Tenaga Kerja Difabel Miliki Produktivitas Kerja Relatif Tinggi

UMUM | 13 Feb 2018 07:37:56 AM

Tenaga Kerja Difabel Miliki Produktivitas Kerja Relatif Tinggi

Uswatun (31) pekerja dengan disabilitas sensorik tidak bisa mendengar sedang mengungkapkan rasa senang bekerja di salah satu pabrik sepatu di kawasan Tanjung Sari Surabaya, (12/02). Foto : Supono JNR.

Jatim Newsroom- Manajemen PT. Wangta Agung yang mempekerjakan tenaga kerja yang menyandang disabilitas khusus atau difabel, mengakui kaum difabel memiliki produktivitas tinggi. Ini karena mereka lebih fokus dan serius dalam bekerja.

Perusahaan swasta yang memproduksi sepatu itu, saat ini mempekerjakan 12% atau 85 orang pegawai penyandang disabilitas dari 1.200 pekerja. Mereka terdiri dari 69 disabilitas sensorik (tidak bisa menfengar), 15 disabilitas fisik (daksa) dan 1 disabilitas intelektual (down syndrom).  “Jumlah tenaga kerja difabel yang kami kerjakan lebih tinggi dari regulasi ditetapkan pemerintah, yakni minimal 1%,” kata Manajer HRD PT. Wangta Agung, Suryanto, Senin (13/2).

Dikatakannya, parameter produktifitas kerja tinggi ialah penghasilan upah mereka rata-rata mencapai Rp 3 sampai 5 juta setiap bulannya. "Mereka lebih fokus dan sungguh - sungguh dalam bekerja, bisa dilihat penghasilanya, upah tiap bulan yang diterima, bahkan ada yang mencapai Rp 1,8 sampai 2 juta dalam 10 hari," terang Suryanto.

Ia juga mempersilahkan wartawan yang ikut dalam program Local Media Orientation of Jurnalists yang diprakarsai Konsorsium Ayo Inklusif, untuk mengeksplor bertanya langsung dengan kaum difabel muda yang bekerja di produsen sepatu merk Ardiles ini.

Proses wawancara yang dibantu penerjemah bahasa isyarat bagi pekerja disabilitas karena mereka tidak bisa mendengar. Uswatun (31) salah seorang pekerja difabel mengatakan, ia sudah bekerja sejak tahun 2009 dan merasa senang dan bahagia bersama suaminya dari Madiun bisa sama sama bekerja di pabrik ini.

Perempuan asal Jombang dengan dua anak laki dan perempuan  termasuk komunikatif dengan bahasa isyaratnya. "Mbak Uswatun ini termasuk setia sudah 8 tahun bekerja, tanda dia senang dengan jari telunjuknya mengarah ke hati dada," jelas Suryanto.

Ditambahkannya, pekerja dengan disabilitas yang bekerja di pabrik ini haknya sama dengan pegawai  yang lain. "Pak Daniel (owner perusahaan) berkomitmen untuk menampung penyandang difabel bekerja disini," ungkapnya.

Rekruitmen pekerja bagi kaum berkebutuhan khusus ini persyaratannya sama secara umum, setelah diterima, diberikan pelatihan selama 20 hari. Bahkan saat ini dibutuhkan tenaga desain grafis dari penyandang disabilitas. Ia berharap peran stakeholders terkait memberikan fasilitas pelatihan kerja bagi kaum difabel ini. (pno)

Views 169
Web Statistic