| |
|
 |
|
| |
|
|
 |
DALAM LIMA HARI, KRI DEWARUCI MAMPU KUNJUNGI TIGA NEGARA
(Jumat, 30 Juli 2010 02:55:07)
|
| Hanya dalam waktu lima hari, KRI Dewaruci yang sedang menjelajahi benua Eropa dalam rangka Muhibah Luar Negeri 2010 dengan berkelompok (Cruise-in company) mampu mengujungi lima kota dan tiga Negara, yakni Aalborg dan Frederikshavn (Denmark), Göternburg (Swedia), serta Arendal dan Kristiansand (Norwegia). Kasubdispenum Dispenarmatim, Mayor Laut Drs Kariono, MAP di konfirmasi di kantornya, Jumat (30/7) mengatakan, Cruise-in company adalah kegiatan berlayar bersama dalam kelompok kapal dan tidak bersifat lomba, merupakan salah satu agenda dari The Tall Ships Races 2010. Selain singgah di pelabuhan 3 negara tersebut, setiap kapal peserta juga diizinkan melaksanakan pertukaran kadet atau awak kapal untuk memanfaatkan waktu selama 5 hari antara Aalborg dan Kristiansand singgah di salah satu kota di Denmark, Swedia, dan Norwegia. Setelah sukses di Denmark Aalborg, pada Sabtu, 24 Juli 2010 lalu, KRI Dewaruci bertolak menuju Kota Frederikshavn, Denmark. Tiba pada hari yang sama dan langsung melaksanakan gelar kesenian Indonesia yang disaksikan oleh Kepala Departemen Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Nordjylland. Keesokan harinya, setelah melaksanakan pertunjukan drumband di kota nomor 3 terbesar di Denmark tersebut, pada pukul 11.00 waktu setempat, kapal yang membawa 83 kadet AAL ini bertolak menuju Kota Göternburg, Swedia. Di sana rombongan diterima Kepala Perwakilan Pemerintahan R.I Kuasa Usaha Bpk. Ermar Lubis beserta masyarakat Indonesia dan Kepala Pelabuhan setempat, gelar kesenian kembali ditampilkan, meliputi tari Perang (Papua), Tari Rantak (Sumbar), Reog Ponorogo (Jatim), Rampak Gendang (Jabar), dan Tari Saman (Aceh) serta brassband yang selalu menjadi penutup acara. Senin pagi, 26 Juli 2010, KRI Dewaruci meninggalkan Swedia menuju Kota Arendal di pantai timur Norwegia dan tiba pada Selasa, 27 Juli 2010, setelah semalam menikmati keindahan bulan purnama di perairan yang pernah dikuasai Viking di wilayah Skandinavia tersebut. Menurut Kariono, di ibukota Provinsi Sorlandet ini, gelar seni dan budaya Indonesia kembali semarak dengan hadirnya Walikota Arendal, perwira AL dan polisi Norwegia serta pejabat dari instansi maritim lainnya, melengkapi kirab kota Genderang Suling Gita Jala Taruna yang telah membahana di siang hari. “Dan akhirnya, pada hari Rabu, 28 Juli 2010, kapal kebanggan Indonesia ini tiba di kota Kristiansand dengan sambutan yang sangat meriah oleh puluhan kapal dan perahu sejak dari stasiun pandu di alur pelabuhan yang berjarak 5 mil laut hingga bersandar di dermaga. Saat memasuki alur pelabuhan, para prajurit dan kadet mempertontonkan atraksi spektakuler melalui peran parade roll,” katanya. Mereka menaiki tangga dan tiang setinggi 35 meter dan menari-nari melambaikan tangan mengikuti iringan drumband kadet yang membawakan lagu daerah, nasional, dan mancanegara yang juga diikuti nyanyian perjuangan (koor) dari masyarakat Indonesia yang berdomisili di Norwegia. Ibu Esti Andayani. Saat itu lanjut Kariono, Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia didampingi Atase Pertahanan RI Kolonel Pnb Fachri Adamy langsung menyambut di dermaga dengan kalungan bunga kepada Komandan KRI Dewaruci, Letkol Laut (P) Suharto, SH. Tur Seni dan Budaya Kegiatan cruise-in company ini, juga tidak ubahnya sebagai tur seni dan budaya, karena dalam sela-sela waktu yang ada dimanfaatkan untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat di 5 kota dari 3 negara yang dikunjungi. Menurut beberapa prajurit yang telah berdinas lebih dari 10 tahun, bahwa kegiatan ini merupakan sebuah rekor baru dalam 5 hari, KRI Dewaruci mengunjungi 3 negara dan 5 kota, lengkap dengan gelar kesenian dan atraksi drumband kadet AAL. Pagelaran kesenian secara maraton ini, dipersembahkan secara bergantian oleh kadet dan prajurit KRI Dewaruci. “Menjadi duta budaya dan pariwisata memang menjadi salah satu misi yang diemban KRI Dewaruci, selain sebagai kapal latih dan duta besar keliling”, katanya. Sebagai Negara Maritim, Indonesia harus belajar menata laut dan kepulauan dari tiga negara Skandinavia Sepanjang pelayaran melintasi perairan dan memasuki pelabuhan di tiga negara Denmark, Swedia dan Norwegia, penataan yang baik terhadap pemanfaatan laut dan pulau. Semua bangunan permanen seperti suar, rumah dan radar dibuat di daratan dan menghadap ke laut. Bahkan bila memungkinkan, jalan raya menjadi pembatas antara dermaga dan laut dengan perumahan. Tidak satupun bangunan membelakangi laut, apalagi berada di atas air. Setiap pulau yang terancam abrasi, dibangun fondasi yang dapat berfungsi sebagai dermaga. Pemandangan seperti ini, tidak hanya di sekitar pelabuhan, tetapi di sepanjang perairan dan kepulauan yang dilewati, penghormatan terhadap alam dan lingkungan sangat tinggi. Selain itu, pemanfaatan listrik tenaga angin sungguh besar. Kincir angin banyak terlihat di kota-kota pelabuhan, termasuk di pulau yang jauh dari daratan induknya. Sungguh hal yang indah terbayangkan seandainya pemandangan ini ada di sepanjang pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, Sulawesi dan gugusan pulau di Arafura dan Irian Jaya, karena tidak hanya menghemat energi minyak bumi, juga menjadikan pemandangan makin cantik dan mempesona. Sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi Indonesia yang telah mendapat predikat sebagai archipelagic country dan maritime country untuk mengelola sumber daya kelautan. (hjr)
|
|
|
|
| |
|
|
 |
|
|
Goa Akbar (1/4) |
|
Goa Akbar (2/4) |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Jl. Rajawali 6 - 8, Surabaya 60176. Telp. (31)3522636, (31)3523642, Fax. (31)3531008.
Jl. A. Yani 242 - 244, Surabaya. Telp (031) 8294608, Fax (031)8294517
Copyright ©2010 Dinas Kominfo Prov. Jatim, allright reserved. |
|
|
|
|
|