NASKAH AKADEMIK PEMBENTUKAN BPBD SEGERA DISELESAIKAN

UMUM | 08 Jan 2009 02:12:55 PM

Rancangan naskah akademik yang telah dikoordinasikan pada rakor di kantor Satkorlak Propinsi Jatim, Rabu (7/1) kemarin dalam rangka pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim akan diselesaikan hari ini. Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat Satpol PP Jatim, Abdul Hamid di kantornya, Kamis (8/1) menjelaskan, dengan penyelesaian naskah ini, rencananya esok segera direkomendasikan pada gubernur yang ditujukan untuk memberikan gambaran mengenai kedudukan, tugas pokok dan fungsi BPBD Jatim. Selain itu, dengan pembuatan naskah ini, nantinya dapat diketahui hubungan tata kerja BPBD dalam pelaksanaan penanggulangan bencana di lapangan. Penanggulangan bencana yang dilakukan selama ini belum dilaksanakan secara maksimal dan masih mengalami tumpang tindih dan lembaga yang mengkoordinasikan bersifat ad hoc non struktural, yakni Satkorlak PBP Jatim. Untuk itu, tanpa mengedepankan ego sektoral dalam penyelesaian bencana, guna menghindarkan kerancuan dan memperoleh efektivitas dalam penanggulangan bencana, perlu disusun suatu rencana terpusat dan terkendali dalam satu kebijakan. Dengan adanya BPBD nanti, diharapkan masing-masing pelaksana teknis penanggulangan bencana dapat melakukan penanganan bencana secara terencana, lebih terkoordinir dan terpadu. Jika awal pelaksanaannya cenderung hanya pada pertolongan dalam tanggap darurat, akan disesuaikan dengan tahapan penanggulangan bencana yaitu kesiapsiaagaan dan mitigasi sebelum terjadi bencana. Selain itu, BPDB juga dapat berperan aktif saat tanggap darurat dan melaksanakan rehabilitasi, serta rekonstruksi pasca bencana. Seperti diketahui, pembentukan ini berdasarkan pada penetapan UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. UU ini merupakan tonggak baru dalam penanganan bencana dan sebagai landasan hukum organisasi yang menangani bencana baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dalam bentuk lembaga struktural. Secara geografis Jatim terletak antara 110-540 hingga 115-570 Bujur Timur dan 5-370 hingga 8-480 Lintang Selatan dengan luas wilayah kurang lebih 47.157,72 Km2 yang terbagi dalam dua bagian, yakni Jatim daratan dan wilayah Kepulauan Madura. Luas daratan hampir mencapai 90% sedangkan luas Kepulauan Madura dan sekitarnya hanya 10% luas Jawa Timur, berada pada jalur strategis lintas Indonesia Bagian Timur dengan batas-batas sebelah utara adalah Laut Jawa, sebelah selatan adalah Samudra Indonesia, sebelah barat adalah Propinsi Jawa Tengah dan sebelah timur Propinsi Bali. Adanya banyak gunung berapi aktif meliputi Gunung Semeru, Bromo, Kelud, Raung, Ijen, Welirang, dan Arjuno yang sewaktu-waktu dapat meletus. Beberapa sungai besar antara lain Bengawan Solo melintasi Kab Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik. Sungai Brantas melintas Kab dan Kota Malang, Kab dan Kota Kediri, Kab dan Kota Blitar, Nganjuk, Jombang , Mojokerto, Surabaya dan Sidoarjo juga rawan terjadi banjir saat hujan deras. Wilayah pantai selatan meliputi delapan kab yang juga rawan terhadap gempa dan tsunami serta masyarakat yang banyak tinggal di lereng-lereng pegunungan, perlu waspada pula terhadap longsor. Pada musim kemarau menimbulkan bencana kekeringan dan kebakaran serta pada pergantian musim yang sering disebut musim panca roba menimbulkan bencana angin topan dan puting beliung. Fakta sejarah telah menunjukkan bahwa bencana sering terjadi di Jatim. Diawal 2008 telah terjadi bencana banjir genangan di daerah aliran Bengawan Solo yang secara beruntun melintasi Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik. Banjir bandang di Bondowoso dan Situbondo menewaskan 14 orang pada Februari 2008. Kejadian bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember pada Januari 2006 melintasi tujuh kecamatan dan menewaskan 119 orang dan ratusan orang yang luka. Sedangkan pada April 2006 juga terjadi bencana banjir bandang dan longsor di Trenggalek yang melintasi 12 kecamatan dan menewaskan 13 orang. Oktober 2007 terjadi pengungsian ribuan masyarakat dari Kediri, Blitar dan Malang akibat dari status awas Gunung Kelud. Selain itu, gempa dan tsunami di pantai selatan Jawa Timur meliputi Banyuwangi, Malang, Jember, Blitar, dan Tulungagung, di samping mengakibatkan meninggalnya lebih dari 336 orang dan merusak perahu milik nelayan dan puluhan rumah roboh tahun 1994. Dengan dibentuknya BPBD Jatim, diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana dan menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu dan terkoordinir, serta menyeluruh, sehingga masyarakat dapat pula mewaspadai terjadinya bencana melalui mitigasi.

Views 1825
Web Statistic