MUHAMMADIYAH TETAPKAN LEBARAN 10 OKTOBER

UMUM | 06 Sep 2010 02:12:03 PM

Muhammadiyah memastikan lebaran tahun ini atau 1 Syawal 1431 hijiriah jatuh pada Jumat (10/9). Penentuan ini berdasarkan hasil hisab yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tarjid Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Tatim) pada 20 Juni lalu.
    Ketua Majelis tarjid dan Tarjih PWM Jatim, Prof Ali Mufrodi saat di kantornya, Senin (6/9) mengatakan, ijtimak akhir Ramadhan terjadi pada Rabu (8/9) 2010 dan bertepatan dengan 29 ramadhan 1431 hijiriah pukul 17.31 WIB.
    Selain itu, saat matahari terbenam pada Rabu (8/9) pukul 12.29 WIB, hilal (bulan) masih di bawah ufuk antara -2 derajat, 5 menit 53.27 detik sampai dengan -2 derajat, 12 menit, 51 detik. Sedagkan pada kamis saat Magrib diperkirakan ijtimak sudah berada pada + 3 derajat. Untuk itu usia bulan Ramadhan ini genap berusia 30 hari.
Menurutnya ada dua metode dalam menetapkan awal bulan Hijriah, yakni rukyat dan hisab. Keduanya perpijak pada hadist Rosulullah shamu lirukyatihi wa afiru lirukyatihi. Perintah rukyatullah untuk memperoleh kepastian awal Ramadhan dan 1 Syawal, saat itu dilakukan secara langsung dengan mata telanjang.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan selain rukyat bilain dilakukan rukyat bililmi (rukyat dengan perhitungan ilmiah) yang lebih dikenal dengan ilmu hisab atau ilmu falaq.  Dalam sistim rukyat bilain mengharuskan melihat hilal pada tanggal 29 Bulan Qamariyah. Apabila hilal dapat dilihat ketika matahari terbenam malam itu, maka besoknya dinyatakan sebagai bulan baru.
Sejak Muktamar Jakarta 2000, Muhammadiyah memutuskan menggunakan sistem hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal dan mathla nasional. Sebab Muhammadiyah menilai sistim ini yang dinilai dapat memberikan kepastian hukum. Dengan kriteria wujudul hilal, maka ketinggian hilal saat ijtimak tidak lagi dipersoalkan. ”Yang Penting hilal sudah wujud saat terjadi Ijtimak,” katanya.
    Sementara itu, dalam hisab di Indonesia menggunakan dua aliran yakni hisab haqiqi dan hisab urfi. Hisab urfi menggunakan sistem penghitungan kalender yang didasarkan pada peredaran rata-rata bulan mengelilingi bumi dan ditetapkan secara konvensional. Sedangkan hisab Hakiki didasarkan pada peredaran bulan dan bumi yang sebenarnya, bahwa umur setiap bulan tidak sama dan tidak beraturan tergantung pada posisi hilal pada awal bulan.  ”Bisa jadi dua bulan berturut-turut umurnya 29 hari atau 30 hari bahkan bergantian,” katanya.
Menurutnya, pada tahun ini ada kesamaan dalam menentukan awal ramadhan dan 1 Syawal antara PWM, Nahdlatul Ulama, dan pemerintah. Sebab pada Kamis (9/9) puasa yang dijalankan umat muslim sudah 30 hari.(oby)

Views 280
Web Statistic