Mahasiswa Manufaktur UBAYA Ciptakan Fluithers Raih Penghargaan Tingkat Internasional

UMUM | 05 Nov 2019 04:30:30 PM

 Mahasiswa Manufaktur UBAYA Ciptakan Fluithers  Raih Penghargaan Tingkat Internasional

Jatim Newsroom- Mahasiswa Program Studi Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) ciptakan Fluithers sebagai alat penghasil listrik. Melalui karya tugas akhirnya (TA) ini, Monica Deta Elysia Roosmadhy sebagai leader bersama timnya berhasil menorehkan prestasi di kancah Internasional dengan meraih Silver Award kategori Higher Institution Students (Science, Engineering & Technology) dalam ajang ‘International Invention & Innovative Competition (InIIC) Series 2/2019’ pada 2 November 2019 di Palace of The Golden Horses, Malaysia.

Monica, mahasiswi semester tujuh ini menjelaskan bahwa Fluid and Thermal Energy Resource System atau disingkat Fluithers merupakan sebuah alat penghasil listrik dari energi terbuang Air Conditioner (AC) menjadi energi terbarukan yang dapat digunakan oleh masyarakat. Pembuatan Fluithers berangkat dari ketertarikan mahasiswi kelahiran Tangerang tahun 1998 pada energi. Ide konsepnya berawal dari hal yang sederhana dengan memperhatikan sisi pembuangan AC yang tidak terpakai dan menghasilkan angin panas. Dirinya berpikir bahwa panas atau energi kalor dan angin yang memiliki energi kinetik dapat diubah menjadi energi listrik.

“Senang dan bangga ide saya bisa diapresiasi di tingkat Internasional. Ini artinya Fluithers memiliki nilai jual dan bermanfaat bagi masyarakat. Saya melihat kebutuhan masyarakat sungguh besar pada energi listrik, namun saat ini fosil sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik telah mencapai batasnya. Kemudian saya muncul ide untuk mengubah angin panas yang terbuang pada AC menjadi listrik sehingga bisa digunakan kembali oleh masyarakat,” jelasnya.

Herman Susanto, S.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing sekaligus Dosen Program Studi Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Ubaya menuturkan bahwa pembuatan Fluithers berfokus pada penggunaan wind turbine dan termoelektrik dalam menghasilkan energi listrik. Wind turbine digunakan untuk mengubah angin menjadi energi listrik. Sedangkan termoelektrik untuk mengubah panas menjadi energi listrik.

Output energi bisa langsung diaplikasikan pada lampu atau alat listrik yang lain. Keunggulannya yang lain adalah alat ini bisa menyimpan energi pada baterai. Jadi desain yang kami buat capable untuk langsung digunakan atau disimpan,” ucap Herman, di Surabaya, Selasa (5/11).

Pembuatan konsep dan proses merancang alat dilakukan oleh Monica dimulai pada bulan Agustus. Selama kurang lebih tiga bulan dalam merancang alat, mahasiswi yang gemar kuliner ini mengaku sering menemui tantangan dan kendala saat pembuatan alat khususnya dalam mencari baling-baling yang pas sesuai kecepatan angin dalam menghasilkan listrik.

“Cari baling-baling itu susah karena jenisnya beragam. Kemudian saya mencari jenis baling-baling yang bisa memutar cepat sesuai kecepatan angin 7,59 m/s. Akhirnya saya menggunakan baling-baling horizontal. Kesulitan yang lain ketika mengetahui bahwa angin outdoor AC itu tidak bulat dan hanya berada dipinggir. Jadi saya harus berpikir bagaimana cara menangkap energinya sehingga nanti bisa menjadi listrik,” ungkap mahasiswi yang berusia 21 tahun ini.

Monica bersama timnya yang terdiri dari Harda Grahita, Michelle Grace Firensen, Cindi Friskila Andreline, dan Xaverio Anggara Nugroho berhasil membawa pulang piala, sertifikat, dan sejumlah uang. Mereka akan menyempurnakan dan mengembangkan Fluithers agar menjadi alat penghasil listrik yang baik untuk digunakan oleh masyarakat luas.

“Saya berharap Fluithers bisa diperjualbelikan dan menjadi alat wajib bagi orang-orang yang memiliki AC. Semoga dengan hadirnya Fluithers maka masyarakat juga dapat menghemat biaya listrik dan energi rumah tangga,” tutup Monica. (mad)

Views 4672
Web Statistic