Pandemi Covid-19, Kinerja Ekonomi Jatim Triwulan II-2020 Mengalami Kontraksi

UMUM | 16 Sep 2020 03:14:59 PM

Pandemi Covid-19, Kinerja Ekonomi Jatim Triwulan II-2020 Mengalami Kontraksi

Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono (memukul gong) didampingi Kepala BI Jatim, Difi A Johansyah, Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan, Kadisperindag Jatim Drajat Irawan pada pembukaan Rapat Koordinasi Pencacat Harga Bahan Pokok dan Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) Industri di Museum Bank Indonesia  Jatm di Surabaya.     

Jatim Newsroom – Kinerja ekonomi Jawa Timur Triwulan II-2020 dibandingkan Triwulan II-2019 (y-on-y) mengalamii kontraksi sebesar 5,90 persen. Sedangkan ekonomi nasional mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32 persen (y-on-y).
 
            Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur, Heru Tjahjono, saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, sementara inflasi Jawa Timur selama 4 bulan terakhir cukup stabil dan pada Agustus 2020 rata-rata inflasi Jawa Timur 0,04 persen.
 
“Hal ini dikarenakan harga kebutuhan barang pokok (Bapok) seperti beras, gula pasir, tepung terigu dan komoditas bapok lainnya  cukup terkendali dan stabil,” ujar Heru Tjahjono saat Membuka Rapat Koordinasi Pencacah Harga Bahan Pokok dan Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) Industri di Musium Bangk Indonesia  Jatm di Surabaya, Rabu (16/09/2020).
 
            Sementara untuk kinerja perekonomian Jawa Timur Triwulan II-2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 551,31 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp 386,36 triliun.
 
            Pada triwulan II-2020 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur menurut sektor lapangan usaha didukung oleh sektor industri, perdagangan dan sektor pertanian. Kontribusi  untuk sektor industri sebesar 30,04 persen, sektor perdagangan 17,40 persen dan sektor pertanian 14,11 persen.
 
            Menurut Sekdaprov, pademi Covid-19 ini memberikan dampak luar biasa terhadap berbagai sektor kehidupan. Seperti dicontohkan kinerja ekonomi nasional dan Jawa Timur. Selain itu juga telah diterapkan pembatasan aktivitas sosial dan banyak kegiatan yang menyesuaikan protokol sesehatan. Hal ini dilakukan untuk percepatan memutus mata rantai pademi Covid-19.
 
            Sekda Heru juga menyampaikan, untuk mengetahui pergerakan harga bapok setiap hari, Pemprov Jawa Timur melalui Dinas perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur menerjunkan petugas pencacah data harga di pasar-pasar tradisional.
 
            Saat ini ada sekitar 116 petugas pencacah data di pasar tradisional yang tersebar di Jawa Timur dan siap mencatat perkembangan harga bapok setiap hari. Pencacah data tugasnya mencacat dan mengingat beberapa harga komodite bapok disetiap pasar yang menjadi tugasnya.
 
Hasil data pergerakan harga bapok tersebut kemudian dipublikasikan di aplikasi Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo). Siskaperbapo ini telah dioperasikan Disperindag Jawa Timur, sebagai acuan untuk mengambil kebijakan dalam rangka pengendalian inflasi. Aplikasi ini bisa diakses oleh masyarakat melalui HP dan perangkat IT lainnya seperti komputer dan laptop.
 
Di akhir pengarahannya, Sekda mengatakan bahwa industri pengolahan merupakan sektor yang cukup penting di masa kebiasaan barul. Saat ini ada sekitar 29 tenaga penyuluh lapangan industri yang tersebar di Jatim. “Keberadaan tenaga penyuluh lapangan (TPL) industri ini cukup penting perannya karena menjadi garda terdepan di sektor industri,” pungkasnya.(ryo/s)

Views 8434
Web Statistic