Pacet Siap Jadi Sentra Bawang Putih

UMUM | 16 Sep 2020 12:02:34 PM

Pacet Siap Jadi Sentra Bawang Putih

Istimewa

Jatim Newsroom- Bagi orang di luar Jawa Timur, nama Pacet, Mojokerto sebagai penghasil bawang putih mungkin terdengar asing. Padahal faktanya, sejak 1974 wilayah Pacet adalah penghasil bawang putih lokal. Varietas bawang putih yang umum ditanam adalah Lumbu Hijau.

Kondisi buruk memang pernah terjadi pada 1996 ketika membanjirnya bawang putih impor. Hal ini berakibat pada tertekannya harga bawang putih lokal. Akibat dari persaingan tersebut, petani bawang putih Pacet sedikit beralih ke komoditas lain seperti ubi, bawang merah dan komoditas lainnya.

Bawang putih Pacet dikenal memiliki kualitas terbaik dengan aroma khas yang sangat pedas. Sebagai satu-satunya kecamatan penghasil bawang putih di Mojokerto, usaha tani bawang putih awalnya menjadi andalan petani sebagai sumber penghasilan yang  menjanjikan.

Pelan namun pasti, budidaya sentra bawang putih di Pacet kembali menggeliat, baik yang telah ada, maupun baru mulai tumbuh dan berkembang. Adanya kebijakan tanam bawang putih membakar semangat  petani mengembangkan usaha tani bawang putih kembali.

Pada 2020 ini di Kecamatan Pacet terdapat pertanaman seluas 109 ha. Sebagian besar dikembangkan secara swadaya bekerja sama dengan penangkar bawang putih. Pertanaman bawang putih di Pacet tersebar di 6 desa yaitu Desa Sajen, Pasukan, Claket, Petak, Cepokolimo dan Kemiri. Areal pertanaman bawang putih saat ini mencapai 109 ha dengan pertanaman terluas di Desa Pacet yaitu seluas 32,05 ha dan disusul Desa Petak seluas 27,10 ha.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko mengatakan, hingga kini lebih kurang 27 ha bawang putih di wilayahnya telah dipanen. Sisa sebanyak 82 ha lainnya diperkirakan terakhir panen pada Oktober 2020 dengan produktivitas berkisar 12-14 ton/ha. “Saya optimis dengan kondisi seperti saat ini dan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat, pertanaman bawang putih di Pacet dapat bertambah luas,” katanya, Rabu (16/9).

Hal yang istimewa pada pertanaman di Pacet Mojokerto ini adalah bahwa sebagian besar pertanaman dilakukan di lokasi dengan ketinggian rata-rata 450 – 600 mdpl. Selain itu, didukung pengairan yang tiada henti dan dengan pertimbangan musim yang tepat.

"Waktu panen yang terjadi pada masa bediding atau perbedaan suhu siang dan malam yang sangat signifikan akan merangsang ukuran umbi dan siung bawang dapat lebih besar,” kata  produsen benih bawang putih asal Kota Batu, M. Thoha. Produsen yang telah lama bekerja sama dengan penangkar benih di Pacet ini berharap produksi yang dihasilkan dapat lebih banyak digunakan sebagai calon benih.

Kondisi senada disampaikan Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman. Dalam rangka memperbaiki kualitas bawang putih nasional, salah satu hal yang perlu diperhatikan yaitu penggunaan benih bawang putih yang berkualitas.

“Untuk menghasilkan umbi bawang putih yang berukuran besar, kami menyarankan agar benih yang digunakan adalah benih bawang putih yang selain memenuhi Persyaratan Teknis Minimal (PTM) juga telah patah dormansi minimal 50 persen serta memiliki ukuran siung minimal 3 cm ke atas," ujarnya.

Sebagai informasi, bawang putih asal petani dari Pacet sebagian besar berukuran besar atau lebih dari 3 cm dengan prosentase di atas 70 persen. Karena itu, sangat cocok apabila pada gilirannya produksi bawang putih petani pacet digunakan sebagai benih untuk pengembangan kawasan bawang putih nasional.

Pada musim tanam 2020 ini diperkirakan hasil panen bawang putih basah berkisar 1.300 - 1.500 ton. Apabila diproses lebih lanjut menjadi calon benih, diperkirakan minimal 400 - 450 ton di antaranya dapat digunakan sebagai benih bawang putih dengan siung berukuran besar.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, usaha pengembangan bawang putih nasional akan terus dikembangkan untuk mendorong substitusi impor dan mengantisipasi terjadinya inflasi.

"Komoditas bawang putih telah menjadi salah satu komoditas hortikultura yang berkontribusi terhadap inflasi nasional selain cabai dan bawang merah. Kebergantungan terhadap bawang putih impor akan menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan pada masa datang," ujarnya.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa tujuan program pertanian diantaranya meningkatkan kesejahteraan petani. Rencana mengangkat kembali bawang putih lokal untuk mengurangi impor menjadi angin segar petani setelah lebih dari dua dekade petani tidak bertanam bawang putih secara luas. (jal)

Views 4277
Web Statistic