Kerajinan Kulit Magetan Jadi Incaran

Laporan Utama | 29 Nov 2016 08:43:27 AM

Kerajinan Kulit Magetan Jadi Incaran

Kabupaten mungil yang terletak di ujung barat Provinsi Jawa Timur ini memang tidak setenar Jember, Banyuwangi, Batu, atau Surabaya. Kalaupun orang ditanya Magetan, pasti yang diingat Telaga Sarangan.   

Padahal Kabupaten yang memiliki luas 688,85 km2 ini punya keunggulan selain sektor wisata, yakni kerajinan kulit. Ada sejak 60an silam, kerajinan tangan berbahan dasar kulit sapi ini terbukti semakin berkembang, bahkan mampu bersaing dengan daerah lain seperti Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Tanggerang, Cibaduyut Bandung .     

Bagi anda yang berwisata di Kabupaten Magetan, rasanya akan tidak lengkap apabila belum singgah ke Sentra Industri Kerajinan Kulit Magetan yang berada di jalur perjalanan menuju obyek wisata Telaga Sarangan. Tepatnya di Jl Sawo, Kelurahan Selosari, kurang lebih 1 Km arah barat dari alun-alun Kabupaten Magetan.

Sepanjang memasuki kawasan ini pengunjung akan dimanjakan dengan deretan toko kerajinan kulit yang memajang berbagai model sepatu, sandal, tas, jaket, ikat pinggang, dan berbagai aksesori kulit lainnya dengan kisaran harga terjangkau.

Kerajinan kulit Kabupaten Magetan cukup dikenal di Indonesia, selain daerah Cibaduyut Bandung, Tanggerang, dan Tanggulangin di Sidoarjo. Keseriusan pemerintah setempat dalam merintis usaha pengolahan kulit menjadi barang-barang kerajinan terlihat  dengan mendirikan LIK (Lingkungan Industri Kulit).

LIK mengolah kulit sapi menjadi bahan-bahan kulit setengah jadi yang selanjutnya akan didistribusikan ke para perajin kulit di Kabupaten Magetan. Dengan kebutuhan kulit yang semakin meningkat, LIK juga telah memasok kebutuhan kulit keluar Kabupaten Magetan.

Dijadikannya Jalan Sawo sebagai sentra kerajinan kulit bukan tanpa alasan.  Pemerintah Magetan ingin para wisatawan sebelum atau sesudah mengunjungi Telaga Sarangan, dapat singgah ke lokasi ini untuk melihat berbagai macam produk kerajinan kulit ini. Produk kerajinan kulit yang dipajang di etalase toko sepanjang Jalan Sawo akan menjadi pesona wisata belanja tersendiri bagi yang datang. Tak heran jika akhir pekan, liburan sekolah, atau hari libur nasional tempat ini dipadati para pelancong.

Dampak ramainya sentra kerajinan kulit sangat dirasakan para perajin, salah satunya Suparni (58 tahun) yang mengaku perbulannya mendapatkan tak kurang dari Rp50 juta. “Pembelinya bisa dari daerah sekitar Magetan seperti Madiun, Kediri, Probolinggo, dan Blitar juga banyak yang datang dari luar provinsi seperti Wonogiri, Kalimantan, Jakarta, dan Bali,” kata Suparni.      

Pemilik UD Sempurna ini mengaku sangat bersyukur usaha yang dirintis sejak 22 tahun silam ini membuahkan hasil, bahkan bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus perguruan tinggi.”Awalnya dulu mudal saya hanya Rp5 juta, alhamdulillah bisa bertahan sampai sekarang,” kata bapak tiga anak ini sambil menunjukkan beberapa produk sepatu kulitnya.  

            Lelaki asal Desa Selosari Kabupaten Magetan ini lantas menceritakan awal menggeluti usaha ini. Menurutnya sebelum buka sendiri, Suparni belajar dari kakak iparnya tentang usaha dan pembuatan sepatu maupun sandal kulit. “Setelah dirasa mampu, kakak ipar berani melepas saya untuk buka usaha sendiri, bahkan ia juga yang memberikan pinjaman modal,” tuturnya.     

            Usaha yang dirintis bersama istrinya ini sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil dan terus berkembang sehingga mampu merekrut karyawan dari tetangga sekitarnya. “Meski tidak terlalu banyak, tetapi ada saja yang menyukai dan beli sepatu saya,” ungkap kakek tujuh cucu ini.

            Bisnis usaha tak selamanya mulus, ‘pasang surut’ juga dialami Suparni. pada 1998 pasca reformasi, lelaki pemalu ini sempat menutup usahanya akibat Krisis Moneter (Krismon) yang melanda Indonesia satu persatu karyawannya harus diberhentikan akibat tidak mampu membayar. ”Saat Krismon sangat sulit menjual sepatu, jangankan mengirim ke luar kota, dijual di sini saja tidak laku, karena itu saya hentikan produksinya,” kenang Suparni.

            Karena tidak ingin terus terpuruk, Suparni dibantu Vivin Racmawati (32) putri pertamanya lantas perlahan tapi pasti menjalankan bisnis ini kembali. Berbekal pinjaman bank dengan bunga ringan, Suparni kembali bangkit dan terus berkembang hingga saat ini. Sekarang Suparni beserta keluarga punya 18 karyawan dengan produksi sepatu mencapai 30-50 pasang perharinya.

             “Kami sebagai putera daerah Kabupaten Magetan, bertekad dengan cita-cita yang besar ingin berkontribusi pada membangun daerah. Tentu saja diperlukan gerakan dari kita semua untuk memajukan industri dan perkonomian. Cara sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan mencintai produk dalam negeri daripada memilih produk-produk buatan luar negeri,” ungkap Vivin.

            Ibu dua anak ini menuturkan, meskipun harus bersaing dengan para pengrajin lainnya, Vivin optimis akan menemukan cara agar usaha keluarganya ini bisa berkembang, karena sampai saat ini metode penjualannya masih manual belum mengandal fasilitas internet.

“Melihat semakin banyaknya para pengrajin, kami harus siap bersaing caranya menjalin hubungan dengan para konsumen agar tetap mau menjadi pelanggan,” ungkapnya.

 

Manfaatkan IT

Guna pengembangan pemasaran produknya alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini sejak awal tahun ini mulai memanfaatkan teknologi internet sehingga pelanggan dari luar Jawa seperti Halmahera, Lampung, Jayapura, kalimantan, dan Maluku dapat terlayani.

“Sebagian besar pelanggan kami dari kalangan guru dan siswa sekolah. “Memang sepatu produksi kami kebanyakan modelnya untuk kantoran, guru maupun siswa sekolah,” tambahnya.

Selain melayani pembeli yang datang ke toko, Vivin mengaku juga melayani para tengkulak baik yang berasal dari Jatim maupun provinsi lain. ”Kami juga menerima produk kerajinan dari masyarakat sekitar, kami bantu memasarkannya,” imbuh Vivin.

Lebih lanjut lulusan Fakultas Ekonomi Unair ini mengaku sangat bersyukur atas dukungan pemerintah daerah dan pusat seperti bantuan mesin maupun permodalan dengan bunga ringan.

 “Pemerintah daerah juga mengadakan pelatihan pembuatan dan pengembangan desain kerajinan kulit hingga cara memasarkannya, kami juga sering diikutkan dalam berbagai pameran dan studi banding ke daerah lain,” terangnya.(hjr,ern)

Views 301087

 

 

Web Statistic