UNAIR Beri Pemahaman Forensik Pada Masyarakat di Kabupaten Mojokerto

UMUM | 17 Apr 2018 02:28:01 PM

UNAIR Beri Pemahaman Forensik Pada Masyarakat di Kabupaten Mojokerto

Jatim Newsroom– Program Studi S2 Ilmu Forensik, Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, sebagai satu-satunya Prodi Ilmu Forensik di Indonesia menyadari pentingnya pemahaman forensik di tengah masyarakat. Terlebih pemahaman masyarakat awam masih minim. Ikhwal tersebut mendorong Sekolah Pascasarjana UNAIR untuk menggelar pengabdian masyarakat (Pengmas) guna mengedukasi masyarakat akan pengetahuan forensik.

Pengmas yang bertempat di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto itu mengangkat tema Peduli untuk Mengabdi dan Berbagi.

“Pemilihan Desa Ketapanrame ini dilatarbelakangi perihal kondisi masyarakat yang belum mengetahui tentang forensik, perihal penanganan apabila terjadi perkara. Sehingga desa ini dirasa sesuai untuk memberikan manfaat,” tutur Moc. Kurniadi Hendry Ekodiyanto, selaku ketua pelaksana kegiatan yang juga menempuh S2 Ilmu Forensik, Selasa (17/4).

Dalam kesempatan itu, masyarakat mendapatkan sosialisasi dari Prof. Dr. Med. HM Soekry Erfan Kusuma, dr.SpF(K).,DFM terkait forensik, Pudji Hardijanto, S.H berkenaan dengan kejadian perkara, dan bekerja sama dengan Polres Mojokerto yang menyampaikan nilai-nilai kebangsaan.

Sosialisasi tersebut mengajarkan masyarakat yang hadir beserta jajaran pemerintahan desa untuk berhati-hati terhadap berita hoax serta pemahaman ketika ditemukan mayat. Perihal penanganan saat menemukan mayat, masyarakat disarankan untuk tidak menyentuh, memegang, dan memindahkan.

“Setelah sosialisasi tersebut, masyarakat paham bahwa jangan sampai menyentuh, memegang, bahkan memindahkan barang-barang yang terdapat pada lokasi kejadian karena akan mengurangi penemuan barang bukti untuk menemukan pelaku,” tambah Hendry.

Setelah sosialisasi, dilanjutkan dengan penanaman 150 batang bambu. Hendry mengatakan masyarakat sangat gembira dan mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah kecamatan dan desa karena bambu sangat dibutuhkan untuk pengairan di desa tersebut. Tidak hanya itu, karang taruna setempat ikut aktif dalam mendukung penanaman.

“Kedepannya setiap bulan akan dilakukan peninjauan pada bambu yang telah ditanam sehingga akan terbentuk desa binaan. Kami pun juga dihimbau untuk sosialisasi di desa-desa lainnya karena mayarakat umum masih tabu akan forensik,” jelas Hendry.

Hendry berharap dengan adanya pengmas itu, mampu memberi pemahaman arti penting forensik karena berbagai kasus di Indonesia masih mendatangkan ahli forensik dari luar negeri. Ketika negara lain mampu, Indonesia melalui S2 Ilmu Forensik UNAIR pasti bisa menjadi garda terdepan.

Wakil Direktur  I Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Anwar Ma’ruf, drh., M. Kes. Menurutnya, Ilmu Forensik ini adalah peluang dan dijadikan unggulan sesuai renstra (rencana strategis) UNAIR sehingga perlu memasyarakatkan ilmu forensik.

“Prodi Ilmu Forensik merupakan multidisiplin ilmu yang mempelajari berbagai lingkup ilmu, mulai dari akuntansi forensik, digital, animal hingga psikologi. Oleh karena itu, memiliki potensi besar dan dibutuhkan,” ucapnya.(mad)

Views 597
Web Statistic