Dupa Malang Memasok Bali

Laporan Utama | 27 Dec 2016 11:05:03 AM

Dupa Malang Memasok Bali

Mungkin beum banyak yang tahu di Kabupaten Malangterdapat belasan industri rumah tangga yang memproduksi dupa. Industri ini tepatnya berada di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir. Yang menarik, industriini mempunyai omzet penjualanRp 300 juta per bulan. Padahal masih dikelola secara tradisional dengan peralatan manual.

Tingginya semangat para pengusaha,tak lepas dari bagusnya pangsa pasar dupa. Permintaan dupa dari kota-kota besar di Indonesia sangat besar. “Dupa dari Dalisodo kami kirim ke pembeli di Surabaya dan Bali,” ucap Mulyono salah satu pengusaha.

Kalangan masyarakat Tionghoa maupun penganut Hindu, kerapkali menggunakan dupa sebagai pelengkap ibadahnya. Ibarat makan tiga kali sehari, begitu pula kebutuhan dupa. Bali paling besar konsumsi dupa. Maka Malang menjadi produsen dupa untuk memasok kebutuhan Bali.

Seperti diceritakan Mulyono, industri dupa diawali dari usaha masyarakat desa sebagai perajin kayu tahun 1970-an.Setelah para pemudanya berkunjung ke Bali, ada keinginan untuk belajar memproduksi dupa karena permintaan di Bali cukup banyak. Sejak itulah, warga desa Dalisodomenekuni bisnis ini. Apalagi ketersediaan bahan bakunyadi Malang sangat melimpah. Misalnya bambu sebagai bitingan (tangkai) dupa. Juga serbuk kayu sebagai bahan campuran dupa.

Mulyono menyebut ketersediaan bahan ini membuat produksi masyarakat desa  tergolong besar. “Di desa ini ada sekitar 25 industri dengan 150 pekerja yang mampu  memproduksi 7 tondupa per hari,“ ujarnya.

Proses pembuatan dupa sangat mudah. Secara manual atau memakai mesin. Pembuatan dimulai dari pembuatan bitingan dengan ukuran 22 cm, 28 cm, 32 cm atau 36 cm.  Bagian bawah bitingan diberi warna untuk batas isian dupa dengan gagang.Merah atau hitam. Kecuali ada permintaan khusus. Setelah itu dijemur 6-8 jam.

Setelah itu, melalui olahan kalsium, serbuk pohon hingga soda api yang terdiri dari tiga tahap. Perlu kecermatan, bila tidak dupa akan susah dibakar atau justru tidak bisa dibakar. Setelah itu dianginkan agar kering, sebelum dipak.

Pengiriman berlangsung seminggu sekali. Dalam sebulan rata-rata antara 4-5 kali pengiriman, dengan omzet per home industri di kisaran Rp 30-40 juta tiap pengiriman. ‘’Yang pasti tiap minggu pasti kirim ke Bali,’’ ujarnya. Permintaan meningkat hingga 50 persen menjelang hari raya Nyepi. Ini membuat pegawai harus lembur.

Pengalaman yang sama dialami Nain Sucipto, perajin dupa desa Dalisodo. Ia juga kebanjiran order jelang akhir tahun ini.  Seiring order meningkat, kendala meningkat juga. Ia mesti berjuang keras karena saat ini musim hujan. Padahal, pengusaha dupa sangat membutuhkan panas matahari. Akibat musim hujan, produksi dupanya perlu waktu dua hari agar dapat dikemas."Biasanya sehari sekali," katanya.

Untuk mengatasi, ia  sudah menyiapkan banyak stok sebelum musim hujan datang. Dalam sehari ia bisa memproduksi 1 kuintal. Menjelang Nyepi ini, dalam sepekan ia bisa mengirim 160 karung ke Bali. Ada 40 Kg dupa dalam satu karung. Satu karungnya dihargai Rp 240.000. Itu belum termasuk pasokan dari perajin lain di Dalisodo.

 

Rencana Ekspor

Saat reporter Majalah Potensiberkunjung ke Desa Dalisodo, para pekerja sedang sibuk membuat dupa. Cuaca begitu cerah. Dari tempat itu, pemandangan Kota Malang terlihat jelas. Sementara, puncak Mahameru menjulang tinggi membelakangi Kota Malang. Seorang buruh sibuk mengumpulkan dupa dari tempat jemuran. Ia lantas mengikat dupa itu satu per satu. Satu ikat ada sekitar 750 dupa.

Apa ada niat melebarkan sayap distribusinyake luar negeri? “Ingin sekali. Sudah ada penawaran untuk pengiriman ke wilayah Asia.  Thailand dan Myanmar menawari. Tetapi belum siap produksi bila dalam waktu dekat,’’ katanya.

Mulyono mengakui bahwa para perajin mempunyai keterbatasan peralatan.  Bahan baku pembuatan dupa masih impor dari China. Pengusaha sudah dibantu mesin serut biting oleh Kementerian Kehutanan melalui dinas Kehutanan Pemkab Malang.

Kelompok tani berharap ada bantuan peralatan,  seperti mixer untuk mencampur bahan baku dan mesin pembuat dupa. “Kami tidak mampu beli peralatan itu. Sebab harganya sekitar Rp 60 juta,” ujarnya.

Puluhan home industri dupa Desa Dalisodo daam beberapa tahun terakhir ini bergantung pada impor kayu lidi dari Cina dan Vietnam. “Kementerian Kehutanan telah membantu mesin pembuat bahan baku perajin guna mengurangi ketergantungan impor. Dua mesin untuk perajin Kayu Porang dan dua mesin untuk desa Dalisodo,“ujar Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Malang, Djaka Ritamtana.      

Djaka menegaskan, pihaknya sudah menampung seluruh keluhan pengusaha. Intinya, mereka meminta peralatan mixer dan mesin dupa.“Selain agar pendapatan bertambah, kami berharap juga bisa memperbesar peluang kerja. Artinya, sektor usaha pembuatan dupa bisa lebih banyak mengurangi pengangguran  di desa ini,”ujarnya.

Ia menambahkan pemberian mesin serut kayu untuk lidi dupa di Desa Dalisodo dan mesin tanaman porang di Kabupaten Malang sebagai program Departemen Kehutananuntuk merevitalisasi Industri kehutanan. Peralatan dan mesin pengolahan hasil hutan dibuat oleh CV Garis Bumi Mandiri yang telah diuji coba oleh Litbang Kehutanan.

“Masyarakat desa masih membutuhkan beberapa mesin pembantu lagi. Kami memiliki keterbatasan alat untuk bisa memberikan zat pengharum,” jelas Mulyono, pengusaha dupa.(mad)

Views 67688

 

 

Web Statistic