JATIM JADI PROPINSI PELOPOR PENGEKSPOR BERAS

Selasa, 10 Februari 2009 | 15:16


[img]files/cover/2009/Pebruari/100209%20berita%20ryo-yudi.jpg[/img] [i][size=1]Foto:yudi[/size][/i] Propinsi Jawa Timur ke depan akan menjadi pelopor propinsi pengekspor beras nasional untuk memenuhi pasar beras dunia. Jika hal tersebut bisa berhasil, maka pendapatan dan kesejahteraan petani di Indonesia khususnya di Jatim akan meningkat. Hal tersebut disampaikan Pejabat (Pj) Gubernur Propinsi Jatim, Setia Purwaka SIP MM usai Penandatanganan Kesepakatan Bersama Antara Pemerintah Provinsi Jatim dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian RI tentang Uji Adaptasi, Usulan Pelepasan Varietas Produksi dan Pemasaran Benih Hibrida di Kantor Gubernur Jatim, Selasa (10/2) siang. Dikatakannya, hal ini tidak mengada-ada karena dunia saat ini sedang dilanda isu strategi krisis energi dan krisis pangan global, sementara Indonesia khususnya Jatim mengalami surplus beras. Menurutnya, pada 2008 Jatim telah sukses mengasilkan padi 10,447 juta ton lebih gabah kering giling atau setara 6,790 juta ton beras lebih. Dari beras yang dihasilkan petani tersebut untuk dikonsumsi sendiri 37 juta orang Jatim sebanyak 3,570 juta ton lebih beras, jadi masih surplus 3,222 juta ton lebih beras. Surplus beras tersebut sementara disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Keberhasilan Jatim di bidang pangan pada tahun lalu, antara lain melalui pengembangan padi hibrida yang mencapai luas tanam kurang lebih 200 ribu hektare atau 11,33% dari luas tanam padi sekitar 1,765 juta hektare. Padi hibrida cocok ditanam disebagian sawah di wilayah Jatim dengan produktifitas rata-rata 90 KW per hektare gabah kering giling. Padi hibrida merupakan teknologi pengembangan varietas untuk menjawab ketersediaan pangan dalam negeri melalui penanaman padi kualitas unggul hibrida. Penanaman tersebut agar berhasil harus diikuti oleh penemuan agro input produktifitas. Varietas padi hibrida ini merupakan hasil prestasi putra-putri Indonesia peneliti bidang pertanian, perguruan tinggi dan lembaga peneliti lainnya di Indonesia. Para peneliti tersebut memang ditunggu dan ditantang untuk menghasilkan teknologi di bidang pertanian. Teknologi tersebut bisa diterapkan para petani di Indonesia secara efesien dan efektif yang bisa meningkatkan kesejahteraannya. Acara pelaksanaan penandatangan kesepakatan bersama antara Pemerintah Provinsi Jatim dengan Departemen Pertanian merupakan langkah awal dilaksanakan kejasama di bidang teknologi pertanian yang dapat dimanfaatkan oleh petani di Jatim. Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian RI, Dr Ir Sembiring mengatakan, Departemen Pertanian sebagai penyedia teknologi varietas padi hibrida yang cocok ditanam di sebagai areal sawah pertanian irigasi di Jatim. Rencananya, padi jenis hibrida ini akan ditanam di 10 lokasi pertanian di kabupaten/kota di Jatim. Padi jenis ini memang hasil produksinya lebih tinggi dari padi-padi jenis local, yakni sekitar 10 ton lebih per hektare. Umurnya dari awal tanam hingga waktu masa panen sekitar 115 hari.

Advanced Search

   Produk SKPD