DISNAK - DPRD SOSIALISASIKAN PERDA PEMOTONGAN SAPI BETINA

Jumat, 26 April 2013 | 14:00


Mahalnya harga daging sapi yang kini mencapai Rp 32 ribu per kilogram untuk bobot hidup kian menggiurkan bagi para peternak. Bahkan tak jarang pada peternak lebih memilih untuk menjual sapi betina produktifnya untuk memperoleh keuntungan harga tinggi. Namun diterbitkannya Perda pelarangan pemotongan sapi betina produktif kini belum terlalu dipahami oleh peternak dan pedagang.
Menyikapi hal itu, Dinas Peterakan Jatim bersama Komisi B DPRD Jatim kini terus melakukan sosialisasi Perda Timur No 3 Tahun 2012 tentang Pengendalian Ternak Sapi dan Kerbau Betina Produktif secara intensif.
“Perda larangan pemotongan sapi betina ini masih baru, sehingga banyak peternak dan pedagang yang belum mengerti. Targetnya tahun ini, kami bersama Komisi B (DPRD Jatim) akan terus gelar sosialisasi intensif. Tahun depan jika masih terjadi baru kita akan bicarakan sanksinya,” kata Kepala Dinas Peternakan Jatim, Ir Maskur, Jumat (26/4).
Menurut dia, pengecualian pemotongan sapi betina bisa dilakukan jika kondisi tua atau tak lagi produktif, sakit, atau majer (tak bisa beranak). Untuk itu, pihaknya tetap berkoordinasi dengan RPH (rumah pemotongan hewan) karena dianggap sebagai palang pintu utama untuk pengendalian pemotongan sapi betina guna penerapan Perda.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Syukur Irwantoro mengatakan, larangan pemotongan sapi betina produktif dijelaskan dalam UU Peternakan dan Kesehatan Hewan No18/2009. Dalam UU tersebut dijelaskan, tindakan itu (pemotongan sapi betina) dapat dikenai hukum pidana kurungan paling singkat 3-9 bulan dengan denda Rp 5-25 juta.
Tapi ia pun mengakui masih kesulitan mencegah peternak menjual sapi perah betina produktif untuk kemudian dipotong. Menurut penjelasannya, laju pemotongan sapi perah produktif belakangan bisa direm sejak November 2012.
Pasalnya, betina produktif sudah dihargai bagus sebagai ternak perah, induk kualitas baik bahkan dibanderol di rentang Rp 14-15 juta per ekor. Artinya, sapi diperdagangkan sebagai sapi perah bukan lagi untuk pedaging. Ia pun memastikan populasi sapi perah dan produksi susu nasional dari waktu ke waktu meningkat.
Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Jawa Timur, Muthowif mengakui sangat sulit mencapai swasembada daging sapi pada 2014, apabila praktik pemotongan sapi betina produktif masih marak.
Menurut dia sudah saatnya provinsi lain mencoba mandiri beternak sapi dan menghasilkan daging bagi daerahnya sendiri. "Bukan terus-terusan bergantung daerah lain. Sudah satu tahun terjadi pemotongan sapi betina produktif di Jawa Timur," kata Muthowif. (afr)

Advanced Search

   Produk SKPD