PERBULAN JATIM PRODUKSI LIMBAH B3 TUJUH RIBU TON

Kamis, 20 Juni 2013 | 12:53


Jatim memiliki potensi jumlah limbah yang cukup besar dan meningkat dari tahun ketahun baik limbah padat, lumpur dan limbah cair dengan kategori limbah B3. Total limbah B3 yang dihasilkan sekitar 7 ribu ton/bulan.

            Hal itu disampaikan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, Indra Wiragana saat Pengukuhan dan Sarasehan Asosiasi Pengelolaan Limbah B3 dan Sampah Indonesia (Apelsi), Kamis (20/6).

            Dikatakannya, sebagai gambaran potensi timbulan limbah B3 di Gebangkertosusilo saja diprediksi sangat besar, yaitu limbah padat sebesar 516.000 ton/bulan, limbah lumpur 590.270 ton/bulan dan limbah cair 712.450 ton/bulan. Sedangkan pembangunan pusat sarana pengolah limbah B3 yang direncanakan di Cerme, Gresik hingga saat ini belum terealisasi, karena adanya hambatan dalam situasi sosial masyarakat.

“Pembangunan pusat limbah B3 ini sangat mendesak mutlak diperlukan. Jika tidak segera terealisasi akan beresiko menyebabkan kerusakan lingkungan sangat serius di Jatim,” katanya.      

            Indra berharap, adanya Apelsi ini nantinya diharapkan dapat membantu permasalahan penanganan limbah B3 dan mendorong kepatuhan dunia usaha maupun terwujudnya prasarana pengelolaan limbah B3 yang memadai di Jatim.

            Hal terpenting yang membedakan pengolahan limbah B3 dengan pengolahan limbah lain adalah pertanggungjawaban hukumnya. Pada limbah non-B3 hasil akhir pengolahan lebih penting dibandingkan dengan cara mencapai hasil tersebut. Artinya, bila suatu perusahaan telah memenuhi baku mutu limbah, maka perusahaan tersebut telah berhasil melakukan pengolahan limbah.              

            Menurutnya, pengolahan limbah B3 tidak selalu berkutat pada pendekatan pengolahan limbah, tetapi kini limbah B3 bisa dipandang sebagai barang yang memiliki nilai ekonomis melalui tahapan pemanfaatan kembali sebagai bagian dari pendekatan konsep produksi bersih. Dengan demikian pengolahan limbah B3 bukan saja harus memenuhi peraturan yang berlaku, tetapi juga sebisa mungkin mendapatkan nilai manfaat.

Ketua Umum Apelsi, Noerhasanuddin mengatakan, Jatim merupakan salah satu daerah penghasil Limbah B3 terbesar ke 3 Indonesia. Masyarakat pada umumnya tidak banyak tahu bahwa adanya pabrik-pabrik pengolah bahan kimia yang bermunculan, tetapi baru diketahui setelah terjadi permasalahan muncul yang berdampak meresahkan masyarakat.

Menurutnya, perusahaan-perusahaan industri yang telah memperoleh perijinan, kenyataannya pemerintah tidak mampu melakukan kontrol yang kontinyu yang disebabkan karena keterbatasan sumber daya manusia.

Dengan adanya permasalahan itu, maka diperlukan lembaga asosiasi yang berusaha membantu pemerintah dalam mengawasi dan mengontrol pebrik-pebrik industri pengolah B3. Peran asosiasi ini sangat penting karena dapat membantu secara langsung dari program-program pemerintah, serta mengawasi terhadap pabrik pengolah maupun pemanfaatan limbah B3, sehingga dengan peran ini maka perusahaan yang dapat izin pemerintah daerah akan terkontrol.        

Dikatakannya, asosiasi ini akan membantu menertibkan pencemar dengan memberikan sertifikat kelayanan terhadap beroperasinya pabrik pengolah dan pemanfaatan limbah B3. “Apelsi akan menertibkan dengan mencatat dalam data base dalam rangka penertiban administrasi strategik,”katanya. (jal,sti)

Advanced Search

   Produk SKPD