Mendung Sedikit
24-34
Selasa, 31 Juli 2012 | 10:25
Sampai saat ini aktivitas Gunung Api Ijen di Banyuwangi masih fluktuatif. Ada potensi bahaya di sekitar gunung itu disebabkan masih terjadinya aktivitas seismik/kegempaan. Beradasarkan pantauan tanggal 30 Juli 2012, tercatat gempa tremor terjadi menerus dengan amplitudo maksimum 1-6 mm, dan 1 kali gempa Low Frekwensi (LF) dengan amplitudo maksimum 5-15 mm selama 9 detik. Karena itu masyarakat di zona bahaya Ijen diharapkan selalu bersiaga untuk mengantisipasi terjadinya bahaya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Dr Surono, melalui siaran persnya, Selasa (31/7), mengatakan, hingga kini status Gunung Ijen masih ditetapkan SIAGA. Tak hanya terekam gempa tremor dan LF, aktivitas seismik lain juga terjadi, seperti gempa hembusan dengan amplitudo maksimum 5-15 mm selama 19-64 detik, 6 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo maksimum 8-15 mm selama 9-16 detik, 2 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo maksimum 12-30 mm selama 60-95 detik.
"Aktivitas kegempaan di Ijen masih tinggi walaupun temperatur air danau kawah tidak meningkat," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Surono
Dengan aktivitas seismik yang masih tinggi itu, maka ada bahaya potensi yang mengancam warga sekitar Gunung Ijen. Adapun potensi bahaya erupsi Gunung Ijen di kawasan rawan bencana III adalah sekitar danau kawah terlanda ancaman aliran gas racun, aliran awan panas, lumpur panas, aliran lava, hujan abu lebat dan lahar letusan. Kemudian potensi bahaya erupsi Gunung Ijen pada kawasan rawan bencana II adalah potensi yang terlanda aliran awan panas, lahar letusan, lahar hujan, hu7jan abu lebat, kemungkinan longsoran puing vulkanik dan lpntaran batu pijar. Dan kawasan rawan bencana I adalah potensi terlanda aliran lahar hujan, kemungkinan perluasan awan panas atau lahar letusan, hujan abu lebat, ekmungkinan dapat terkena lontaran batu pijar.
PVMBG merekomendasikan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung ini untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan Ijen yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat. Pengunjung, wisatawan atau pendaki tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Ijen dalam radius 15 km dari kawah aktif.
Sedangkan masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Banyuputih yang berhulu di Kawah Ijen tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya luapan air danau apabila terjadi letusan. Danau kawah Ijen ini memiliki volume hingga 36 juta meter kubik sehingga sangat membahayakan jika sampai mengalir ke desa-desa di kaki Ijen. "Tidak usah sampai meletus besar, kalau terjadi letusan freatik yang melontarkan air asam hingga keluar kawah, bisa terjadi banjir air asam," kata Surono.
Memiliki panjang 800 meter dan lebar 700 meter dengan kedalaman 180 meter, kawah Ijen merupakan salah satu danau berair asam terbesar di dunia. Di belahan bumi lain, sejumlah mata air asam ada di Gunung Poás di Kosta Rika. Di Selandia Baru, aktivitas gunung api Ruapehu mencemari Sungai Whangaehu.
Dalam sejarahnya, letusan Ijen pernah menimbulkan kehancuran besar. Menurut catatan Taverne (1926) dalam Kusumadinata (1979), saat meletus 1817, Ijen mengirim banjir lumpur air asam yang sebagian besar melalui Sungai Banyupahit. Padahal, Banyupahit merupakan hulu dari Sungai Banyuputih yang lembahnya dihuni 12.000 jiwa.(sti)
