MAJALAH POTENSI

Majalah Potensi terbit tiap 2 minggu

Edisi Januari 2012

APBD 2013 PENGUNGKIT PEMBANGUNAN

Rabu, 6 Februari 2013 | 11:35


Total Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan 38 Kabupaten/kota Jatim 2013 sebesar Rp 120 triliun atau 12 persen dari Produk Regional Domistik Bruto (PDRB) 2012 sebesar Rp 1.000 triliun. Uang yang dikelola pemerintah itu akan difokuskan sebagai pengungkit jalannya roda pembangunan.
“Uang pemerintah Jatim yang hanya 12 persen tidak ada apa-apanya, tetapi harus bisa sebagai penggerak kesuksesan pembangunan yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” ujar Gubernur Dr Soekarwo.
Pemerintah harus merumuskan keputusan yang tepat untuk bisa mengungkit 98,80 persen uang yang beredar di masyarakat. Uang yang beredar di masyarakat itu 20 persennya banyak dipengaruhi oleh pelayanan publik di birokrasi.
“Untuk pelayanan publik di Jatim dijamin cukup baik dibanding nasional, tetapi masih ada kelemahan dalam hal infrastruktur,” katanya.
Pakde Karwo, sapaan akrab gubernur mengatakan, setiap perencanaan harus didukung dengan uang. Uang adalah darahnya pembangunan sementara  tulang belakangnya adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jika keuangannya tidak lancar, proses pembangunan terhambat. Oleh sebab itu belanja diberikan kepada SKPD dan yang lain untuk pembiayaan kebutuhan program-program yang  mendadak seperti bencana banjir dan kegiatan lainnya.
Pada 2013 belanja dinas, badan dan kantor SKPD dikurangi secara signifikan. Hal ini dilakukan karena kemampuan daya beli masyarakat semakin naik tetapi barang yang mau dibeli di pasar tidak ada. Hal itu menandakan pertumbuhan ekonomi di Jatim semakin baik tetapi PAD dalam posisi kurang bagus. Kondisi ini terjadi salah satu contohnya karena pada 2010 dan 2011 industri mobil di Thailand tidak bisa berproduksi karena negara tersebut dilanda banjir besar.
“Jadi ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara produsen dan konsumen,” ujar Pakde Karwo.
Menurut data BPS Jatim, selama tahun kalender Januari-September 2012 (c-to-c) pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 7,22 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi China 7,1 persen. Pertumbuhan ini merupakan hasil kerja keras berkeringat dan cerdas. Sementara pertumbuhan ekonomi Jakarta hanya tumbuh 6,5 persen atau sama dengan nasional, disusul Jateng 6,5 persen, Jabar 6,31 persen, Banten 5,9 persen dan DI Yogyakarta cuma 3,5 persen.
“Kesemuanya itu hasil kerja keras dan tepat sasaran antara pemerintah dan masyarakat Jatim. Jika hal itu dipertahankan dan ditingkatkan bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Jatim tahun ini bisa sampai 8 persen,” tutur Pakde.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi biasanya menurut teori ekonomi linier dibarengi dengan inflasi yang tinggi pula. Tetapi di Jatim tidak berlaku karena sampai Oktober 2012 inflasi Jatim hanya 3,71, Nopember 3,9 persen dan selama 2012 inflasi Jatim 4,50 persen. Teori linier tidak berlaku di Jatim karena setiap menjelang Puasa, Lebaran, Natal dan tahun baru ongkos angkut kebutuhan bahan pokok masyarakat dari pabrik ke pasar disubsidi dan dibiayai pemerintah.
Dengan memotong jalur distribusi empat bahan pokok beras, gula pasir, minyak goreng dan tepung terigu, di masyarakat harganya tetap sama dengan harga pabrikan murah. Meskipun saat ini diperlakukan pasar bebas pada saat tertentu pemerintah harus tetap bertindak, agar harga tetap stabil dan berdampak terkendalinya inflasi. “Langkah seperti ini akan tetap dilakukan Pemprov Jatim sampai 2014,” tegasnya.
 
Perdagangan Antarpulau
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jatim pada 2013 berupaya meningkatkan strageti pengembangan sektor industri dan perdagangan domestik dengan meningkatkan perdagangan antarpulau dan antardaerah.
Kepala Disperindag Jatim, Ir Budi Setiawan MT MM, mengatakan, perdagangan atau ekspor antarpulau dari tahun ke tahun terus merangkak naik. Pada 2009 perdagangan antarpulau Jatim hanya Rp 192 triliun naik menjadi Rp 204,2 triliun pada 2010, kemudian meningkat menjadi Rp 222,7 triliun pada 2011 dan pada 2012 diprediksi meningkat menjadi Rp 240 triliun lebih.
            Untuk mencapai target tersebut diperlukan kerja keras dengan menambah dan memperbanyak perwakilan dagang Jatim di daerah lain di Indonesia. Data Disperindag pada 2010, Jatim telah membuka perwakilan dagang di Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusatenggara Timur, dan Kalimantan Selatan.
Memasuki 2011 Jatim terus melebarkan sayapnya dengan menambah perwakilan dagangnya dari empat menjadi 10 perwakilan dagang yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Kalimantan Barat, dan Maluku.
            Membuka perwakilan dagang di provinsi lain menguntungkan perdagangan kedua belah pihak. Dia menyontohkan, kapal yang mengirim beras ke Kupang kembalinya ke Surabaya bisa membawa komoditi dari Kupang. Kalau tidak dilakukan seperti itu beras dari Jatim di Kupang harganya menjadi mahal karena kapal yang membawa beras ke Kupang kembali ke Jatim tidak membawa produk apa-apa.
            Pada 2013 Jatim terus berusaha membuka perwakilan dagang lagi khususnya di wilayah Timur Indonesia.  Sektor Industri dan Pedagangan ini diharapkan dapat memberi masukan besar selain ekspor dan perdagangan antarpulau agar ke depan dapat membantu pasar dalam negeri. 
Data terakhir, perdagangan keluar pulau mencapai Rp 383 triliun dan saldo sampai dengan September 2012 mencapai Rp 36 triliun atau 39 miliar dollar AS. Rata-rata pertumbuhan perdagangan antar pulau Jatim 19 persen per tahun. Ini menandakan kondisi kekuatan ekonomi pasar dalam negeri kuat. Dengan kondisi itu Jatim tidak akan terganggu krisis ekonomi di masa mendatang. (ryo)

Advanced Search

   Produk SKPD