JANGKAU DAERAH TERISOLASI BENCANA, BPBD GANDENG RAPI DAN ORARI

Rabu, 16 Januari 2013 | 13:53


    Penanganan bencana di daerah terpencil dan terisolasi biasanya lamban dilakukan. Karena selain terkendala akses lambatnya pelaporan kejadian bencana juga terkendala sulitnya mengirim bantuan akibat medan yang sulit untuk dilalui. Sehingga tak jarang banyak kerugian maupun korban jiwa yang ditimbulkan akibat terlalu lama menunggu bantuan dari tim siaga bencana.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur saat ini telah menggandeng Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) serta Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) untuk memberikan segala informasi terkait kejadian bencana di Jawa Timur khususnya di daerah terpencil seperti di wilayah Sukamade Banyuwangi, Pacitan maupun daerah terpencil di sekitar pegunungan. "Informasi yang cepat ini, akan membantu pemerintah untuk mengambil kebijakan terkait penanganan bencana di Jatim," kata Koordinator Pusat Informasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Abdul Hamid dikonfirmasi, Rabu (16/1).

    Menurutnya, dengan menggandeng organisasi radio mobile, koordinasi antar lintas sektor akan mudah dilakukan. Selain itu, juga mempermudah proses penanganan korban bencana.

    Lebih lanjut dia mengatakan, cuaca buruk dan hujan deras yang akhir-akhir ini menimpa wilayah Jawa Timur sedikitnya telah menelan tiga korban meninggal akibat tertimpa bangunan saat terjadi musibah puting beliung.

    Selain puting beliung, hujan deras juga mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Kerugian akibat puting beliung, banjir dan tanah longsor ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. ”Nilai kerugian itu, karena ada sebagian sawah yang akan panen terendam, serta sekitar 50 rumah mengalami kerusakan. Yang paling parah dua rumah,” katanya.

    Secara rinci, Abdul Hamid menjelaskan wilayah yang terkena banjir di Jatim meliputi Kabupaten Banyuwangi, Probolinggo, Situbondo, Bojonegoro dan Tuban. Daerah yang terkena musibah tanah longsor yaitu Malang. Sementara, yang terkena angin puting beliung Sumenep, Ponorogo dan Ngawi.

    Dari pantauannya, yang terkena musibah besar hanya daerah itu. Kalau yang kecil kecil memang tidak teridentifikasi karena tidak parah. Beberapa wilayah yang paling parah terkena musibah puting beliung antara lain Sumenep dan Ponorogo.

    Kondisi itu dikarenakan wilayah Sumenep yang terserang puting beliung terletak di pinggir pantai. ”Memang ada dua yang roboh karena rumahnya terletak di pinggir pantai. Jadi, langsung tersapu angin,” tuturnya.

    Dijelaskan, ancaman banjir dan puting beliung itu disebabkan karena adanya badai Narelle yang melanda Jatim dalam pekan ini. Kondisi itu menyebabkan curah hujan tinggi dan kecepatan angin bertambah, sehingga menyebabkan beberapa sungai besar di Jatim meluap

    Pihaknya memprediksi, badai tersebut tetap mengguncang Jatim dalam dua atau tiga hari ke depan. ”Memang yang paling parah adalah dampak dari badai Narelle karena ekornya mengenai Jatim. Perkiraan kami dalam dua atau tiga hari ke depan masih ada badai tersebut,” paparnya. (fad)

Advanced Search

   Produk SKPD