Gubernur : Petani Sejahtera, Inovatif dan Kreatif Jadi Kuncinya

UMUM | 15 May 2019 01:45:40 PM

Gubernur : Petani Sejahtera, Inovatif dan Kreatif Jadi Kuncinya

Gubernur Jatim Panen Melon Prima di Sidoarjo. Foto : Sasongko JNR

Jatim Newsroom– “Jadilah petani yang kreatif dan inovatif, agar hasilnya berlipat ganda dan mampu meningkatkan nilai kesejahteraan bagi keluarga dan petani pada umumnya,” demikian pesan kuat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada petani saat Panen Melon Bersertifikat Prima 3 di UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Horikultura Sidoarjo, Rabu (15/5).

Pesan penting itu diberikan setelah dirinya melihat dan panen langsung melon kualitas ekspor di UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Horikultura Sidoarjo. Ia melihat ada inovasi dan kreatifitas yang luar biasa, sehingga tidak hanya rasanya yang nikmat, tetapi wajah dan bentuknya begitu indah. “Luar biasa, ada melon bentuknya love, kotak, bulat. Warnanya sangat indah, dilihat saya kira plastik, setelah saya pegang ternyata melon beneran. Ini sebuah inovasi luar biasa. Ini namanya Melon Prima,” ujar Khofifah.

    Setelah melihat keberhasilan budidaya Melon Prima, Khofifah mengajak petani, khususnya petani buah melon untuk mulai menanam melon prima. Ini karena harga jual melon prima mencapai tiga kali lipat dari harga melon super, marketnya pun luas dan sangat potensial. Sehingga, diharapkan para petani juga akan semakin meningkat kesejahterannya.

“Harganya dibanding melon biasa sangat jauh, melon dengan sertifikat prima itu harganya tiga kali lipat dari melon super. Jika melon super dijual Rp. 6.000/kg, maka melon prima bisa mencapai Rp 18.000/kg. Ini beda jauh harganya dan kualitasnya,” kata Gubernur

Gubernur mengatakan, untuk menanam melon prima memang membutuhkan tambahan modal. Namun disisi lain, marketnya sangat menjanjikan, apalagi, jika diiringi inovasi dan kreativitas yang unik, seperti buah melonnya dibentuk kotak (square), atau hati (heart), kemudian ditambahkan aksesoris pita, sehingga menjadi lebih eksklusif.

Dengan bertanam melon prima, ia optimistis para petani akan berkontribusi menurunkan angka kemiskinan di pedesaan, serta Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jatim. Saat ini, kemiskinan di pedesaan Jatim masih sebesar 15,2%. Sedangkan sebagian besar profesi masyarakat di pedesaan adalah bertani. “Dari angka itu, kita akan terus mencari dan memaksimalkan titik-titik mana yang bisa meningkatkan pertumbuhan-pertumbuhan baru, termasuk mendorong agar menanam melon prima,” ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu referensi success story bertani melon adalah petani di Plumpang, Tuban. Para petani tersebut rata-rata berusia muda atau masuk generasi millennial. Ketertarikan mereka bertani melon karena nilai tambahnya luar biasa dibandingkan bercocok tanam padi. “Oleh karena itu, inovasi-inovasi sektor hortikultura harus terus kita lakukan, apa yang bisa di create dari produk hortikultura yang indah, akan menambah estetika dari sebuah produk, dan pasti nilai tambahnya juga lebih baik,” terangnya.

Kepala Dinas Pertanian Jatim, Hadi Sulistiyo mengatakan, teknologi pertanaman melon prima di UPT ini dilakukan secara modern, yakni didalam screen house seluas 3.200 m2 dengan jumlah tanaman sebanyak 3.412 tanaman. Screen house ini dilengkapi dengan irigasi tetes, sehingga menghemat biaya pengairan dan mengurangi penggunaan pestisida kimia. Pertanaman dimulai pada 11 Maret 2019, sehingga saat ini siap untuk dipanen.

Melon prima dibudidayakan dengan berpedoman pada standar operasional prosedur (SOP) budidaya yang baik, sehingga produk melon prima UPT ini memperoleh sertifikasi Prima 3. Kebun Lebo juga menjadi tempat edukasi bagi yang ingin belajar tentang pertanian, juga menjadi tempat agrowisata yang banyak dikunjungi oleh pelajar dan mahasiswa, serta masyarakat umum yang dilengkapi dengan fasilitas outbound. (put)

Views 1100
Web Statistic