MENINGKAT, PRODUKTIFITAS PELABUHAN TAMPERAN

Jumat, 23 Oktober 2009 | 14:40


Pembangunan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Pacitan telah digarap sejak 2003-2007 dan sudah diresmikan oleh persiden. Kini, pelabuhan pun telah dioperasikan tersebut, berdampak positif terhadap produktivitas perikanan laut selama dua tahun terakhir yang meningkat. Kasi Operasional Pelabuhan Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan dan Kelautan (Disperikla) Jatim, Djoko Rijanto di kantornya, Jumat (23/10) menjelaskan, volume hasil tangkapan ikan nelayan yang singgah atau mendarat di P3 Tamperan, saat ini sudah mencapai tiga kali lipat dibanding 2008 lalu. Pada Desember 2007, volume produksi perikanan para nelayan rata-rata hanya dikisaran 13.509 kilogram/bulan. Namun, kini dalam sebulan produksi perikanan bisa mencapai angka 586.088 kilogram. Menurutnya, tren pertumbuhan itu tak lepas dari meningkatnya jumlah nelayan serta perahu yang singgah di pelabuhan Tamperan. Sedangkan untuk jumlah armada kapal penangkap ikan di Kab pacitan terdapat 1.017 unit. Untuk alat tangkap ikan mencapai 12.472 unit, jumlah nelayan sebanyak 3.909 orang, jumlah pengolah ikan 25 orang dan produk hasil tangkapan mencapai 1.895,8 ton dengan nilai Rp 16,7 miliar. Namun, menurutnya, peningkatan jumlah hasil tangkapan dapat berubah setiap saat, karena faktor cuaca. Angin barat yang berhembus selama Oktober hingga Maret seringkali membuat gelombang air laut tidak stabil dan membahayakan perahu nelayan. Atas besarnya jumlah hasil tangkapan kini membuat penumpukan ikan di Tamperan. Ini terjadi selama dua bulan terakhir dan menyebabkan harga pasaran ikan laut turun drastis. Harga ikan Tuna dan cakalan contohnya. Pada kondisi normal, harga ikan jenis ini rata-rata adalah Rp 9 ribu/kg. Tapi karena tangkapan ikan belakangan melimpah sementara permintaan pasar tetap, otomatis harga ikan menjadi anjlok. ”Ini sangat merugikan para nelayan. Namun ini menjadi pilihan terbaik dari pada ikan membusuk,” ungkapnya. Padahal, kapal nelayan maupun kapal-kapal penangkap ikan bermuatan penuh hasil tangkapan terus berdatangan. Ketidakseimbangan antara persediaan barang (ikan laut) dan besarnya permintaan (volume dan kuantitas pembelian) menyebabkan harga ikan semakin tidak menguntungkan nelayan. Tragisnya, di Pelabuhan Tamperan sampai saat ini belum tersedia "cold storage" (ruang pendingin) untuk menyimpan hasil tangkapan nelayan. Konsekuensinya, mereka cenderung memilih aksi jual cepat untuk menghindari pembusukan ikan. Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pacitan, Indartato membenarkan terjadinya kenaikan volume tangkapan ikan tuna hingga dua kali lipat. Menurutnya, jika biasanya nelayan hanya bisa memperoleh tangkapan antara 4 sampai 5 ton per hari, kini rata-rata naik menjadi 8 sampai 9 ton per hari. Hal serupa diperkirakan juga terjadi di beberapa pelabuhan lainnya. Terutama di perairan Samudera Indonesia. Namun, tahap penyelesaian untuk pembangunan breakwater atau pemecah ombak masih kekurangan dana sekitar Rp 4 miliar. Sejauh ini, pembanguan Pelabuhan Tamperan membutuhkan dana sebesar Rp 130 miliar. Namun, sampai dengan 2009 ini, realisasi dana yang telah ada sekitar Rp 126,1 miliar. Djoko menambahkan, realisasi dana yang telah diperoleh, yakni dari APBN Rp 61,37 miliar (73,05%), APBD Provinsi Rp 12,88 miliar (15,33%), dan APBD Pacitan sebesar Rp 9,75 miliar (11,60%). Sehingga kekurangan anggaran dananya kini mencapai kurang lebih Rp 4 miliar. Rencananya, kekurangan dana tersebut digunakan untuk membangun breakwater. Ini jadi prioritas utama. Pasalnya, dengan adanya cuaca buruk dan untuk mengurangi terjadinya sedimentasi yang terbawa ombak dari laut ke kolam labuh, maka perlu dibangun breakwater sepanjang 460,9 m dan 248 m. Adapun kondisi kolam labuh saat ini terus terjadi pendangkalan akibat sedimentasi sehingga kapal berukuran besar susah masuk ke kolam labuh. Posisi pelabuhan yang berada di selatan Jawa atau berbatasan langsung dengan Samudera Hindia juga berpotensi terjadi gelombang atau ombak besar. Dengan pemecah ombak ini, diharapkan mampu mengatasi kendala tersebut agar kapal nelayan mulai ukuran kecil hingga besar dapat mendarat dengan aman hingga ke kolam labuh. Seperti diketahui, pelabuhan yang terletak pada 080 13, 38’ 30” LS dan 1110 04,28’ 02” BT ini memiliki kolam labuh seluas 4,5 ha dengan kedalaman -1 m s/d -3 m dari permukaan air terendah dan ini dilakukan oleh Dinas Perhubungan Jatim dari proses pengerjaan hingga pendanaannya. Untuk sistem sandaran kapal, pelabuhan ini menggunakan dermaga model caisson sepanjang 210 m dan memiliki SPBN (BBM-solar) dengan kapasitas tangki 16 kiloliter, serta tendon air tawar dengan kapasitas 27 m3. Selain itu, akan dibangun juga fasilitas bengkel, galangan kapal, tempat pelelangan ikan, gudang garam, dan ground resevoir.

Advanced Search

   Produk SKPD