PLN DISTRIBUSI JATIM PASTIKAN PASOKAN LISTRIK DI KANGEAN NORMAL

UMUM | 30 Mar 2011 08:10:52 AM

PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur (Jatim) memastikan pasokan listrik untuk Kepulauan Kangean telah normal, sehingga dipastikan pula tidak akan ada pemadaman dengan jangka waktu lama.

Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Area Distribusi Jatim, Arkad Matulu di Surabaya Selasa (29/3) mengatakan, hingga saat ini pasokan listrik berjalan normal. “Kami memastikan, pasokan akan terus normal sepanjang tidak ada gangguan,” katanya.

 Dikatakan Arkad, gangguan terjadi saat pengrusakan beberapa fasilitas dan kantor PLN Kangean oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Untungnya kejadian itu tidak sampai merusak dua mesin diesel sewa. “Waktu itu petugas mau menghidupkan dua mesin diesel tapi keburu ada penterangan,” terangnya. 

Akibatnya, lanjut Arkat, diesel tidak bisa dihidupkan karena harus menunggu kondisi aman. Namun sejak pertengahan bulan ini, mesin sudah bisa dihidupkan sehingga pasokan menjadi normal.

Kekurangan pasokan listrik di Kangean beberapa waktu yang lalu dikatakan Arkad karena matinya dua mesin disel milik Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kangean. Akibatnya, suply menjadi berkurang. “Saat normal, daya yang dihasilkan PLTD Kangean mencapai 1.560 Kilowatt (KW), sementara beban puncak di sana hanya mencapai 1.330 KW, artinya masih surplus 230 KW. Karena ada dua mesin yang mati, maka pasokan berkurang," tuturnya.

Hingga saat ini jumlah pelanggan di Kangean sebanyak 6.000 pelanggan dengan rata-rata daya yang dikonsumsi sebesar 450 KWH. Sedangkan jumlah daftar tunggu pelanggan baru mencapai 3.000 pelanggan.

Jika tidak segera temukan solusinya, tentang kondisi kebutuhan listrik di Kangean, maka disinyalir  kedepan akan mengakibatkan masalah, karena suply listrik di sana hanya tergantung dari PLTD jika pembangkit ini bermasalah maka bisa dipastikan terjadi pemadaman. Sementara pembangunan jaringan melalui kabel listrik bawah laut tidak mungkin dibuat karena investasi terlalu besar dan tidak sebanding dengan jumlah pelanggan.

Lebih lanjut dikatakan Arkat, jaringan kabel listrik bawah laut hanya bisa dibangun di kepulauan yang jaraknya tidak terlalu jauh, seperti Madura dan Talango Sumenep. Sedangkan untuk wilayah Bawaean dan Kangean yang jaraknya sangat jauh nilai investasi akan membengkak. 

Biaya produksi listrik dengan menggunakan PLTD dikatakan Arkad juga cukup mahal, mencapai Rp 1.500 per KWH, padahal biaya produksi listrik melalui pembangkit jenis lainnya hanya dikisaran Rp 525 per KWH.

Sementara harga jual di sana cukup murah Rp 495 per KWH karena sebagian besar pelanggan di sana adalah pelanggan subsidi dengan daya 450 KWH. Kondisi di sana perlu dibuatkan langkah dan solusi yang tepat, sehingga tidak sampai mengakibatkan masalah. (hjr)

Views 1886
Web Statistic