PELESTARIAN MANGROVE MAMPU ATASI PERUBAHAN IKLIM

Selasa, 12 Februari 2013 | 12:32


Pelestarian tanaman mangrove dan pemeliharaan pantai yang baik mampu mengatasi perubahan iklim yang kini tengah terjadi di belahan bumi. Pantai yang luas dibatasi oleh hutan mangrove, dilindungi oleh hamparan rawa payau dan padang lamun, serta terumbu karang yang sehat dapat bertahan lebih baik terhadap gempuran fenomena kenaikan muka laut, gelombang badai dan pengasaman.
    Koordinator Divisi Peningkatan Kapasitas Riset dan Pengembangan, Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim, Agus Supangat, Selasa (12/2) mengatakan, habitat pantai terbukti dapat mengembalikan areal ekosistem karbon biru yang telah hilang terutama dari aspek ekologi. Pemulihan tersebut dapat mengembalikan jasa-jasa penting seperti kemampuan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam perairan panyau, membantu memulihkan stok ikan global serta melindungi pesisir dari badai bencana cuaca ekstrim.
    Dikatakannya, habitat pantai dapat menghentikan penyusutan dan degradasi penyerap karbon alami penting, sehingga berkontribusi terhadap emisi karbondioksida dan mitigasi perubahan iklim dalam jangka panjang. Negara di seluruh penjuru dunia terutama yang memiliki perairan dangkal relatif luas, berpeluang mengeksplorasi mitigasi emisi karbondioksida melalui upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem penyerap karbon biru yang dimilikinya.
    Saat ini, ekosistem pantai menyimpan karbon dengan laju setara dengan sekitar 25% peningkatan tahunan karbon atmosfer, yakni sebesar sekitar 2.000 Tera Gram Karbon per tahun. Dengan demikian, perluasan ekosistem karbon biru merupakan strategi yang dapat membantu negara memenuhi komitmen Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim.
    Sayangnya, dalam dua puluh tahun ke depan sebagian besar ekosistem penyerap karbon biru diperkirakan akan musnah, sehingga kemampuan tahunan untuk mengikat karbon akan menurun. Untuk mempertahankan situasi saat ini, butuh pengurangan emisi sebesar 4-8% sebelum tahun 2030 atau 10% sebelum tahun 2050.
    Pencegahan degradasi ekosistem penyerap karbon hijau dan biru dapat memberi dampak positif berupa pengurangan 1-2 kali volume emisi seluruh transportasi global, serta memberi manfaat tambahan bagi keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, mata pencaharian, obyek wisata, penelitian ilmiah dan sumber daya mineral.
    Dengan kata lain, pencegahan kehilangan penyerap karbon biru di lingkungan laut akan memberi kontribusi nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim dibandingkan dengan pencegahan penebangan hutan tropis. Perlindungan tersebut antara lain mencakup penetapan pengaturan reklamasi pantai, penebangan hutan bakau, penggunaan pupuk, pembuangan limbah organik, penebangan hutan di darat, perikanan serta penetapan garis pesisir.
Agus menambahkan, peningkatan ketangguhan masyarakat pesisir maupun komunitas biota ekosistem pantai dan laut, menjadi salah satu faktor kunci dalam mempertahankan peran lingkungan laut sebagai sumber ketahanan pangan dan mata pencaharian.
Ada beberapa opsi agar upaya pemulihan penyerap karbon biru yang krusial ini dapat berjalan. Pertama, memperjuangkan dalam negosiasi iklim PBB untuk perlindungan serta pengelolaan pantai dan ekosistem laut. Kedua, segera melindungi setidaknya 80% luas padang lamun, rawa payau dan hutan mangrove melalui pengelolaan yang efektif. Ketiga, memulai latihan pengelolaan sehingga mengurangi ancaman dan mendukung potensi pemulihan penyerap karbon biru. Keempat, menjaga ketahanan pangan dan mata pencaharian berbasis ekosistem terpadu untuk meningkatkan ketahanan manusia dan sistem alam terhadap perubahan. Terakhir adalah mengimplementasikan strategi saling menguntungkan pada sektor berbasis sumber daya laut.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan wilayah yang didominasi lautan. Dengan luas ekosistem padang lamun sekitar 3,30 juta hektare dan luas ekosistem mangrove 3,15 juta hektare, kemampuan ekosistem padang lamun di Indonesia dapat menyimpan 16,11 juta ton karbon/tahun dan potensi penyerapan karbon ekosistem mangrove adalah 122,22 juta ton/tahun.
Karbon biru dapat berperan mengurangi emisi karbon sebesar 139,77 juta ton karbon/tahun. Angka ini dapat terus bertambah jika lahan-lahan yag kurang atau tidak efektif pengunaanya seperti lahan tambak yang tidak digunakan lagi dialihkan atau ditanami mangrove. (jal,sti)

Advanced Search

   Produk SKPD