Dinkes Jatim Bentuk 12 Apoteker Sosialisasikan Penggunaan Obat Secara Rasional

UMUM | 19 May 2017 02:34:31 PM

Dinkes Jatim Bentuk 12 Apoteker Sosialisasikan Penggunaan Obat Secara Rasional
Foto : luk jnr

Jatim Newsroom – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur membentuk sebanyak 12 apoteker untuk menyosialisasikan penggunaan obat secara rasional. Langkah ini dinilai penting agar masyarakat tidak salah dalam penggunaan obat karena bisa berakibat fatal.

“Dua belas ini kita pilih karena mereka memiliki komitmen dan kemampuan mempengaruhi perilaku masyarakat dan tenaga kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat untuk menggunakan obat secara rasional,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan SDK Dinkes Jatim, One Widyawati, Jumat (19/6) di Surabaya.

Ia mengungkapkan pada Kamis (18/5) kemarin, pihaknya mengadakan sosialisasi Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat “GeMa CerMat” di Gedung KPRI Berdikari Kabupaten Bojonegoro. Selain memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat secara rasional, kegiatan GeMa CerMat bertujuan untuk membentuk Agent of Change (AoC).

Dijelaskannya, sosialisasi merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam penggunaan obat. Di antara manfaatnya adalah mengetahui jenis obat yang diperlukan, mengetahui fungsi obat yang dikonsumsi, kapan menggunakan dan kapan waktunya berhenti, efek samping serta siapa saja yang tidak boleh menggunakan obat tersebut.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) 2013, disebutkan sebanyak 5,2 persen Rumah Tangga RT menyimpan obat untuk swamedikasi. Rata-rata persedian obat yang disimpan hampir 3 macam. Dari 35,2 persen RT yang menyimpan obat, proporsi RT yang menyimpan obat keras 35,7 persen dan antibiotika 27,8 persen. 81,9 persen RT menyimpan obat keras dan 86,1 persen RT menyimpan antibiotika yang diperoleh tanpa resep.

Apotek dan toko obat/warung merupakan sumber utama mendapatkan obat (proporsi 41,1 persen dan 37,2 persen). Proporsi RT yang memperoleh obat di apotek lebih tinggi di perkotaan, sebaliknya proporsi RT yang memperoleh obat di toko obat atau warung lebih tinggi di pedesaan.

Menurutnya, pengobatan sendiri (self medication) merupakan upaya yang paling banyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan atau gejala penyakit sebelum mereka memutuskan mencari pertolongan ke pusat pelayanan kesehatan atau petugas kesehatan. “Adanya sosialisasi GeMa CerMat ini juga untuk memastikan bahwa swamedikasi atau self medication dapat dilakukan dengan benar” tambah One.

Seperti diketahui, GeMa CerMat dikuti oleh sebanyak 150 orang dari berbagai kalangan. Dalam kegiatan tersebut perserta menerapkan proses Cara Belajar Insan Aktif (CBIA), peserta dapat lebih aktif mencari informasi mengenai obat yang digunakan keluarga.

Pada kegiatan GeMa CerMat, peserta juga dibekali beberapa ketrampilan meliputi keterampilan tentang Dagusibu yaitu cara memilih, mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang obat dengan benar. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan termasuk obat bebas untuk swamedikasi maupun obat keras (ethical) yang diperoleh melalui resep dokter. (luk)

Views 1941
Web Statistic