Hari Wijayadi, Jember saat ini memiliki 132 poktan yang didampingi penyuluh pertanian lapangan (PPL). PPL memberikan penyuluhan delapan kali dalam satu musim tanam. Pemandu lapangan yang bekerjasama dengan Disperta dalam rangka peningkatan produksi jagung di antaranya Pioner, Bisi 2 dan Nusantara. Pengetahuan yang diberikan mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemupukan, pemberatasan hama dan pemanenan. Petani juga mendapatkan pengetahuan teknologi pertanian meliputi cara tanam dan penggunaan pupuk berimbang. Disperta terus menekankan agar menggunakan pupuk pendamping, berupa pupuk organik untuk melengkapi kekurangan pupuk. Petani sudah bisa membuat sendiri. Namun tetap berupaya memenuhi kebutuhan pupuk bagi seluruh petani mengingat kebutuhan pupuk bersubsidi melebihi stok. Dia menambahkan, alokasi pupuk tahun 2009 sebesar 85.472 ton untuk sub sektor tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan dan peternakan. Sementara tahun lalu sebesar 84.782 ton, sebelum mendapat tambahan di akhir tahun sebesar 5.750 ton. Alokasi untuk sub sektor tanaman pangan dan hortikultura tahun ini sebesar 77.912 ton dalam setahun. Jumlah kebutuhan pupuk yang seharusnya lebih dari 121 ribu ton. Salah satu kegiatan pelatihannya yakni Pioneer Ekspo 2009 dengan materi varitas jagung, umur tanam jagung, pemupukan dan sebagainya yang digelar di Dusun Krajan, Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan. Pesertanya juga petani dari Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo, sekitar 2.000 orang dibagi menjadi 5 kloter. Ada berbagai tanaman pangan yang saat ini dikembangkan, di antaranya jagung, padi, dan ketela. Dari ke tiga tanaman itu, yang paling menonjol adalah jagung. Selain itu, Pemkab juga memiliki beberapa progam untuk meningkatkan produksi pangan. Di antaranya program Peningkatan Mutu Intesifikasi (PMI) dan Sekolah lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Program ini sudah dijalankan sejak 2004. Dengan paduan teknologi pertanian dan program pertanian, saat ini mampu menghasilkan jagung 283.376 ton tiap tahun. Sebelumnya, tahun 2004-2005 produksi jagung mencapai 300 ribu ton, tahun 2009 menjadi 400 ribu ton. Jember juga mampu menyediakan jagung untuk daerah lain sebab kebutuhan jagung Jember dalam satu tahun mencapai 17.531 ton pertahun. Produksi yang rata-rata 283.376 ton/tahun, membuat Jember surplus tinggi. Ia menjelaskan, kebanyakan jagung yang ditanam di Jember jagung hibrida. Dari seluruh luas lahan pertanian yang mencapai 86.000 hektar, lebih dari 80 % menanam jagung hibrida. Jagung komposit hanya ditanam di ladang dan pekarangan rumah. Harga Setelah produksi meningkat, persoalan lain muncul, yakni harga jagung yang masih rendah. Persoalan ini selalu uncul dari tahun ke tahun. “Harga jagung di pasaran naik turun, petani banyak yang mengeluh,” katanya. Jagung di Jember pada umumnya dijual gelondongan dan bentuk pipil. Harga satu ton jagung gelondongan Rp 3000 per kg, sedangkan dalam bentuk pipil Rp 1.900-2.000 per kg. “Harga ini dunilai petani Jember belum menjanjikan,” katanya. Dikatakannya, bahwa bidang pertanian, akan bisa lebih maju kalau dalam kegiatan yang dilakukan dibarengi dengan perencanaan yang baik. Selain itu juga harus ada sistem yang baku dan bisa diandalkan, sehingga setiap kegiatan yang dijalankan bisa terarah.
