PERSATUAN PERAWAT NASIONAL DUKUNG NIATAN JEMBER KIRIM PERAWAT KE LUAR NEGERI

Minggu, 18 Maret 2012 | 13:28


Keinginan Bupati Jember, MZA Djalal menyalurkan tenaga perawat ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) disambut baik oleh Persatuan Perawat Nasional (PPNI) Kabupaten Jember. Apalagi, jumlah tenaga perawat dari tahun ke tahun terus bertambah seiring dengan banyaknya lembaga kependidikan keperawatan.
Gagasan mengirimkan TKI perawat sendiri pernah dilontarkan oleh bupati Jember MZA Djalal saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Akademi Kebidanan (Akbid) RSU Dr Soebandi Jember. Hal itu juga terungkap saat digelarnya dialog solutif di Kecamatan Arjasa.
Sebagai Bupati Jember, ia berkeinginan untuk memberangkatkan TKI perawat ke luar negeri. Selama ini hanya mengirim TKI sebagai pembantu rumah tangga, karena itu sudah saatnya TKI dari Jember lebih profesional dan memiliki keahlian dibidangnya. TKI perawat merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh lulusan akademi keperawatan termasuk akademi kebidanan. Karena itu, ia akan melakukan lawatan ke Dubai untuk menjajaki pengiriman TKI perawat dari Kabupaten Jember.
H Asrah Joyo Widono SkepNs, Ketua PPNI Kabupaten Jember mengatakan, sejatinya memang perawat merupakan tenaga terampil dibidang keperawatan, tidak salah bila Pemkab Jember punya inisiatif untuk mengirimkan mereka ke luar negeri.
 Dimilikinya keahlian dalam hal keperawatan membuat profesi perawat berbeda dengan profesi lainnya. Perawat merupakan tenaga paling siap untuk diperkerjakan termasuk di luar negeri, pemerintah pusat sendiri dalam hal ini kantor kementrian kesehatan juga mengirimkan tenaga perawat ke luar negeri yakni Jepang dan rekrutmennya diumumkan secara terbuka di internet.
Ini merupakan gagasan positif mengirimkan perawat sebagai TKI ke luar negeri, karena itu peluang ini hendaknya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh alumni keperawatan. Kesempatan bekerja di luar negeri masih terbuka luas bagi perawat, karena itu terampil berbahasa asing merupakan persyaratan yang harus mereka miliki sebelum bekerja di negeri orang.
PPNI saat ini tengah memfokuskan diri agar perawat dibekali bahasa asing tidak hanya bahasa Inggris saja tapi juga bahasa lainnya seperti Arab maupun Mandarin. Karena itu PPNI juga meminta kepada lembaga pendidikan keperawatan untuk memasukkan bahasa asing dalam mata kuliah.
Diberangkatkannya TKI perawat tentu tidak terlepas dari kesiapan sumber daya manusia (SDM), Asrah membenarkan hal itu, dirinya menjelaskan gambaran SDM perawat di Indonesia sekarang ini ibarat piramida terbalik. Itu artinya, lulusan perawat sudah banyak yang mengantongi pendidikan S-1, bahkan juga ada yang sudah menamatkan jenjang pendidikan S-2 termasuk di Kabupaten Jember seperti perawat spesialis maupun manajemen kesehatan keperawatan. Hal ini jelas berbeda bila dibanding kondisi sepuluh tahun lalu yakni lulusan perawat hanya sebatas menempuh pendidikan D-3.
Ternyata, TKI perawat masih banyak diminati oleh negara lain khususnya di negara Timur Tengah selain Jepang, apalagi perawat dari Indonesia dikenal ramah, sabar, sopan  dan memiliki ketrampilan yang dapat diandalkan.
Mengingat TKI perawat di luar negeri jumlahnya cukup banyak, maka perlu adanya  payung hukum untuk memberikan perlindungan kepada mereka agar tidak terjadi kasus serupa seperti TKI lainnya. PPNI sudah mendesak kepada pemerintah untuk segera memberlakukan UU Keperawatan, namun hal itu  masih terkendala yakni menunggu persetujuan DPR. (put)

Advanced Search

   Produk SKPD