KENAIKAN HARGA GULA DUNIA PERLU DIWASPADAI

UMUM | 06 Sep 2010 12:56:25 PM

Naiknya harga gula dunia menyusul penurunan bea masuk oleh Rusia diharapkan dapat mendorong penguatan harga gula lokal di Indonesia. Hal ini ditunggu banyak kalangan pergulaan, baik pabrikan maupun petani tebu rakyat mengingat saat ini tengah berlangsung panen raya tebu atau masa giling. 
Sekretaris Perusahaan PTPN XI, Adig Suwandi di kantornya Jl Merak No 1 Surabaya, Senin (6/9) mengatakan, dalam dua pekan terakhir harga gula naik secara signifikan, bahkan pada penutupan Bursa Berjangka London, gula untuk pengapalan Agustus 2010 diperdagangkan pada level USD 571,50 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium).
“Sebagai komparasi, Januari-Februari 2010 lalu, harga gula dunia pernah tembus angka psikologis USD 759 atau tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Tender terakhir gula petani di PTPN XI pekan lalu mencapai angka Rp7.600 per kg,” katanya.                Perubahan iklim berdampak kurang menguntungkan sehingga dimungkinkan terjadinya penurunan produksi di sejumlah kawasan, termasuk Indonesia, selanjutnya diyakini bakal berefek terhadap struktur harga global yang lebih pro produsen. Walaupun demikian, harapan tersebut potensial  kandas kalau gula rafinasi dibiarkan masuk ke pasar eceran dengan memperlakukannya sebagai gula konsumsi.
Selain terjadi kompetisi tidak sehat dengan gula lokal, rembesan gula rafinasi ke pasar swalayan dan tradisional telah menimbulkan kepanikan massal di kalangan komunitas pergulaan. “Kalangan pergulaan berharap pemerintah segera bertindak cepat.  Tidak hanya menarik gula rafinasi pasaran, tetapi juga memberikan sanksi kepada produsen dan distrubutor yang terbukti melanggar ketentuan.  Sesuai Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.527/MPP/Kep/9/2004, gula rafinasi hanya diperdagangkan untuk bahan baku industri makanan dan minuman,” harapnya.
Kalangan produsen gula mendesak Kementerian Perindustrian dan Kementerian  Perdagangan lebih selektif dalam mengeluarkan rekomendasi dan penerbitan  ijin impor raw sugar untuk industri gula rafinasi.  Seleksi juga harus diberlakukan untuk impor gula rafinasi bagi kalangan industri makanan/mimuman. Impor memang harus mengacu kebutuhan riil, bukan kapasitas terpasang pabrik.
Adig menambahkan, dalam waktu dekat harus segera diberlakukan ketentuan bahwa semua industri gula rafinasi harus berbahan baku tebu, tapi bukan impor raw sugar. Ketentuan berbahan baku tebu berlaku mutlak bagi investasi baru, sudah mempunyai pabrik, tapi yang dalam ekspansi kapasitas produksi. (pri)

Views 2293
Web Statistic