Bupati Ponorogo Berharap Masyarakatnya Kurangi Makan Nasi

UMUM | 21 Sep 2018 07:16:31 AM

Bupati Ponorogo Berharap Masyarakatnya Kurangi Makan Nasi

Tumpeng dari telo, Sajian Makanan Pokok Yang berasal dari Non Beras

Jatim Newsroom - Masyarakat Kabupaten Ponorogo diharapkan mengurangi makan nasi, karena kekayaan pangan lokal harus terus digali agar muncul keanekaragaman makanan dan bisa menjadi variasi selain beras. Diversifikasi makanan pokok harus dilakukan agar konsumsi beras menurun.

Hal tersebut disampaiakan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni usai membuka Lomba Cipta Menu Berbasis Pangan Lokal 2018 di Gedung Sasana Praja,Ponorogo Kamis (20/9)

Dikatakannya saat ini komsumsi beras warga Ponorogo masih cukup tinggi. Hampir sama dengan rata-rata konsumsi beras nasional, konsumsi beras warga Ponorogo mencapai 180 kg per kapita per tahun. Sedangkan konsumsi daging hanya sekitar 6-7 kg per kapita per tahun, jauh di bawah konsumsi daging warga di negara-negara Eropa yang mencapai 90 kg per kapita per tahun. “Kalau teralu banyak makan karbohidrat, ini kurang baik. Karena itu gizinya harus ditingkatkan agar warga kita tumbuh sehat. Agar muncul atlet-atlet kelas nasional dan internasional,” papar Ipong.

Lomba Cipta menu menurutnya, adalah ajang yang tepat untuk mengkreasikan berbagai bahan pangan lokal untuk disajikan secara variatif. Bila sudah begitu, maka warga akan mau mengkonsumsi makanan pokok selain beras dan konsumsi beras menurun.

Ketika berkeliling di stan-stan dari ibu-ibu PKK di seluruh kecamatan di Ponorogo yang ada, Bupati sempat mencicipi sejumlah masakan. Dan ia mengapresiasi beberapa variasi makanan pokok yang terbuat dari singkong dan ubi. Luar biasa termasuk ada ‘nasi goreng’ yang terbuat dari pisang kepok.

Lomba ini jangan hanya rutin tahunan, karena kegiatan ini bisa melahirkan menu yang jadi unggulan Ponorogo yang meningkatkan gizi masyarakat. Selain itu juga bisa menjadi ikon Ponorogo selain misalnya pecel, sate, gule dan juga jenang Ponorogo.

Menurutnya melalui kapitalisasi menu lokal sudah harus dilaksanakan di Ponorogo. Olahan yang jadi pemenang seharusnya bisa jadi hidangan di berbagai kesempatan. Baik acara resmi pemerintahan maupun acara tidak resmi di tengah masyarakat. “Saya punya gagasan agar menu yang jadi pemenang tahun bisa disajikan di acara-acara kedinasan. Katering yang jadi mitra bisa minta resep atau belajar ke pemenang lomba agar menunya ya yang berasal dari ibu-ibu PKK kita in bisa diadopsii. Sehingga lomba ada nilai tambah buat kita semua sebagai warga Ponorogo. (ryo/p)

Views 256
Web Statistic